Penutupan Jembatan Serayu di Kecamatan Banyumas, sudah mulai diberlakukan hari ini dan akan berlangsung hingga tanggal 30 Juli 2026. Selain kendaraan umum penutupan ini juga turut berdampak pada operasional Trans Banyumas.
Kasi Pengendalian dan Operasional Dishub Banyumas, Tomi Luqman Hakim, mengatakan penutupan ini memberi dampak bagi Koridor 4 yang melayani rute menuju wilayah Banyumas.
Untuk sementara, kata Tomi, waktu layanan Trans Banyumas Koridor 4 tidak lagi melayani perjalanan hingga selatan Sungai Serayu. Rute dialihkan menuju kawasan wisata Kalisada di Kaliori.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk Trans Banyumas Koridor 4 yang tadinya sampai Banyumas, sekarang dibelokkan ke barat sampai Wisata Kalisada Kaliori. Nanti halte atau pemberhentian terakhirnya ada di Kalisada Kaliori," kata Tomi saat ditemui di lokasi, Senin (15/6/2026).
Di lokasi tersebut, armada akan berhenti sekitar lima menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan menuju Purwokerto.
"Trans Banyumas berhenti sekitar lima menit lalu kembali lagi ke Purwokerto. Jadi sementara tidak ada yang menyeberang ke selatan sungai, dialihkan sampai Kaliori saja," ujarnya.
Menurut dia skema pengalihan arus yang sebelumnya diuji coba pada Jumat (12/6) mulai diterapkan penuh sejak pagi hari.
"Jadi kemarin hari Jumat kami sudah melaksanakan uji coba penutupan Jembatan Serayu mulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Pada saat uji coba kami menempatkan personel flagman di sejumlah simpang untuk memberi tahu kendaraan roda empat besar atau lebih agar tidak melewati Jembatan Serayu," terangnya.
Menurutnya, petugas ditempatkan di sejumlah titik strategis seperti Simpang Klampok, Banjarnegara Simpang Buntu, dan persimpangan lain yang dinilai memerlukan pengaturan lalu lintas.
Tomi menjelaskan, pada hari pertama penutupan, para petugas sudah bersiaga sejak pukul 06.00 WIB hingga 07.00 WIB sebelum jembatan ditutup. Hasilnya, kendaraan besar yang biasanya melintasi wilayah Banyumas dan Kaliori sudah berkurang signifikan.
"Tadi cukup lengang untuk kendaraan roda empat besar di sekitar Banyumas maupun Kaliori karena sebagian besar sudah tidak melintas ke area tersebut," ujarnya.
Meski demikian, kendaraan roda empat kecil masih banyak yang belum mengetahui informasi penutupan jembatan. Akibatnya, banyak pengendara yang memilih jalur alternatif melalui Mandirancan-Papringan.
"Sebagian besar larinya ke jalan Mandirancan-Papringan. Tapi sejauh ini kondisinya masih cukup lancar," jelasnya.
Terkait adanya perahu penyeberangan yang dimanfaatkan sebagian warga untuk melintas di Sungai Serayu, Tomi mengaku pihaknya tidak merekomendasikan penggunaan sarana tersebut.
"Kami tidak merekomendasikan karena dari sisi keselamatan kami tidak bisa memastikan aman atau tidak. Jadi kami sarankan tetap menggunakan jalur Mandirancan-Papringan," tegasnya.
Sementara itu, pengguna kendaraan yang melintas melalui jalur alternatif Mandirancan harus menempuh jarak lebih jauh dibandingkan rute normal melalui Jembatan Serayu.
"Kalau hitungan kami, dari Kaliori sampai Banyumas melalui Mandirancan kurang lebih bertambah sekitar enam kilometer. Dari Kaliori belok kanan sampai Pegalongan, lalu belok kiri ke Mandirancan, kurang lebih enam kilometer," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, jembatan Serayu Banyumas resmi ditutup hari ini sejak pukul 08.00 WIB untuk perbaikan. Penutupan ini rencananya akan berlangsung selama satu setengah bulan sampai 30 Juli 2026.
Pantauan detikJateng, dua sisi jembatan dari arah utara dan selatan sudah ditutup menggunakan seng. Meski begitu masih ada beberapa pemobil terutama pelat nomor luar kota yang belum mengetahui informasi ini hingga terpaksa harus memutar.
Sementara untuk pejalan kaki dan pemotor memilih untuk menaiki perahu yang lokasi dermaganya berjarak sejauh sekitar 1 km dari arah jembatan ke barat.
Dermaga tersebut terletak di Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor yang merupakan depo pasir. Sementara di sisi selatan dermaganya berada di Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas.
Perahu penyeberangan yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut pasir kini disulap menjadi sarana transportasi alternatif untuk membantu masyarakat menyeberangi sungai tanpa harus memutar hingga puluhan menit.
Pemilik Perahu penyeberangan, Syamsudin, mengaku awalnya menyediakan layanan tersebut untuk kebutuhan pribadinya. Namun, melihat banyak warga kesulitan akibat penutupan jembatan, ia memutuskan membuka jasa penyeberangan bagi masyarakat.
"Awalnya memang karena kebutuhan untuk diri saya sendiri. Kebetulan anak saya sekolah di SD IT, jadi daripada harus muter jauh-jauh, saya bikin perahu untuk penyeberangan. Syukur ada tetangga yang mau ikut, kan bisa untuk ibadah dan aktivitas lainnya," kata Syamsudin saat ditemui di lokasi, Senin (15/6).
Simak Video "Berfoto Menarik di Bawah Bunga Sakura di Banyumas, Jawa Tengah"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apl)
