Sejumlah aliansi mahasiswa Banyumas Raya menggelar aksi di halaman kompleks Kantor Bupati Banyumas. Mereka datang dengan longmarch dari Lapangan Purwanegara sejauh 2 km sambil mengenakan berbagai almamater.
Pantauan detikJateng, aliansi mahasiswa tiba di lokasi sekitar pukul 15.46 WIB. Mereka menuntut agar Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD Banyumas keluar untuk menemui massa.
Namun hingga pukul 16.50 WIB tuntutan mereka tak kunjung terwujud. Aksi saling dorong pun tidak terindahkan antara aliansi mahasiswa dengan pihak kepolisian berulang kali. Saat aksi dorong ini, mahasiswa meneriakkan 'satu langkah revolusi' sambil mencoba masuk ke kompleks kantor bupati.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena tak kunjung bisa menerobos akhirnya aliansi mahasiswa membakar ban dan spanduk. Saat bersamaan mereka juga bergantian orasi dengan duduk setengah lingkaran.
Dalam aksi ini mahasiswa membentengkan beberapa spanduk bernada kritik. Di antaranya 'BBM Naik Rakyat Menjerit, Menuju Indonesia Bangkrut, Gemoy Bebal dan Menyebalkan'.
Presiden BEM UMP, Yoga Dwi Yuwono, dalam orasinya menyampaikan sejumlah sindiran dan tuntutan. Satu yang menjadi sorotan adalah naiknya harga Bahan Bakar Minyak.
"Hari ini pemerintah kita sudah mati. Ditandai dengan kenaikan BBM. Apakah mereka tidak sadar ketika BBM naik banyak rakyat yang sengsara?" kata dia dalam orasinya, Sabtu (13/6/2026).
Yoga menilai selama ini rakyat hanya dijadikan sapi perah oleh pemerintah. Sebab kerap ditarik pajak tanpa ada timbal baliknya.
"Rakyat bukan sapi perah, diambil pajaknya. Masih banyak jalan berlubang, masih banyak rakyat tidak mendapat pendidikan, akan tetapi anggaran dipangkas. Hari ini kawan-kawan di Banyumas Raya menolak diam melawan rezim Prabowo-Gibran," pekiknya.
Yoga memandang di Kabupaten Banyumas masih banyak masyarakat yang hidup di pelosok jauh dari keramaian. Oleh sebab itu masih banyak masyarakat yang tidak bisa membeli BBM bersubsidi.
"Di Banyumas masih banyak desa terisolir, jauh dari SPBU. Sedangkan Pertalite hanya bisa dibeli di SPBU. Kami minta Bupati, Wakil Bupati dan Ketua DPRD keluar menemui kita," katanya.
Aliansi mahasiswa Banyumas Raya membakar ban saat menggelar aksi di depan Kantor Bupati Banyumas, Sabtu (13/6/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
Selain itu aliansi mahasiswa juga sempat menyinggung sikap Prabowo Subianto yang kerap melontarkan kata-kata yang tidak logis. Ia menganggap Prabowo kalah dengan anak-anak karena tidak bisa berhitung.
"Prabowo kalah dengan anak-anak paud dan TK. Masa 10+6 = 17? Masa iya katanya masyarakat desa tidak menggunakan dolar," ujarnya.
Dalam aksi ini, massa juga menyampaikan lima tuntutan utama secara nasional.
1. Pertama, menghentikan efisiensi anggaran yang dinilai berdampak pada pelayanan publik serta menghentikan berbagai bentuk pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2. Kedua, menstabilkan dan menurunkan harga barang kebutuhan pokok serta harga BBM yang dinilai semakin membebani masyarakat.
3. Ketiga, menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta proyek Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai perlu dievaluasi.
4. Keempat, menolak praktik militerisme dan menegakkan supremasi sipil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
5. Kelima, mendesak Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri dari jabatannya.
Baca juga: BEM Solo Raya Demo di DPRD Solo |
(apu/apu)

