Nabung Belasan Tahun Antarkan Sucipto Jukir Purwokerto Berangkat Haji

Nabung Belasan Tahun Antarkan Sucipto Jukir Purwokerto Berangkat Haji

Anang Firmansyah - detikJateng
Senin, 11 Mei 2026 16:29 WIB
Juru parkir Pasar Pon Purwokerto, Sucipto yang menjadi calon jemaah haji kloter 73 Kabupaten Banyumas, Senin (11/5/2026).
Juru parkir Pasar Pon Purwokerto, Sucipto yang menjadi calon jemaah haji kloter 73 Kabupaten Banyumas, Senin (11/5/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Purwokerto -

Gang kecil di RT 003 RW 003 Kelurahan Sumampir, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas, lebih ramai dari biasanya dalam satu minggu terakhir. Warga berdatangan silih berganti ke rumah sederhana milik Sucipto (62) untuk memberikan selamat dan untaian doa.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir (jukir) di Pasar Pon Purwokerto itu akhirnya berhasil mewujudkan impiannya berangkat ke Tanah Suci setelah menabung selama belasan tahun.

Dengan wajah haru bercampur bahagia, Sucipto mengaku tak pernah menyangka dirinya bisa sampai di titik ini. Penghasilannya yang pas-pasan tak membuatnya menyerah mengejar rukun Islam kelima.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Alhamdulillah rukun kelima bisa tercapai," ujar Sucipto saat ditemui di rumahnya, Senin (11/5/2026).

Sejak tahun 1999, Sucipto bekerja sebagai juru parkir di Pasar Pon. Selain itu, pada malam hari ia juga membantu menjaga perumahan Pemda di Kelurahan Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat.

ADVERTISEMENT

"Profesi saya dua itu. Siang tukang parkir di Pasar Pon, malam bantu jaga perumahan," katanya.

Penghasilannya pun jauh dari kata besar. Dari pekerjaan parkir, ia rata-rata memperoleh Rp 50 ribu per hari. Sedangkan menjaga perumahan memberinya upah Rp 900 ribu per bulan.

"Kalau penghasilan rata-rata ya Rp 50 ribu sehari hasil parkir. Sedangkan yang jadi penjaga malam sebulan Rp 900 ribu," tuturnya.

Namun dari penghasilan sederhana itulah Sucipto mulai menabung sedikit demi sedikit sejak 2012. Ia menahan keinginan pribadi demi satu tujuan, yakni bisa berangkat haji.

"Saya nabung ikut-ikut orang kaya. Sedikit-sedikit. Kalau ada lebih habis bayar sekolah anak, saya simpan. Kadang Rp 4 juta, Rp 5 juta," katanya.

Ia memiliki cara tersendiri dalam mengumpulkan uang. Setiap hari ia menyisihkan hasil kerjanya ke BMT. Setelah jumlahnya cukup besar, uang itu dipindahkan ke bank.

"Harian juga nabung ke BMT. Kalau sudah besar saya tarik ke BRI. Terus terakhir pelunasannya lewat BCA. Perjuangannya luar biasa," ungkapnya.

Di tengah perjuangan itu, Sucipto juga harus berjibaku membiayai pendidikan ketiga anaknya hingga lulus kuliah. Bahkan dirinya mengaku sempat berutang demi memenuhi kebutuhan keluarga dan pendidikan anak.

"Dengan keterbatasan ekonomi tidak menyurutkan untuk naik haji. Dulu buat bayar semesteran anak juga. Utang ke BMT sama BRI, tapi saya lunasi," katanya.

Baginya, pendidikan anak menjadi cita-cita yang harus diperjuangkan mati-matian. Sucipto tak ingin anak-anaknya bernasib sama seperti dirinya yang hanya lulusan kejar paket.

"Saya itu bapaknya cuma sempritan tok, SD paket. Tapi Alhamdulillah anak tiga kuliah semua, sudah S1 semua," ucapnya sambil meneteskan air mata.

Ia mengaku selalu berdoa agar anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Terlebih, sejak kepergian istrinya tujuh tahun lalu, ia harus berjuang seorang diri.

"Saya berdoa, anak saya harus sekolah, jangan seperti saya. Jangan jadi tukang parkir seperti bapaknya," lanjutnya.

Kabar keberangkatan hajinya pun membuat warga sekitar ikut bangga. Di lingkungan tempatnya menjaga perumahan Pemda, ucapan selamat terus mengalir untuknya.

"Saya ngaji di sana, warga pada bangga, pada ngucapin selamat," katanya.

Sucipto dijadwalkan berangkat menuju embarkasi pada Kamis (14/5) malam. Ia tergabung dalam Kloter 73 dan akan berangkat dari GOR Satria Purwokerto sekitar pukul 23.00 WIB.




(apl/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads