Viral di media sosial unggahan bernarasi perangkat desa pesta minuman keras (miras) di Turitempel, Guntur, Demak. Begini penjelasan kepala desa.
Unggahan itu beredar salah satunya di media sosial Instagram @infodemakraya. Dalam narasinya, akun itu menyebut pesta miras dilakukan di balai desa.
"Diluar Nurul, oknum perangkat desa di Demak, Di duga pesta miras Di balai desa hingga mabuk berat," tulis unggahan akun itu dilihat detikJateng pada Senin (15/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam unggahan itu, disertakan sebuah foto yang menampilkan dua orang sedang duduk dan menyandarkan kepalanya ke meja. Satu orang tampak hanya mengenakan kaus dalam dan satu orang lagi bertelanjang dada.
Latar foto itu terlihat seperti di ruangan perkantoran. Terlihat beberapa tumpukan map dan satu unit printer di meja lain yang berada di ruangan tersebut.
Kepala Desa Turitempel, Rohmat, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Menurutnya, kejadian pesta miras di balai desa terjadi pada Jumat (12/6) saat masih jam kerja. Pesta miras itu terjadi saat dirinya tidak berada di balai desa karena sakit.
"Hari Jumat saya kan lagi kondisi sakit, sakit gigi. Agak siang hari jam 11.30 WIB saya ditelepon Pokja saya, Pokja saya ini kan nggarap tugas persiapan lomba desa," kata Rohmat saat dihubungi detikJateng, Senin (15/6/2026).
"Saya kaget ditelepon beberapa kali, karena saya sakit, nggak tak (saya) angkat, kemudian tak angkat, ini ada apa kok telepon terus," lanjutnya.
Rohmat mengetahui adanya sejumlah orang yang pesta miras sambil berkaraoke dari laporan Pokja tersebut. Ia juga sempat tidak percaya hingga dikirimkan foto kondisi saat itu di salah satu ruangan balai desa.
"Kemudian memberitahukan kejadian terkait ada beberapa perangkat mabuk-mabukan sambil karaoke-karaokenan. Saya kan kaget, masa iya sih? Enggak mungkin lah seperti itu. Karena saya tidak percaya, sehingga dari Pokja tersebut motret keberadaan di ruangan itu. Wah, bener ek," ujar Rohmat.
Rohmat menuturkan kebiasaan mabuk-mabukan perangkatnya di balai desa saat jam kerja bukan kali pertama terjadi. Namun biasanya, tidak melibatkan banyak orang.
"Ya Allah, hampir sering cuman kan tidak melibatkan teman banyak," beber Rohmat.
Rohmat juga mengaku dirinya telah memberikan peringatan sebelumnya kepada perangkat desa yang mabuk di kantor. Namun, peringatan itu tidak dipedulikan oleh perangkatnya.
"Padahal sudah diperingatkan Pak Camat, diundang, saya SP 1 itu, terus setiap hari masih mabuk saja. Saya diamkan, nek saya SP sudah selesai riwayat. Kalau saya SP, tak SP 3 kali kan cukup, itu tak diamkan, tak briefing. Hati-hati neng kantor jangan sampai nanti warga malah tahu," ujar Rohmat.
Sementara saat unggahan peristiwa itu viral, Rohmat mengatakan bahwa ada lima orang yang ikut terlibat, termasuk perangkat dari desa lain. Miras itu juga dibeli oleh sekretaris desa atau cariknya.
"Kalau ini kan ada perangkat dari luar satu dua. Terus carik saya malah belikan minuman," ungkap Rohmat.
"Lima orang. Yang tiga perangkat kami termasuk carik, yang dua dari luar desa, tetangga sebelah desanya Bumiharjo," rincinya.
Selain itu, Rohmat menjelaskan bahwa akan diadakan Musyawarah Desa Khusus atau Musdesus menindaklanjuti viralnya peristiwa ini. Sejumlah pihak telah diundang untuk membahas persoalan ini.
"Siang hari ini kan saya adakan rapat Musdesus menyikapi terkait hal tersebut kita undang tokoh agama, kemudian ee organisasi-organisasi, kelembagaan kami semuanya, ketua dan anggota BPD, Forkompimcam, ini kan saya undang untuk menyikapi hal tersebut," tutur Rohmat.
Dari pertemuan yang akan dilakukan nanti, Rohmat baru akan mengambil kebijakan. Menurut Rohmat, kejadian perangkatnya yang pesta miras di balai desa saat jam kerja merupakan pelanggaran etika berat dan memalukan.
"Sehingga saya nanti bisa ambil kebijakan, langkah-langkah apa yang harus kita lakukan. Nak cuma kita SP, berat. Karena ini sudah (pelanggaran) etika berat, di kantor gitu loh (kejadiannya), sangat memalukan, apalagi sudah melebar ke mana-mana," kata Rohmat.
"Yang saya takutkan lagi ketika nanti saya hanya membuat sanksi ringan, saya justru malah beban di saya, terkait dengan tanggung jawab saya dengan warga masyarakat. Ngko nak sampai emosinya merujuk ke saya, kan saya malah berat, makanya nanti ya kita tunggu hasil rapatnya nanti," tambahnya.
