Sebuah pertandingan sepakbola antarkampung (tarkam) Silirejo Cup di Lapangan Desa Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, viral lantaran ricuh. Polisi mengungkap insiden dipicu ketegangan pemain di lapangan.
Insiden itu viral usai diunggah akun Instagram @pekalonganinfo, dan ditonton hingga lebih dari 184 ribu kali selama 20 jam terakhir.
"Kericuhan terjadi dalam pertandingan sepak bola antara Kamus Surobayan melawan Ambokembang yang berlangsung di Lapangan Silirejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, Jumat (29/5/2026) sore. Peristiwa bermula ketika sejumlah pendukung dari kedua tim yang hadir di lapangan terlibat saling ejek. Suasana yang awalnya berlangsung meriah perlahan berubah menjadi tegang," demikian unggahan itu seperti dilihat detikJateng.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan penelusuran, kericuhan itu terjadi pada laga antara Kamus FC Surabayan versus Ambokembang FC. Pertandingan itu dimenangkan oleh Ambokembang FC dengan skor 2-0, Jumat (29/5) sore.
Kapolsek Tirto, Iptu Suprijanto, saat dimintai konfirmasi mengungkap awal mula geger dalam laga Silirejo Cup tersebut. Ia menuturkan laga terpaksa dihentikan pada menit ke-50 setelah suporter ikut masuk ke lapangan, dan baru dilanjutkan lagi Sabtu (30/5) untuk menyelesaikan sisa babak kedua yang berakhir dengan kemenangan Ambokembang FC.
"Insiden bermula dari perselisihan antarpemain di pinggir lapangan yang kemudian memicu reaksi penonton. Pertandingan akhirnya dihentikan sementara dan dilanjutkan keesokan harinya (Minggu) dengan menyelesaikan sisa waktu pertandingan," jelas Iptu Suprijanto saat dihubungi, Minggu (31/5/2026).
"Pertandingan hari Jumat dihentikan di menit ke-50 dan dilanjutkan pagi harinya. Situasinya bisa dikendalikan dan pertandingan selesai dengan skor 2-0 untuk Ambokembang FC," tambahnya.
Muncul Kericuhan Lain
Suprijanto melanjutkan, kericuhan juga terjadi pada laga lain Silirejo Cup antara Bangkid FC melawan Kedungwuni Barat FC, Sabtu (30/5). Berawal dari wasit yang memberi kartu merah kepada pemain Bangkid FC usai melakukan pelanggaran kedua, laga terpaksa berhenti di di menit ke-62 usai pemain, ofisial, hingga suporter Bangkid FC memprotes keras.
Insiden tersebut menyebabkan keributan antarpendukung usai sejumlah penonton masuk ke lapangan.
"Awalnya pemain Bangkid mendapat kartu merah karena pelanggaran kedua. Ada yang tidak menerima keputusan tersebut sehingga suporter masuk ke lapangan dan terjadi kericuhan. Namun situasi tidak berlangsung lama dan langsung kami redam," ujar Suprijanto.
Dikatakan Suprijanto, tidak ada korban serius maupun pihak yang melapor ke polisi. Seorang pemain hanya mengalami luka memar ringan.
Suprijanto melanjutkan, panitia lantas mempertemukan manajer kedua tim untuk mencari solusi. Pasalnya, waktu yang tersisa hanya sekitar 8 menit dengan kondisi Kedungwuni Barat unggul 2-0.
Pada akhirnya, kedua belah pihak sepakat menerima hasil pertandingan tanpa melanjutkan sisa laga.
"Dari hasil musyawarah kedua manajer tim, pertandingan dinyatakan selesai dengan skor tetap 2-0 untuk Kedungwuni Barat," jelasnya.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa, pihak kepolisian akan menambah jumlah personel pengamanan pada pertandingan Silirejo Cup berikutnya. Sebelumnya, pengamanan sudah melibatkan sekitar 80 personel gabungan dari Polsek, Polres, TNI, serta panitia.
"Kami akan menambah personel. Kemarin sebenarnya sudah cukup banyak, tetapi antusiasme penonton memang sangat tinggi," tambahnya.
