Perjalanan 17 biksu yang melakukan thudong, atau melakoni perjalanan spiritual dengan berjalan kaki, dari Candi Sima Jepara menuju Candi Sewu Klaten telah tiba di Boyolali. Salah satu bhikkhu mengungkapkan rute yang dirasa paling berat adalah saat berjalan di tanjakan Gombel, Semarang.
Diketahui, usai tiba di Boyolali, para biksu thudong akan istirahat di Vihara Veluvana, komplek kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Ampel, Boyolali. Besok pagi (28/5), mereka akan melanjutkan thudong menuju Kota Boyolali.
Bhikkhu Aggacitto juga menceritakan pengalamannya selama perjalanan dari Candi Sima Jepara hingga hari ini, tiba di Vihara Veluvana. Termasuk kondisi rute maupun cuacanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, rute yang paling berat saat melintas di tanjakan Gombel, Semarang. Tanjakannya tinggi dan panjang, sehingga cukup menguras tenaga.
"Kalau untuk rute yang berat sebenarnya di daerah Semarang ya. Nah, mungkin tahu ya Gombel ya. Nah Gombel itu tanjakan tinggi kali itu. Nah, itu bukan pendek tapi tinggi, jauh lagi. Ya menurut kami itu yang untuk tanjakan yang betul-betul menguras tenaga," kata Bhikkhu Aggacitto, ditemui sesampainya di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha (STIAB) Smaratungga, Ampel, Boyolali, Rabu (27/5/2026).
Sedangkan untuk cuaca yang paling berat, Bhikkhu Aggacitto, menjelaskan saat menempuh perjalanan di wilayah Demak. Menurut dia, di wilayah Demak itu cuacanya dirasa luar biasa panas dibandingkan di daerah lain.
"Tapi kalau untuk cuaca panas, ya memang sangat luar biasa panasnya itu di daerah Demak," ungkap Bhikkhu asal Jepara yang bertugas di Medan, Sumatera Utara itu.
"Tapi meskipun demikian, langkah demi langkah tetap melangkah melaju ke depan dan akhirnya sore ini kita sudah sampai di sini (Vihara Veluvana, kampus STIAB Smaratungga, Ampel, Boyolali)," sambung dia.
Lebih lanjut, Bhikkhu Aggacitto, mengungkapkan banyak sekali kesan-kesan dalam perjalanan Thudong hingga hari ini. Setiap daerah yang dilintasi, mempunyai keunikan tersendiri dalam mengekspresi dan meramaikan Thudong "Work for Peace' menyambut Hari Raya Waisak ini.
"Jadi dari Candi Sima, kemudian di Bangsri, di Mlonggo, di Jepara, Welahan, di Demak itu punya keistimewaan yang beda-beda. Karena mereka mempresentasikan dalam penyambutan itu tidak sama. Tapi secara umum mereka semuanya luar biasa," imbuh dia.
Diketahui, 16 biksu memulai thudong dari Candi Sima Jepara, dengan estimasi kedatangan ke Candi Sewu pada Sabtu (30/5). Ketua panitia kegiatan Thudong Jawa Tengah, Sundoko, menuturkan di Semarang, jumlah biksu yang melakukan thudong bertambah jadi 17 orang.
"Nanti di Semarang akan ada satu tambahan bhante, jadi 17. Tetapi nanti pada saat sebelum masuk ke Klaten itu ada tiga lagi yang keluar karena segera menjalankan tugas di Medan," tuturnya, Minggu (24/5).
(apu/apu)
