Elsbeth de Jager, seorang wanita asal Belanda, mengunjungi Magelang untuk melihat rumah yang pernah ditinggali kakek buyutnya, Johanes Dionijsius Winnen atau JD Winnen. Namun, dalam upayanya melakukan tapak tilas, dia menemukan kendala krusial.
Ditemui awak media di Museum Mosvia atau bekas markas Polres Magelang Kota, Elsbeth mengungkap kesulitan yang dia hadapi adalah kartu pos sang kakek buyut, satu-satunya petunjuk yang dia punya, tidak memberikan alamat pasti.
"Sekarang saya mencari rumah tempat kakek buyut (Magelang). Karena saya napak tilas. Belum (ketemu) rumahnya," tutur Elsbeth, Jumat (22/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ya kesulitan (mencari rumah) kami tidak punya alamat dan hanya punya satu foto. Dan saya tahu dari kartu pos kakek buyut saya ditulis ELS (Eurospeech Lagere School) dulu," lanjut Elsbeth yang merupakan guru serta penulis itu.
Elsbeth melanjutkan, sejatinya JD Winnen mempunyai dokumentasi berupa foto dan kartu pos selama dia bertugas sebagai tenaga pendidik di Indonesia.
"Karena kakek buyut saya menulis tentang trem. Saya kira 4 menit jalan (dari lokasi rumahnya). Mungkin jalan kaki, sepeda, saya tidak tahu," paparnya.
"Tapi, tidak bisa mencari apapun tentang rumah itu," tambah perempuan 60 tahun tersebut.
Pernah Bertugas di Magelang hingga Purworejo
Diketahui, JD Winnen pernah berdinas di Magelang untuk mengajar di ELS, sekolah setingkat SD khusus untuk anak-anak Eropa, pada tahun 1902 silam. Kini, bekas bangunan ELS menjadi kantor Pengadilan Negeri (PN) Magelang.
Winnen mengajar selama empat tahun di ELS hingga 1906. Setelah itu dia sempat pindah ke Bandung tahun 1907, sebelum balik Magelang setahun setelahnya.
Dalam "perantauannya" yang kedua di Magelang, JD Winnen mengajar di OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Lembaga ini dulunya sekolah kolonial Belanda yang khusus mencetak calon pegawai pangreh praja (pamong praja).
Winnen lantas berpindah-pindah tugas, mulai dari Ambon, kembali ke Bandung, hingga pada tahun 1914, dia ditugaskan di Purworejo. Saat di sana, dia menjadi direktur atau kepala Hoge Kweekschool (HKS), yang kini menjadi SMAN 7 Purworejo.
Pencarian Berawal 3 Tahun Lalu
Elsbeth menjelaskan, pencariannya untuk menapaktilasi masa dinas sang kakek buyut dimulai saat dia menemukan foto JD Winnen bertugas di Purworejo lewat internet. Ia melacak bangunan HKS tersebut, dan menemukan jawaban via kepala sekolah SMAN 7 Purworejo di Facebook.
"Saya tiga tahun yang lalu menemukan foto (kakek buyut) berada di rumah dinas di Purworejo. Foto tersebut saya temukan di internet dan saya bertanya di Facebook rumah masih ada, sekolah masih ada," kata dia.
Sejak saat itulah, pencariannya kemudian membawanya ke Magelang. Namun, pada pencarian pertama 3 tahun lalu, dia tak berhasil menemukan rumah kakeknya. Begitu pula dalam upayanya yang kedua tahun ini.
Pada perjalanannya yang kedua ini, Elsbeth tidak saja didampingi sang suami, Melvin van Deventer. Ia juga bersama perwakilan Komunitas Kota Toea Magelang, Bagus Priyana.
"Pada momen hari ini, kedatangan Elsbeth de Jager bersama suaminya ini sangat spesial. Dia memiliki ikatan sejarah dan emosional terhadap Magelang melalui garis kakek buyutnya yang pernah menjadi guru di dua sekolah di Magelang, di ELS dan OSVIA," kata Bagus.
"Di ELS pada tahun 1906 dan OSVIA pada tahun 1908. Dan pada akhirnya berpindah-pindah tempat dan menjadi kepala sekolah di HKS di Purworejo tahun 1916," lanjut Bagus.
Kedatangan Elsbeth, kata Bagus, merasa sebagian kecil cerita sejarah keluarganya ada di Magelang.
"Dia berusaha menelisik ini. Dia ingin menyambung jejak-jejak leluhurnya bahwa punya perhatian terhadap Magelang melalui penelusuran sejarah keluarganya. Walaupun kedatangan kedua (kalinya) ini salah satu misinya mencari rumah kakek buyutnya," kata Bagus.
"Tentu ini tidak mudah. Meskipun ada fotonya, tetapi hingga (saat ini) masih belum menemukan rumah yang pernah ditinggali oleh kakek buyutnya," lanjutnya.
(apu/alg)
