Nostalgia Hutan Tinjomoyo Semarang: Dulu Bonbin, Kini Jadi Tempat Trekking

Nostalgia Hutan Tinjomoyo Semarang: Dulu Bonbin, Kini Jadi Tempat Trekking

Arina Zulfa Ul Haq - detikJateng
Senin, 23 Mar 2026 08:30 WIB
Suasana Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang yang kini menjadi tempat trekking. Foto diambil Senin (9/3/2026).
Suasana Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang yang kini menjadi tempat trekking. (Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng)
Jakarta -

Hutan Wisata Tinjomoyo menyimpan banyak kenangan bagi warga Kota Semarang. Dulu, tempat ini ramai pengunjung yang hendak ke kebun binatang (bonbin), kini sebagian besar area itu menjadi hutan terbengkalai yang digunakan untuk kemah hingga trekking.

Pantauan detikJateng di Hutan Wisata Tinjomoyo, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, dari depan gerbang tampak wisata tersebut tutup. Portal menutupi akses masuk, jendela loket tempat membeli tiket pun sudah tutup.

Begitu memasuki kawasan Hutan Tinjomoyo, pepohonan yang rindang langsung menyambut di setiap sudutnya. Membuat suasana terasa sejuk dan teduh. Beberapa patung hewan tampak rusak, kusam, dan beberapa titik di antaranya dipenuhi lumut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tampak papan bertulisan 'Tinjomoyo' berdiri di pinggir jalan beraspal yang masuk ke kawasan hutan.Di lokasi outbound, jalan dipenuhi bebatuan dan dikelilingi pepohonan tinggi Tak terlihat ada aktivitas manusia, semenetara sejumlah fasilitas lamanya tampak terbengkalai.

ADVERTISEMENT

Sebuah shelter atau tempat berteduh yang bertuliskan 'Shelter 33' rusak tertimpa batang pohon besar yang tumbang. Rangka besi dan atapnya terlihat ringsek, sementara area di sekitarnya dipenuhi semak dan ranting pohon, menggambarkan minimnya perawatan di bagian dalam hutan.

Sementara di bagian jalan utama, tampak jalanan sudah dibeton. Naik sedikit ke atas, terlihat ada makam umum bertuliskan 'Makam Tinjomoyo'. Tanpa ada pembatas, jalanan sudah langsung menuju perkampungan warga.

Shelter atau tempat berteduh yang bertuliskan 'Shelter 33' rusak tertimpa batang pohon tumbang.Shelter atau tempat berteduh yang bertuliskan 'Shelter 33' rusak tertimpa batang pohon tumbang. Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Salah satu warga setempat, Mardiyah (70), mengenang masa ketika Tinjomoyo masih menjadi kebun binatang dan ramai oleh pengunjung. Dulunya, Mardiyah menjadi salah satu pedagang yang berjualan di sana.

"Kalau dulu waktu masih jadi bonbin saya jualan di sana. Ya sampai sekarang, cuma sekarang puasa jadi jualan di rumah," kata Mardiyah saat ditemui detikJateng di rumahnya yang tak jauh dari lokasi, Senin (9/3/2026).

"Dulu ramai sekali. Saya jualan sampai malam kalau ada acara atau kemah. Kalau Lebaran malah panen pembeli," katanya.

Ia mengenang masa-masa keemasan kebun binatang di Tinjomoyo selalu ramai. Namun, sekitar tahun 2007 kebun binatang dipindah ke Mangkang, sehingga aktivitas ekonomi warga pun ikut menurun.

"Dulu komplet banget itu hewan-hewannya. Kalau sekarang sudah tidak seramai dulu. Biasanya dibuat kemah, trekking. Dulu kalau ada pengunjung atau acara banyak yang beli di warung," ujarnya.

Salah satu warga, Widyatmoko (34), juga mengenang suasana Tinjomoyo saat masih menjadi kebun binatang pada awal 2000-an. Ia mengaku sempat berkunjung ke sana saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Dulu waktu kecil pernah ke sana, mungkin kelas 1 atau kelas 2 SD. Rasanya benar-benar seperti di alam liar, karena pohonnya alami semua. Jalan-jalan di Tinjomoyo itu pokoknya enak, suasananya adem gitu lah," kata Widyatmoko kepada detikJateng.

Menurutnya juga, saat itu koleksi satwa di Tinjomoyo cukup lengkap. Pengunjung bisa melihat berbagai hewan hanya dengan membayar tiket sekitar Rp 2 ribu.

"Kalau dulu hewannya masih lengkap. Ada singa, gajah, jerapah, buaya. Kandang-kandangnya itu sebagian masih ada sampai sekarang di Tinjomoyo," ujarnya.

Sayangnya, kebun binatang tersebut kemudian dipindahkan usai bencana banjir bandang di Kali Garang pada awal 2000-an. Imbas banjir itu merusak akses utama menuju kawasan tersebut.

"Setahu saya dulu ada banjir bandang Kali Garang. Jembatan utama putus, tanahnya juga banyak yang bergerak. Akhirnya kebun binatang dipindah," jelasnya.

Suasana Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang yang kini menjadi tempat trekking. Foto diambil Senin (9/3/2026).Suasana Hutan Wisata Tinjomoyo Semarang yang kini menjadi tempat trekking. Foto diambil Senin (9/3/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng

Kini Hutan Tinjomoyo lebih banyak dimanfaatkan sebagai kawasan wisata alam. Pengunjung datang untuk berjalan kaki, trekking hingga mengikuti berbagai kegiatan komunitas.

"Sekarang lebih sering buat trekking atau event-event kayak jungle run. Bagus juga supaya masyarakat tahu kalau di Semarang masih ada hutan alami," katanya.

Keberadaan hutan itu dinilai penting sebagai paru-paru kota. Ia berharap, kawasan itu tetap dijaga agar tidak beralih fungsi.

"Kalau bisa area hutannya dibatasi dengan jelas, supaya nggak diklaim orang atau malah dimanfaatkan untuk hal lain yang bisa merusak hutan," ujarnya.

Kenangan serupa juga diceritakan Umar (48), warga Semarang Tengah. Ia mengatakan kawasan Tinjomoyo dulu terasa lebih sejuk dan asri dibanding kebun binatang yang ada saat ini.

"Dulu adem banget di sana, cocok buat edukasi anak-anak. Aksesnya juga lebih dekat dari pusat kota dibanding kalau ke Mangkang," kata Umar kepada detikJateng.

Ia mengenang terakhir kali datang ke Tinjomoyo sekitar 2003, tak lama sebelum kebun binatang tersebut dipindah.

"Waktu itu masih ada pertunjukan juga, kayak gajahnya dirantai gitu tapi ya kasihan. Terus dulu tiketnya kalau nggak salah sekitar Rp 5 ribu," tutupnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: 36 Biksu Thudong yang Jalan Kaki dari Thailand Telah Sampai di Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(azu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads