Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melayangkan ancaman kepada Iran. Ia mengancam bakal membombardir jembatan hingga pembangkit listrik jika Iran tidak membuka Selat Hormuz paling lambat hari ini.
Dilansir Al Jazeera via detikNews Senin (6/4/2026), Trump menyatakan bakal menggempur segala infrastruktur sipil Iran pada Selasa (7/4) besok. Serangan akan dilancarkan bila Teheran tidak segera membuka Hormuz.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat s** itu, dasar b* g**, atau kalian akan hidup di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah," kata Trump dalam unggahan Truth Social.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beri Deadline 10 Hari
Pada 26 Maret, Trump sempat memberi tenggat waktu 10 hari kepada Iran untuk mengaktifkan lagi Hormuz. Diketahui, perairan yang menjadi jantung perdagangan energi dunia itu ditutup Teheran buntut serangan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.
Kepada Fox News, presiden 79 tahun tersebut mengklaim Iran tengah bernegosiasi dengan AS. Ia mengaku yakin kesepakatan bakal terjadi sebelum deadline.
Para pejabat Iran mengecam ancaman Trump dan berjanji akan membalas setiap serangan terhadap infrastruktur mereka.
"Sekali lagi, presiden AS secara terbuka mengancam akan menghancurkan infrastruktur yang penting bagi kelangsungan hidup warga sipil di Iran," kata misi Iran untuk PBB menanggapi ancaman Trump.
"Komunitas internasional dan semua negara memiliki kewajiban hukum untuk mencegah tindakan kejahatan perang yang keji tersebut. Mereka harus bertindak sekarang. Besok sudah terlambat," tambah pernyataan itu.
Seyyed Mehdi Tabatabaei, wakil bidang komunikasi di kantor presiden Iran, juga menyatakan bahwa selat tersebut hanya akan dibuka kembali setelah pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang disebabkan oleh perang.
Dia mengatakan pembayaran tersebut akan berupa biaya transit melalui "rezim hukum baru" di sekitar selat tersebut, sesuai dengan pernyataan Iran sebelumnya bahwa mereka mungkin berupaya menerjemahkan kendali mereka atas selat tersebut menjadi sistem di mana kapal yang melewatinya membayar biaya bahkan setelah perang berakhir.
Tabatabaei menepis ancaman Trump sebagai tanda bahwa AS telah "menggunakan kata-kata kotor dan omong kosong karena putus asa dan marah".
Serangan AS-Israel telah menargetkan infrastruktur dan fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, fasilitas perawatan kesehatan, dan universitas. Para ahli telah memperingatkan bahwa beberapa serangan tersebut dapat dianggap sebagai kejahatan perang.
Trump juga menolak untuk memberikan jangka waktu berakhirnya perang, hanya menyatakan bahwa "Saya akan segera memberi tahu Anda".
(apu/ahr)
