Duka mendalam masih dirasakan Maryono, ayah dari siswa SMPN 2 Sumberlawang, WAP yang meninggal dunia diduga usai berkelahi di sekolah. Maryono mengaku mendapat kabar sang anak meninggal dari saudara.
Maryono mengaku pihak sekolah awalnya tidak memberitahu dirinya bahwa putranya telah meninggal dunia. Ia hanya diberi tahu bahwa anaknya berada di Puskesmas.
"Saya tahunya dari keluarga. Ada yang nyariin saya, dibangunin, suruh diajak ke Puskesmas, gitu. Dari pihak sekolahan malah sama sekali nggak ada yang datang ke rumah, memberitahu atau apa malah nggak ada," katanya ditemui di rumah duka Desa Jati, Sumberlawang, Sragen, Rabu (8/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya baru diberitahu bahwa anaknya meninggal dunia saat tiba di Puskesmas. Ia juga melihat kondisi anaknya yang terbujur kaku masih mengenakan seragam sekolah.
"Ya saya dipanggil, istilahnya guru lah, guru apa nggak tahu, dikasih penjelasan, terus suruh lihat anak. Tapi kondisi anak sudah nggak ada (meninggal). Ya sudah nggak bernyawa, tapi masih pakai baju seragam," terangnya.
Saat tiba di Puskesmas ia melihat luka di wajah WAP. Luka yang ia lihat berada di pelipis dan bibir.
"Nek (kalau) luka yang begitu jelas itu cuma di pelipis sini, sama di bagian bibir kayak ada luka," ucapnya.
Dirinya mengaku tidak punya firasat akan kepergian putranya itu. Meski tidak melihat sang anak berangkat sekolah, Maryono mengaku tidak ada yang aneh dengan WAP.
"Nggak pernah ketemu. Kalau dia berangkat sekolah kan saya ke pasar. Saya ke pasar jam 6, sampai rumah kadang jam 7 lebih, dia sudah berangkat, seperti itu. Aktivitas biasa, normal, biasa. Nggak ada feeling apa-apa yang aneh, pola tingkah laku yang aneh atau apa, nggak ada," terangnya.
Menurutnya, putra kedua dari tiga bersaudara itu terkenal sebagai anak yang pendiam. WAP tidak pernah menceritakan jika punya musuh di sekolah atau lingkungan rumah.
"Nggak, nggak pernah. Anaknya itu pendiam, jadi nggak pernah ada masalah apa pun dipendam sendiri, nggak cerita. Komunikasi malam itu cuma bercanda-canda aja," ceritanya.
"(Cerita punya musuh?) Nggak. Anak saya itu pendiam. Jadi ya ada apa-apa dipendam sendiri, nggak pernah ngomong sama ibu atau bapaknya, nggak pernah," bebernya.
Maryono mengatakan bahwa anaknya juga menjadi asisten pelatih perguruan silat di Desa Jati. Ia mengatakan WAP bergabung di perguruan silat sejak lama.
"Iya, asisten pelatih. Cuma kalau untuk keseharian, dia orangnya ya seperti itu, pendiam, suruh apa nurut, udah gitu aja. Nggak pernah main malam juga jarang lah, hampir nggak pernah. Asisten pelatih di cabang Desa Jati," terangnya.
"Sudah, kalau asisten kan otomatis dia dari nol. Dari nol sudah temannya yang umurnya sudah masuk di warga, dia ikut tes warga kan. Cuma umurnya dia kan belum, belum sampai, makanya dia dijadikan asisten," bebernya.
Dirinya berharap, proses hukum yang menewaskan anaknya tetap berjalan.
"Ya harapannya proses hukum harus berjalan. Tetap harus berjalan," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, seorang siswa SMPN 2 Sumberlawang inisial WA ditemukan meninggal dunia di sekolahnya. Korban diduga tewas usai terlibat perkelahian dengan pelajar lain.
(apl/dil)