Tanggapan Ketua PSSI Pekalongan
Dihubungi terpisah, Ketua PSSI Kabupaten Pekalongan, Andi Susanto, berujar turnamen tersebut merupakan kompetisi tarkam yang diselenggarakan masyarakat dan bukan agenda resmi PSSI. Namun demikian, pihaknya tetap melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan pertandingan.
Menurut Andi, insiden hari Jumat sesuai regulasi panitia harus dilanjutkan karena waktu pertandingan yang tersisa masih sekitar 20 menit. Sedangkan untuk pertandingan Sabtu, keputusan penghentian diambil setelah ada kesepakatan kedua tim.
"Yang terpenting adalah keselamatan perangkat pertandingan, pemain, dan penonton dan wasit. Setiap kejadian pasti menjadi bahan evaluasi bersama," katanya.
Andi mengakui antusiasme masyarakat terhadap turnamen tarkam di Kabupaten Pekalongan sangat tinggi. Bahkan, pertandingan di Silirejo diperkirakan disaksikan sekitar 5 ribu hingga 6 ribu penonton.
Karena itu, pihak panitia dan pemerintah desa berencana melakukan pembenahan sarana pendukung, termasuk pemasangan pagar pembatas di sekitar lapangan guna meningkatkan keamanan pertandingan.
Ia juga mengimbau seluruh pecinta sepak bola untuk tetap menjunjung tinggi sportivitas dan menjadikan sepak bola sebagai sarana mempererat persaudaraan, bukan permusuhan.
"Semua boleh ingin menang, tetapi sportivitas harus tetap dijunjung tinggi. Sepak bola harus menjadi hiburan sekaligus mempererat silaturahmi dan persaudaraan," ucapnya.
Panitia Silirejo Cup Lakukan Evaluasi
Adapun ketua panitia Silirejo Cup, Amin, menjelaskan kericuhan pada Jumat dan Sabtu kemarin menjadi evaluasi pihaknya. Mengingat laga masih berada di fase 8 Besar.
"Ini menjadi bahan evaluasi kami di pertandingan 8 Besar ini. Jauh-jauh sebelumnya, sebelum pertandingan kita juga sudah, bahasanya, sudah memberikan memohon kepada koordinator suporter untuk bisa mengondisikan suporternya," ungkap Amin.
"Itu semuanya sudah saya lakukan dari pertama babak 16 Besar sebenarnya. Tapi karena memang kemarin itu ada over penonton lah, jadi kita juga dari panitia kecolongan bahasanya," tambah Amin.
Dari evaluasi sebelumnya, ia mengatakan salah satu faktor pemicu kericuhan hingga penonton masuk lapangan justru dari para pemainnya.
"Pemicunya, satu, pemain. Pemainnya terlalu apa namanya? Provokatif, menjadikan penonton itu jadi ikut memanas gitu, terpancing," kata Amin.
Sebagai langkah antisipasinya mengingat masih babak 8 besar, pihaknya akan memperketat pengamanan, baik pam swakarasa maupun yang melibatkan TNI-Polri. "Antisipasinya kita perketat lagi pam swakarsa, dari pihak pam swakarsa lokal ataupun dari Polres dan TNI," ungkapnya.
Namun, saat dikonfirmasi terkait kapasitas lapangan untuk berapa penonton, pihaknya tidak bisa menjelaskan mengingat lapangan sepak bola di desa tidak seperti stadion.
"Duh, kalau kapasitas ya sekitar 5.000-an apa berapa itu ya? Kalau bahasanya orang-orang tarkam gitu itu enggak ada kapasitas sebenarnya. Kapasitas-kapasitasnya ya apa ya, bukan stadion sih yang ada bangkunya. Kalau kita kan enggak ada bangkunya, enggak ada apanya. Bahasane wong lesehan," kata Amin.
Diakui Amin, ini merupakan tahun kedua Silirejo menggelar sepakbola tarkam Silirejo Cup. Di tahun 2026, antusias warga menonton diakuinya jauh lebih banyak ketimbang tahun pertama 2025.
Simak Video "Video KPK Tangkap 11 Orang Terkait OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)