Aliansi mahasiswa Semarang Raya menggelar aksi demonstrasi di halaman kompleks Gubernuran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang. Mereka sempat membakar ban dan boneka jelangkung.
Pantauan detikJateng, mahasiswa sempat membakar ban dan tumpukan poster yang mereka bawa. Namun tak berselang lama, polisi langsung menyemprotkan air dari water canon.
Mahasiswa juga sempat membakar boneka jelangkung dengan kepala berisi dupa kemudian diletakkan di pagar gedung DPRD Jateng. Lagi-lagi pembakaran itu langsung disemprot water canon dan APAR (alat pemadam api ringan).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, aksi dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Mereka membawa berbagai poster tuntutan seperti 'Reformasi Mati', 'Kabulkan 7 Desakan Darurat Ekonomi', hingga 'Saatnya Reformasi'.
Presiden BEM Universitas Negeri Semarang (UNNES), Septia Linasari mengatakan, aksi tersebut merupakan gabungan berbagai elemen mahasiswa dan organisasi masyarakat di Semarang.
"Tuntutan hari ini kita singkat jadi Pantura atau Panca Tuntutan Rakyat. Pertama, turunkan harga BBM dan stabilkan nilai rupiah. Kedua, kembalikan TNI dan Polri ke fungsi yang sebenarnya. Ketiga, evaluasi total terkait MBG dan KDMP atau program-program yang populis," kata Septia di halaman gubernuran, Senin (15/6/2026).
"Tuntutan keempat adalah kembalikan tanah kepada rakyat, dan kelima adalah penghapusan atau pemberhentian KKN di pemerintahan Prabowo-Gibran. Tuntutannya ada lima itu," lanjutnya.
Para mahasiswa tampak terus menyerukan 'reformasi!' saat pembakaran ban dilakukan. Septi menyebut pembakaran itu menjadi simbol kemarahan masyarakat.
"Prosesi pembakaran ataupun yang lain menjadi simbol bahwasanya kita memang sedang marah. Kita kemarin mengonsolkan bahwa tidak ada satu aksi pun yang pada akhirnya ditemui," ucapnya.
"Walaupun ditemui, tapi tidak ada tindak lanjut secara konkret. Di sini kita hanya mencoba untuk menarik atensi masyarakat, bahwa Indonesia saat ini tidak baik-baik saja," lanjutnya.
Pembakaran ban-boneka jelangkung dalam aksi di halaman Gubernuran, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Senin (15/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Salah satu tuntutan yang disoroti adalah kenaikan harga BBM nonsubsidi. Menurutnya, harga BBM di Indonesia yang belum turun seperti harga BBM dunia berpotensi mendorong pengguna Pertamax beralih ke Pertalite sehingga memicu antrean lebih panjang.
"Harapan kita BBM ini segera diturunkan walaupun yang nonsubsidi," jelasnya.
Selain itu, mahasiswa juga menyoroti pengesahan Undang-Undang Polri yang dinilai membuka peluang anggota kepolisian menduduki jabatan sipil. Septi menilai, kebijakan itu justru mempersempit ruang kerja masyarakat.
"Polri sudah tugas mereka adalah mengayomi masyarakat. Kenapa pada akhirnya sekarang malah merebut apa yang menjadi hak masyarakat umum. Jadi sangat disayangkan sekali dan mungkin perlu judicial review," tegasnya.
Ia menilai, perluasan peran Polri di jabatan sipil bertentangan dengan janji pemerintah untuk membuka jutaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
"Dengan semakin disahkannya UU Polri, ruang masyarakat itu semakin sempit," katanya.
Mahasiswa juga menyoroti soal program Koperasi Desa Merah Putih.
"Itu bukti bahwasanya terlalu memaksakan. Ketika rakyatnya sudah menolak, ketika rakyatnya sudah tidak mau, kenapa pada akhirnya terlalu memaksakan hal seperti itu?" ujarnya.
"Bagus programnya ketika ingin memutar roda perekonomian masyarakat. Tapi nyatanya bukan seperti itu. Koperasi Desa Merah Putih tidak menggambarkan adanya koperasi," lanjutnya.
Unjuk rasa itu berlangsung hingga pukul 18.00 WIB. Massa kemudian membubarkan diri dan Jalan Pahlawan yang sempat ditutup dari arah selatan berangsur dibuka hingga arus lalu lintas kembali seperti semula.
Baca juga: Avanza Ludes Terbakar di Tol Semarang |
(alg/dil)

