Bulan terakhir dalam sistem penanggalan Islam, Dzulhijjah, sudah tiba. Pada hari kesembilannya, umat Islam disunnahkan untuk mengerjakan puasa Arafah. Kabarnya, puasa ini menyimpan keutamaan agung.
Dirujuk dari buku Meraih Surga dengan Puasa tulisan H Herdiansyah Achmad, Lc, puasa Arafah dikerjakan bertepatan dengan wukufnya jemaah haji di Arafah. Puasa ini hukumnya sunnah muakkad (sangat dianjurkan).
Tahun ini, hasil sidang isbat Kementerian Agama menunjukkan bahwa 1 Dzulhijjah jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Itu artinya, 9 Dzulhijjah yang merupakan waktu puasa Arafah bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak sampai seminggu lagi puasa yang menyimpaan keutamaan agung itu datang. Biarpun 'hanya' sunnah muakkad, dalam artian tidak sampai wajib, melewatkannya begitu saja sangat disayangkan.
Bagi detikers yang berencana menunaikannya, di bawah ini detikJateng bahas lengkap seputar keistimewaan, niat, dan hukum menggabung puasa Arafah dengan Qadha Ramadan. Baca sampai tuntas, ya, Lur!
Keistimewaan Puasa Arafah
Dilansir buku Catatan Fikih Puasa Sunnah yang ditulis oleh Hari Ahadi, Nabi Muhammad SAW telah menjabarkan keutamaan puasa Arafah secara gamblang. Dari Qatadah al-Anshari RA, sang Khatamul Anbiya' berkata:
سيل عن صوم يوم عرفة، فقال: يُكفر السنة الماضية والباقية
Artinya: "Nabi Muhammad SAW ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, 'Menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang.'" (HR Muslim no 1162)
Menurut Imam an-Nawawi, dosa yang dihapuskan berkat mengerjakan puasa Arafah adalah dosa kecil. Apabila seseorang sudah tidak memiliki dosa kecil lagi, maka diharapkan dosa besarnya dihapus. Jika tidak ada dosa besar juga, maka diharapkan agar derajat orang yang mengerjakan dinaikkan. Wallahu a'lam bish-shawab.
Selain keistimewaan penghapusan dosa, puasa Arafah memiliki keutamaan lain, yakni dikerjakan pada bulan Dzulhijjah. Sebagaimana detikers telah ketahui, Dzulhijjah adalah satu dari empat bulan haram yang padanya pahala amal baik dilipatgandakan.
Tak hanya itu, beramal shalih pada 10 hari awal Dzulhijjah, termasuk puasa Arafah, adalah perkara yang dicintai Allah SWT. Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak ada hari-hari untuk berbuat amal shalih yang lebih. Allah cintai melebihi sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah." (HR ash-Shahih)
Hukum Menggabung Puasa Arafah dan Qadha Ramadan
Berbeda dengan puasa Arafah yang hukumnya sunnah muakkad, Qadha Ramadan hukumnya wajib. Setiap muslim yang meninggalkan puasa Ramadan dan mampu menggantinya wajib mengerjakan puasa ini.
Lantas, apakah boleh menggabungkan puasa Arafah dengan Qadha Ramadan? Al-Lajnah ad-Daimah, Lembaga Fatwa Arab Saudi, ketika ditanya mengatakan bahwa orang yang mengerjakan Qadha Ramadan pada hari Arafah tidak mendapat keutamaan puasa Arafah.
"Tidak masalah seseorang membayar hutang puasa di hari Arafah dan Qadha puasanya itu sah. Akan tetapi, dia tidak mendapatkan keutamaan puasa hari Arafah. Sebab, tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu." (Al-Majmu'ah al-Ula, X/397)
Di sisi lain, Imam as-Suyuthi berpendapat kebolehan menggabungkan puasa Arafah dan Qadha Ramadan. Bahkan, seperti halnya dituliskan Dr. Makmur Dongoran di buku Ensiklopedia Islam, menurut sang imam, orang itu akan memeroleh dua pahala, yakni Arafah dan Qadha Ramadan.
Senada dengan Imam as-Suyuthi, Imam ar-Ramli as-Syafi'i berkata:
"Kalau seseorang mengqadha puasa di bulan Syawal atau mengqadha di hari Asyura, maka ia mendapatkan pahala puasa sunnahnya." (Nihayatul Muhtaj 3/208)
Sultan Abdillah di bukunya, Risalah Puasa, mengambil pendapat yang berada di tengah. Menurutnya, dengan mengerjakan puasa Qadha pada hari Arafah, seorang muslim boleh berharap Allah SWT tetap mengganjarnya dengan pahala puasa Arafah juga. Meski begitu, tetap saja niat di cukup Qadha karena bersifat wajib sehingga pantas didahulukan.
Akhir kata, memang ada perselisihan pendapat mengenai boleh tidaknya menggabung puasa Arafah dan Qadha Ramadan. Wallahu a'lam bish-shawab.
Niat Puasa Arafah 26 Mei 2026
Puasa Arafah, seperti juga ibadah lain, harus didasari niat. Tanpa niat, amalan yang dikerjakan tak ubahnya dengan kegiatan biasa.
Niat wajib ada di hati. Adapun mengenai sunnah tidaknya dilafalkan, para ulama berlainan pendapat. Sebagian menganggap pelafalan niat sebagai bid'ah sehingga tidak diperlukan, sedangkan ulama lain menghukumi sunnah.
Bagi detikers yang mengikuti pendapat sunnahnya mengucap niat, begini bacaannya, diambil dari buku Siapa Berpuasa Dimudahkan Urusannya tulisan Khalifa Zain Nasrullah:
نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةٌ لِلَّهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma 'arafata sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Arti: "Aku berniat puasa Arafah, sunnah karena Allah Ta'ala."
Teruntuk umat Islam yang ingin mengerjakan puasa Qadha Ramadan pada hari Arafah, maka ia dapat berniat dengan niat puasa Qadha saja. Harapannya, ia tetap memeroleh pahala puasa Arafah.
Dilansir NU Online, begini bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى
Arab Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'I fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ.
Arti: "Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadan esok hari karena Allah SWT."
Demikian pembahasan lengkap mengenai keistimewaan puasa Arafah, niat, dan hukum menggabungkannya dengan puasa Qadha Ramadan. Semoga bermanfaat, ya, detikers!
(num/afn)