Balita perempuan berusia 1,5 tahun viral disebut mengalami gejala hipotermia saat mendaki Gunung Ungaran. Begini penjelasan pengelola Basecamp Perantunan Gunung Ungaran.
Pengelola Basecamp Perantunan Gunung Ungaran, Dwi Purnomo (44) mengatakan keluarga kecil itu melakukan registrasi pada Sabtu (11/4/2026) pagi hari. Saat itu, cuaca di lokasi cerah dan mereka mengatakan tidak memaksakan untuk sampai ke puncak
"Jadi si anak tersebut kan sama kedua orang tuanya izin mau jalan-jalan atau mau naik tapi enggak harus sampai puncak, mungkin sampai pos 3 atau 4," kata Dwi melalui sambungan telepon pada detikJateng, Senin (13/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim SAR saat melakukan penanganan balita terkena hipotermia di Gunung Ungaran, Semarang, Sabtu (11/4/2026). Foto: dok. Basarnas Semarang |
"Kalau tidak memungkinkan mau turun. Begitu awal mau izin untuk mendaki itu. Posisi itu kan di pagi hari ya sekitar jam 07.00 WIB, pagi hari cuacanya juga cerah," sambungnya.
Karena alasan itu, Dwi menyebut petugas di basecamp kemudian memberi izin mereka untuk naik. Namun saat sudah mendaki, mereka terlibat perselisihan karena cuaca mendung.
"Mereka sudah sampai pos 4. Kemudian karena cuacanya itu sudah sudah mulai mendung, jadi ibunya ini pengin turun tapi bapaknya nggak mau terus anaknya pengin dibawa sampai ke atas (puncak)," ujar Dwi.
Dwi menjelaskan sang ibu kemudian memilih untuk turun. Sementara si anak dibawa ayahnya naik sampai ke puncak.
"Kemudian si ibunya itu turun, ngasih informasi ke kita 'pak, minta tolong suami saya dan anaknya itu kalau bisa disuruh turun' gitu," jelas Dwi.
Saat tiba di basecamp, cuaca di Gunung Ungaran sedang hujan. Pihak basecamp kemudian berkoordinasi dengan tim SAR yang sedang berjaga di sekitar pos 4 karena ada event trail run.
"Kemudian hujan sudah mulai agak reda, terus si bapak sama anaknya itu disamperin untuk turun," terang Dwi.
Dwi membantah narasi hipotermia yang dialami oleh balita tersebut. Menurutnya, anak itu menangis karena ingin bertemu ibunya.
"Jadi sebenarnya nggak seseram kayak di media sosial ya, anak itu nangis bukan karena sakit atau hipotermia, nggak. Memang pengin ketemu ibunya," kata Dwi.
Saat dibantu turun oleh tim SAR, sang anak memang dalam kondisi basah karena terkena air hujan. Untuk mengantisipasi suhu tubuh semakin menurun, petugas menyelimutinya dengan emergency blanket berbahan alumunium foil.
"Untuk yang pas evakuasi memang dikasih aluminium foil itu karena baju si anak ini kan basah, biar nggak dingin," ujar Dwi.
Setelah berhasil dibawa turun ke basecamp, petugas kemudian segera memberi anak itu selimut. Tangisan anak itu juga berhenti setelah kembali bertemu dengan ibunya.
"Terus dibawa turun ketemu dengan saya dan teman-teman. Karena di sini nggak ada baju ganti untuk anak kecil ya kita kasih selimut," tutur Dwi.
"Setelah ikut ibunya (bayi itu) sudah diam, sudah senyum-senyum," pungkasnya.
(par/alg)

