Tumenggung Bahurekso adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kerajaan Mataram yang berperan sebagai panglima perang sekaligus gubernur pesisir Jawa Utara. Dari catatan resmi Pemerintah Kabupaten Kendal, Bahurekso dikenal sebagai sosok yang bersahaja, tetapi strategis dalam mengelola wilayah dan pertahanan.
Kedekatannya dengan Sultan Agung Hanyokrokusumo menempatkan Bahurekso sebagai kunci utama kala menghadapi ancaman Belanda melalui VOC. Posisi Kendal di Kaliwungu, yang dipilih Bahurekso sebagai pusat pemerintahan, memberikan keuntungan geografis dan strategis dalam pembangunan armada laut dan pertahanan pesisir.
Sejarah menceritakan sejak muda, Bahurekso sudah terbiasa dengan tugas berat. Dilansir buku Sejarah 2 SMP Kelas VIII karya Prawoto, diketahui bahwa Sultan Agung menaruh kepercayaan penuh pada Bahurekso untuk mengatur pengiriman utusan, mengawasi pelabuhan, dan memimpin pasukan dalam menghadapi VOC. Keteladanan dan keberanian Bahurekso menjadi simbol perlawanan lokal terhadap monopoli dagang Belanda yang semakin menekan pedagang lokal di Jepara dan pesisir utara Jawa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, menurut uraian di buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein, Bahurekso tidak hanya berperan dalam bidang militer dan pemerintahan, tetapi juga berkontribusi dalam pengembangan pusat-pusat keagamaan di Kendal. Meski catatan masjid tidak selalu menyebutkan namanya secara langsung, kontribusinya dalam membangun fasilitas dan mendukung ulama setempat menunjukkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan spiritual masyarakat.
Pusat pemerintahan di Kaliwungu menjadi saksi bagaimana Bahurekso mengelola administrasi wilayah yang luas, termasuk daerah Batang, Pekalongan, dan pesisir utara Jawa. Penempatan pasukan di desa-desa strategis, seperti Magangan dan Plantaran, menunjukkan kemampuan Bahurekso dalam memadukan pertahanan militer dengan pengembangan wilayah.
Keberhasilan ini menjadikan Tumenggung Bahurekso sebagai tokoh yang dihormati baik oleh Sultan Agung maupun masyarakat lokal. Posisi strategis Kendal sebagai pusat pemerintahan dan pelatihan armada laut membuktikan bahwa Bahurekso bukan sekadar panglima perang, tetapi juga arsitek pembangunan administratif dan pertahanan Mataram di pesisir utara Jawa.
Lantas, siapa sebenarnya Tumenggung Bahurekso itu? Bagaimana sepak terjangnya semasa hidup? Simak selengkapnya di bawah ini.
Latar Belakang dan Keturunan Tumenggung Bahurekso
Menurut catatan Pemerintah Kabupaten Kendal, Bahurekso lahir dari garis keturunan bangsawan yang memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan Mataram melalui pihak ibu. Ia adalah cicit Puteri Bondan Kejawan dan Ki Ageng Ngerang, sehingga memiliki kedekatan dengan Pangeran Benowo dari Pajang. Dari masa mudanya, Bahurekso sudah dilatih dalam bidang kanuragan dan keprajuritan, yang kemudian membantunya menguasai wilayah Kendal dan sekitarnya.
Dalam catatan Prawoto, Bahurekso mendapat pengangkatan resmi sebagai Adipati Kendal pada tahun 1614. Sebelumnya ia telah terbukti kemampuannya dalam membuka hutan Roban dan Gambiran untuk dijadikan lahan pertanian dan pemukiman. Keberhasilan ini tidak hanya menguatkan posisinya di mata Sultan Agung, tetapi juga membangun tatanan administrasi dan pertahanan yang kuat di pesisir utara Jawa.
Buku Masjid-Masjid Bersejarah di Indonesia juga menyebutkan peran Bahurekso dalam mendukung ulama dan pembangunan masjid sebagai pusat pendidikan dan spiritual masyarakat. Meskipun catatan tidak langsung menyebutkan namanya, kontribusinya terlihat dari pertumbuhan aktivitas keagamaan di wilayah Kendal dan sekitarnya.
Keturunan Bahurekso, seperti yang tercatat dalam arsip Kendal, juga memainkan peran penting dalam kelanjutan pemerintahan. Putranya, Bagus Menot, sempat menjadi pewaris kadipaten, meskipun menghadapi ancaman dari kerabat dan Belanda. Kisah ini menunjukkan bagaimana keluarga Bahurekso mempertahankan kekuasaan dan kehormatan di tengah gejolak politik dan perang.
Dengan latar belakang yang kuat dan keterampilan militer yang mumpuni, Bahurekso membangun fondasi yang memungkinkan Kendal dan pesisir utara Jawa menjadi pusat pertahanan sekaligus pusat administrasi penting bagi Kerajaan Mataram.
Peran Strategis Tumenggung Bahurekso Melawan VOC
Bahurekso diberi tanggung jawab mengawasi perdagangan dan armada laut pesisir utara Jawa, termasuk pelabuhan Jepara, yang menjadi titik konflik dengan VOC. Catatan Prawoto menjelaskan bahwa pada tahun 1618, pasukan Bahurekso menyerbu kantor dagang VOC di Jepara sebagai respons atas penindasan pedagang lokal dan kekerasan yang dilakukan Belanda.
Pemerintah Kabupaten Kendal menekankan pentingnya posisi Kendal di Kaliwungu. Dari sini, Bahurekso memimpin latihan prajurit di Magangan dan Plantaran, serta menempatkan pangkalan laut di Ngeboom dan Sabetan. Strategi ini memastikan pertahanan pesisir tetap kokoh dan mampu menahan serangan VOC, termasuk serangan tahun 1619 yang dipimpin 400 prajurit Belanda.
Dukungan Bahurekso kepada ulama lokal juga berperan dalam menjaga moral dan koordinasi masyarakat selama konflik. Ulama menjadi mediator dan penguat semangat masyarakat dalam mempertahankan wilayah dari monopoli dagang Belanda.
Bahurekso mengatur komunikasi antara Sultan Agung dan para duta VOC. Semua negosiasi dagang harus melalui persetujuannya, menandakan posisi strategisnya yang kritis. Keberanian dan ketegasannya dalam menghadapi VOC membuatnya dihormati dan ditakuti, baik oleh pihak Belanda maupun masyarakat setempat.
Konflik ini menandai awal perlawanan sistematis Mataram terhadap VOC. Keberhasilan Bahurekso dalam mempertahankan wilayah dan mengatur armada laut menunjukkan bahwa ia bukan hanya panglima perang, tetapi juga perencana strategis yang memahami politik, perdagangan, dan militer.
Bahurekso Sebagai Administrator Pembangunan Wilayah
Tumenggung Bahurekso juga dikenal sebagai pengelola wilayah yang cerdas. Dari catatan Pemerintah Kabupaten Kendal, ia berhasil membangun sistem administrasi di Kendal, Batang, dan Pekalongan, termasuk penataan pemukiman hasil pembukaan hutan Roban dan Gambiran.
Prawoto menyebutkan bahwa Sultan Agung menaruh kepercayaan penuh pada Bahurekso untuk menunjuk pejabat lokal, termasuk Mandurorejo yang kemudian menjadi adipati Batang. Hal ini menunjukkan bahwa Bahurekso berperan sebagai penghubung antara kerajaan pusat dan daerah, sekaligus memastikan stabilitas politik di pesisir utara Jawa.
Dalam buku Abdul Baqir Zein, dijelaskan bahwa pembangunan masjid dan fasilitas keagamaan juga mendapat perhatian dari Bahurekso. Masyarakat setempat dibimbing melalui pendidikan agama dan kegiatan sosial, menunjukkan kombinasi peran militer, administrasi, dan spiritual yang ia lakukan.
Kendali Bahurekso atas armada laut juga memudahkan distribusi logistik dan keamanan perdagangan. Pelabuhan di Ngeboom dan Sabetan menjadi titik penting untuk mobilisasi pasukan serta perlindungan pedagang dari ancaman VOC.
Secara keseluruhan, kombinasi keahlian militer, kemampuan administratif, dan dukungan terhadap kehidupan keagamaan menjadikan Bahurekso sebagai tokoh yang integral dalam pembangunan dan pertahanan wilayah Mataram.
Warisan dan Penghormatan Tumenggung Bahurekso
Akhir hidup Tumenggung Bahurekso terjadi pada 21 Oktober 1628 saat gugur melawan tentara VOC di Batavia. Pemerintah Kabupaten Kendal mencatat pengabdiannya hingga akhir hayat meninggalkan jejak yang kuat bagi tatanan pemerintahan dan pertahanan pesisir utara Jawa.
Buku Prawoto menekankan bahwa Sultan Agung memberikan penghargaan besar atas jasa Bahurekso, termasuk penunjukan putra dan pengikutnya untuk melanjutkan pemerintahan di daerah yang telah dibangun. Warisan ini mencakup wilayah Kendal, Batang, dan Pekalongan yang tetap menjadi pusat pemerintahan lokal selama beberapa generasi.
Abdul Baqir Zein menyoroti kontribusi Bahurekso terhadap pengembangan masjid dan pusat pendidikan Islam, yang menunjukkan kepedulian sosial dan spiritual. Meskipun peperangan dan administrasi menjadi fokus utamanya, Bahurekso juga memastikan bahwa masyarakat tetap mendapat bimbingan agama dan pendidikan.
Kisah keteguhan dan strategi Bahurekso menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Pengaturan wilayah, pertahanan laut, dan dukungan terhadap ulama membuktikan bahwa kepemimpinannya efektif dalam menjaga integritas Mataram dari ancaman asing.
Dengan penghormatan yang luas dari masyarakat dan pengakuan resmi pemerintah, Tumenggung Bahurekso tetap dikenang sebagai panglima perang, gubernur pesisir, dan tokoh strategis yang membela tanah Jawa dari monopoli VOC.
Keberanian dan keteguhan Bahurekso dalam menghadapi VOC menjadi simbol perlawanan rakyat Jawa terhadap monopoli dagang asing, sekaligus contoh kepemimpinan yang bijak dan visioner. Warisan strateginya, baik dalam pembangunan wilayah maupun dalam penguatan kehidupan spiritual masyarakat, tetap dikenang hingga kini.
Dengan menghargai perjuangan dan kontribusinya, sosok Tumenggung Bahurekso mengingatkan kita bahwa keberanian, kecerdikan, dan kepedulian terhadap masyarakat merupakan fondasi penting dalam menjaga kedaulatan dan identitas suatu bangsa. Sejarahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk meneladani kepemimpinan yang penuh integritas, keteguhan, dan kasih sayang terhadap sesama.
Demikian sekilas mengenai Tumenggung Bahurekso, panglima perang Mataram dan sepak terjangnya. Semoga menambah wawasan detikers, ya!
Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di BeritaKlik
(num/ams)
