Tedjowulan Minta Wali Kota Tengahi Dualisme Kirab Malam 1 Suro Keraton Solo

Tedjowulan Minta Wali Kota Tengahi Dualisme Kirab Malam 1 Suro Keraton Solo

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 10 Jun 2026 16:11 WIB
Pelaksana pelestari pengembangan dan pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan.
Pelaksana pelestari pengembangan dan pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan. Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Pelaksana Pelestari, Pengembangan dan Pemanfaatan Keraton Solo, KPH Panembahan Agung Tedjowulan meminta digelar rapat bersama Wali Kota Solo, Respati Ardi soal penyelenggaraan kirab malam 1 suro. Respati juga diharapkan bisa menengahi dua kubu yang akan menggelar acara yang sama.

Tedjowulan menggelar rapat persiapan malam 1 Suro bersama Paku Buwono XIV Mangkubumi dan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng serta perwakilan Kementerian Kebudayaan di Keraton Solo, hari ini. Rapat dilakukan secara tertutup.

Dari pantauan detikJateng, PB XIV Mangkubumi turut menghadiri rapat tersebut. Hanya saja, setelah rapat, PB XIV Mangkubumi langsung meninggalkan lokasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kesempatan itu, KGPH Panembahan Agung Tedjowulan mengatakan bahwa dalam rapat tersebut menghasilkan putusan agar rapat lanjutan diakomodir oleh Wali Kota Solo, Respati Ardi. Rencananya, rapat tersebut bisa dilaksanakan pada hari Sabtu (13/6) atau Minggu (14/6).

"Sudah banyak masukan dan sudah banyak analisa, sehingga diambil kesimpulan bahwa tanggal 13 Juni atau 14 Juni nanti, saya tadi dari perwakilan Balai Kota ada, supaya dilaporkan ke Pak Wali, supaya Pak Wali mengundang kita semuanya. Itu, jadi dari saya sama Gusti Wandansari nanti, dari pihak-pihak lain yang terkait dengan masalah keraton ini," katanya ditemui di Keraton Solo, Rabu (9/6/2026).

ADVERTISEMENT

Disinggung mengenai rencana Paku Buwono XIV Purbaya yang juga menggelar kirab pusaka malam 1 Suro, Tedjowulan enggan banyak berkomentar. Menurutnya, nanti akan ditengahi oleh Wali Kota Solo.

"Itu tadi, tanggal 13-14 saya minta Pak Wali, waktu itu mengundang-undang kita. Itu, di tempatnya Wali Kota sana. Iya (rapat lanjutan). (PB XIV Purbaya juga menggelar di waktu yang sama?) Ya nanti Pak Wali Kota berarti," terangnya.

Tedjowulan menyebut, bahwa saat ini memang masih ada yang perlu diselesaikan untuk tegak lurus dengan pemerintah.

"Hanya sekarang itu masih ada yang perlu diselesaikan terkait dengan tegak lurus tadi, antara Keraton, Pemda Tingkat 1, Tingkat 2, sampai dengan Kementerian. Itu mesti dirembuk ben hasilnya baik, ben Kota Solo toto tentrem kerto raharjo, thukul kang sarwa tinandur," terangnya.

Di kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Kota Solo, GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng mengatakan bahwa dalam rapat tersebut tidak membahas mengenai adanya dua pihak yang menggelar Kirab Pusaka 1 Suro.

"Kita nggak rembukan itu ya, Mbak, ya. Kita ngrembuk, karena beberapa kali diundang untuk rembukan tidak hanya masalah Suro, tapi masalah revitalisasi dan lain-lain, mereka tidak pernah datang. Bahkan dari Kementerian itu ngitung sudah sampai 9 kali," ungkapnya.

Untuk itu, kata dia, Keraton Solo meminta Wali Kota Solo untuk mengundang dalam Kirab Pusaka Malam 1 Suro. Ia mengatakan, dalam rapat tersebut belum memutuskan apapun.

"Nah, di sinilah akhirnya kita nyuwun untuk Suro ini Pak Wali-lah yang ngundang kita. Kita-kita itu ya kita, ya mereka, untuk berembuk bersama-sama nanti di tanggal 13 Juni atau 14 Juni. Jadi kita hari ini juga tidak memutuskan apa-apa," terangnya.

"Kita menghormati juga nopo, apa yang Pak Wali sampaikan. Nah, dengan begitu kami menyampaikan permohonan ke Pak Wali Kota untuk bisa undang sana dan undang sini untuk berembuk bersama," sambungnya.

Disinggung mengenai persiapan yang mepet, Gusti Moeng mengaku tidak ada masalah.

"Kalau kami sendiri sebetulnya kalau rutinitas jadinya tidak masalah. Iya, sudah biasa. Nanti kirab atau tidak, Maeso itu tetap dijamas (dimandikan)," pungkasnya.




(alg/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads