Dua ekor kerbau (kebo) bule keturunan Kyai Slamet viral di media sosial tiba-tiba berkelahi saat geladi jelang kirab pusaka Malam 1 Suro Keraton Solo. Pihak Serati Mahesa mengungkap penyebabnya.
Video tersebut sempat dibagikan akun media instagram @seputar_surakarta. Dua ekor kebo bule itu adu banteng dan disaksikan warga.
"Tanda alam, naluri Hewan Tak Bisa Berbohong, Kebo Bule Kyai Slamet Adu Banteng Ikut Rasakan Konflik Internal Keraton Solo saat gladi bersih jelang kirab malam 1 Suro," tulis caption tersebut seperti dikutip detikJateng, Senin (15/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serati Mahesa, Heri Sulistyo, mengatakan adu banteng dua Kebo Bule itu terjadi pada hari Sabtu (13/6) sore. Ia mengungkapkan insiden itu dipicu oleh masa kawin atau birahi.
"Ya itu karena birahi itu. Jadi ada yang jantan mau misah (rebutan betina). Itu yang Ponco sama Wati (kakaknya), mau misah jangan diganggu gitu lah," ujarnya ditemui di Alun-alun Kidul Solo, Senin (15/6).
Ia menjelaskan dua Kebo Bule tersebut sebenarnya sudah dipisahkan antara jantan dan betina untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, karena naluri alamiah yang kuat, gesekan tetap terjadi.
"Kan dari dulu satu kandang, terus dari sini tak kumpulke, beda ke (dibedakan) lah itu, dan yang birahi adiknya lah caranya, adiknya jantan apa itu, karepe misah (maunya memisahkan diri)," jelasnya.
Aksi kedua kerbau saling seruduk ini diakui cukup menguras pikirannya. Sebab, jika kerbau sudah dalam kondisi birahi dan emosi, sulit untuk dikendalikan secara instan.
"Wah. Nah kalau dukanya ya kebo tarung itu, sangat, sangat, lumayan pusing itu. Kerbau itu kalau berantem, birahi itu, itu kan alami," tambahnya.
Heri mengatakan akibat kejadian itu tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Dua Kebo Bule itu hanya merusak beberapa benda di sekitar lokasi akibat tabrakan fisik mereka.
"Nggak (ada korban), cuma ya nubruk-nubruk gitu, barang-barang paling, kena-kena kesenggol-kesenggol gitu," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak lima ekor kebo bule keturunan Kyai Slamet milik Keraton Solo dilepas dari kandang. Kebo itu kemudian diarak mengitari Keraton menjelang kirab malam 1 Suro.
Prosesi pelepasan kebo bule ini dalam rangka gladi Mahesa sebagai bagian dari persiapan menyambut Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro Tahun Be 1960 pada Selasa (16/6) malam.
Serati Mahesa, Heri, mengatakan lima kebo bule itu akan dilepas selama dua hari. Sebelum akhirnya diistirahatkan, dan kembali dikeluarkan saat kirab malam 1 suro.
"Selama dua hari dikeluarkan, hari ini, sama besok. Buat latihan jalan, karena lama tidak keluar (kandang), biar kakinya lemas (peregangan). Biasanya lari (setelah dikeluarkan), tapi ini sepertinya kakinya kaku," kata Heri kepada awak media, Sabtu (13/6).
Saat dikeluarkan, kebo itu dibiarkan berkeliaran di luar kandang di kawasan Alun-alun Kidul. Setelah itu, kelimanya diajak untuk mengelilingi Keraton, untuk peregangan.
"Ada lima ekor (yang dilepas). Betinanya 3 ekor, jantannya 2 ekor. Namanya paling tua Nyai Paing (13), Ponco, Watin, Mugi, dan paling kecil Suro (3). Ada yang birahi kayake, agak rewel, tapi besok sudah tidak. Biasa kalau 1-2 hari seperti itu," ucapnya.
(apu/ams)
