Mitra program MBG di Losari Brebes, memiliki terobosan untuk mengatasi sampah dari sisa makanan MBG. Mereka menggunakan budi daya magot untuk mengurai sampah organik MBG yang bisa mencapai 2 ton per hari.
Ada beberapa jenis sampah yang dihasilkan tiap SPPG. Sampah non organik berasal dari bekas kemasan bumbu, kotak plastik kemasan buah dan beberapa sampah yang tak terurai lainnya. Kemudian sampah organik berasal dari sisa makanan, potongan sayur dan buah.
Dinas Lingkungan Hidup dan Pengelolaan Sampah (DLHPS) Kabupaten Brebes menghitung, setiap hari masing masing SPPG menghasilkan sampah sekitar 2 kuintal. Dari jumlah itu, 110 kilogram merupakan sampah organik termasuk sisa makanan dan sampah potongan sayur, buah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saat ini sudah ada 192 SPPG yang sudah beroperasi, dan tiap dapur rata-rata menghasilkan sampah 2 kuintal setiap hari. Terdiri 110 kg sampah organik termasuk sisa makanan," ungkap Andriyani, Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHPS Brebes, Senin (15/6/2026).
Ditemui di Desa Dukuh Salam Kecamatan Losari, Brebes, Andriyani, mengatakan selama ini sisa makanan diberikan untuk para warga yang memelihara unggas seperti ayam atau entok. Ada pula yang diangkut armada sampah milik BUMDes untuk dikirim ke TPA.
Baca juga: Avanza Ludes Terbakar di Tol Semarang |
Namun saat ini, lanjut dia, ada cara yang lebih efektif untuk menangani sampah sisa makanan tersebut, yakni dengan budidaya magot. Selain rakus dalam memakan sampah, magot memiliki nilai jual. Cara penanganan sampah dengan magot ini sudah dilakukan oleh para mitra MBG di Kecamatan Losari
"Jika satu desa ada yang budidaya magot, bisa menangani sampah makanan sampai 2 ton per hari, seperti di Losari ini," kata Andriyani.
Terpisah, Ketua Forum Mitra Ketahanan Gizi (Formagi) Brebes, Muhaemin Primawan, menjelaskan saat ini tempat pengelolaan sampah terintegrasi yang difokuskan untuk mengolah limbah dari dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ada di wilayah Kecamatan Losari.
Tempat pengelolaan sampah tersebut berdiri di atas lahan seluas 11.000 meter persegi dan menjadi yang pertama di Brebes yang secara khusus menangani sampah dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ketua Formagi Brebes, Muhaemin, mengatakan terdapat 10 dapur SPPG di Kecamatan Losari yang setiap hari menghasilkan sekitar dua ton sampah.
"Dari total dua ton sampah itu, sekitar separuhnya merupakan sampah organik dan sisanya anorganik. Sebagian besar sampah organik tersebut akan diolah menggunakan sistem biopon magot," terang dia.
Muhaemin menjelaskan, inisiatif pembangunan tempat pengelolaan sampah terintegrasi itu lahir dari kesadaran para pengelola dapur SPPG untuk turut bertanggung jawab dalam penanganan sampah.
"Kami berharap fasilitas ini dapat membantu pengelolaan sampah di Kabupaten Brebes, khususnya di lingkungan dapur SPPG," tambahnya.
(aku/apl)
