Masinis KA tragedi Bintaro, Slamet Suradio (87) meninggal dunia dini hari tadi di Bekasi, Jawa Barat. Meski dianggap bersalah dan dihukum penjara selama 5 tahun, namun ia selalu menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah dan telah menjalankan kereta sesuai prosedur.
Diketahui, Slamet Suradio adalah masinis KA 225 rute Rangkasbitung-Tanah Abang yang bertabrakan dengan KA 220 Patas Merak di daerah Pondok Betung, Bintaro pada 19 Oktober 1987. Peristiwa itu kemudian dikenal dengan Tragedi Bintaro 1987. Insiden tragis akibat salah komunikasi persilangan antarstasiun tersebut menewaskan lebih dari 130 orang.
"Jadi Mbah Slamet itu cerita sama saya gini, aku itu kan masinis mosok wani ngeblong, aku ki nggowo nyowo akeh. Nek raono tandane yo ra wani ngeblong. Andaikata tidak ada izin jalan ya nggak berani wong aku ki nggowo nyowo (aku itu kan masinis masa berani jalan tanpa izin aku ini bawa nyawa banyak. Kalau nggak ada tandanya ya nggak berani jalan. Andaikata tidak ada izin jalan ya nggak berani orang aku bawa nyawa)," kata tetangga dekatnya, Basori (72) menirukan ucapan Slamet saat ditemui detikJateng di rumah duka, Rabu (3/6/2026) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun Slamet selalu menegaskan bahwa dirinya tidak bersalah dan telah menjalankan kereta sesuai prosedur, namun pengadilan tetap menjatuhkan hukuman. Ia divonis bersalah dan dijebloskan ke penjara selama 5 tahun hingga dipecat dari PJKA atau sekarang PT KAI, tanpa menerima uang pensiun atau pesangon.
"Setelah kejadian dihukum 5 tahun. Jadi setelah halangan itu (tragedi Bintaro) Mbah Slamet itu dirawat di rumah sakit. Setelah boleh pulang dari rumah sakit itu ada yang jemput dan katanya mau dianterin pulang tapi ternyata dimasukkan penjara, dipecat dari kereta api. Itu ceritanya Mbah Slamet," imbunya.
Kini, pria kelahiran pria kelahiran 18 Agustus 1939 itu telah tutup usia pada Rabu (3/6/2026) sekitar pukul 01.00 WIB di Bekasi. Ia meninggalkan istri, empat anak, dan empat cucu. Jenazahnya kemudian dimakamkan di kampung halamannya di Dusun Krajan, Desa Giintungan, Purworejo siang harinya.
"Ya sakit karena sudah sepuh. Meninggal tadi dini hari sekitar jam 01.00 WIB. Meninggalnya di tempatnya kakak. Terus dimakamkan di sini (Desa Gintungan Purworejo)," kata anak bungsunya, Safitri (26) sembari menyeka air mata.
(alg/dil)