Perjalanan 16 Biksu atau Bhikkhu, yang melakukan thudong "Walk for Peace" dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten, telah tiba di Boyolali. Para rohaniawan Buddhis itu disambut ratusan umat Buddha yang berjajar di pinggir jalan yang dilalui.
Setibanya di Ampel, para Biksu itu singgah untuk istirahat dan bermalam di Vihara Veluvana, di komplek kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Ampel, Boyolali. Yang secara administrasi kini masuk Kecamatan Gladagsari, Kabupaten Boyolali.
Dari pantauan detikJateng, 16 biksu dari berbagai wilayah di Indonesia itu bersama para relawan masuk wilayah Boyolali di perbatasan Sruwen, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang dengan Kecamatan Ampel, Boyolali, sekitar pukul 14.00 WIB. Mereka disambut antusias oleh ratusan umat Buddha yang telah menunggunya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baik perempuan maupun laki-laki, dari anak-anak hingga orang dewasa, tampak berjajar rapi di pinggir jalan. Mereka juga membawa bunga mawar di kantong plastik yang ditaburkan ke jalan, saat para Banthe melintas. Umat Buddha itu juga memberikan berbagai jenis minuman dalam kemasan sebagai bekal para Biksu selama perjalanan menuju Candi Sewu, Klaten.
"Tadi saya di sini jam 1 (pukul 13.00 WIB)," kata Karsini, umat Buddha dari Desa Urut Sewu, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, ditemui di sela-sela menyambut para Biksu di Ampel, Boyolali, Rabu (27/5/2026).
Karsini mengatakan, para umat memberikan bekal minuman kepada para Biksu. Sekaligus memberikan semangat kepada para Banthe yang melakukan Thudong menuju Candi Sewu, Klaten tersebut.
16 biksu thudong yang berjalan kaki dari Jepara dengan tujuan Candi Sewu ketika tiba di Boyolali, Rabu (27/5/2026). Foto: Jarmaji/detikJateng |
"Untuk menyemangati Banthe," imbuh dia.
Tak hanya umat Buddha saja, masyarakat umum juga tampak berdiri berjajar di pinggir jalan untuk menyambut dan menyaksikan para Biksu melintas. Perjalanan Biksu Thudong itu juga mendapat pengawalan dari petugas, baik kepolisian maupun TNI serta para relawan, hingga Vihara Veluvana di Kampus STIAB Smaratungga.
Sesampainya di kampus tersebut, mereka juga disambut Muspika Kecamatan Gladagsari. Selanjutnya para Banthe duduk di kursi yang telah disiapkan. Dibawahnya juga telah berjajar ember berisi air kembang untuk membasuh kaki para Biksu.
Sementara itu salah seorang peserta Thudong, Bhikkhu Aggacitto Thera, mengatakan perjalanan Thudong "Walk for Peace" ini dimulai dari Candi Sima Jepara pada tanggal 20 Mei 2026. Nantinya akan berakhir di Candi Sewu Klaten pada 31 Mei 2026. Perjalanan Thudong ini dilakukan untuk menyambut Hari Raya Waisak.
Dikemukakan dia, bahwa perjalanan Thudong ini diperlukan kesadaran dan keikhlasan. Karena perjalanan dari Jepara sampai Klaten sangat jauh dan ditempuh dalam belasan hari.
"Ya, tentunya ini kalau tidak ada kesadaran pasti tidak mau. Kalau tidak ada keikhlasan jelas tidak mungkin dan tidak mau. Karena perjalanan dari Jepara sampai Klaten itu tidak pendek dan sampai hari ini ini sudah sekian. Semua dalam satu apa keyakinan bahwa kita ingin menyambut Waisak itu bersama-sama ingin menggaungkan nilai-nilai positif," ujarnya ditemui di kampus STIAB Smaratungga.
Maka, lanjut dia, perjalanan thudong ini mengambil tema "Walk for Peace atau jalan damai. Bahwa semua ingin hidup damai dan bahagia.
"Selain daripada itu, kenapa yang mendasari itu Walk for Peace, ya saat ini kondisi global sedang tidak baik-baik saja. Kemudian selain daripada itu juga kita ingin ya, hidup di Indonesia itu dalam satu kebersamaan. Kita di Indonesia ini penuh keanekaragaman baik suku, ras, budaya, agama. Jadi dalam momen menyambut Waisak, momen jalan damai ini kita juga ingin menggaungkan tentang untuk memperkuat untuk memupuk toleransi bersama," jelas dia.
Menurut dia, toleransi itu terbukti terlihat dalam perjalanan Thudong ini. Sejak berangkat Candi Sima Jepara sampai hari ini tiba di Boyolali, perjalanan para Biksu mendapat sambutan dari masyarakat lintas agama.
"Antusias sambutan yang sangat luar biasa sekali, bukan hanya dari kita kalangan umat Buddha, tetapi juga dari berbagai lintas agama yang betul-betul memang mendukung dan men-support kami," tandas Bhikkhu Aggacitto Thera.
(apu/apu)

