Penutupan Jembatan Serayu di Kabupaten Banyumas selama 45 hari, sejak Senin (15/6) hingga Kamis (30/7), berimbas pada melonjaknya aktivitas warga yang memanfaatkan jasa perahu penyeberangan darurat.
Perahu penyeberangan darurat yang beroperasi di Sungai Serayu pun menjadi alternatif utama bagi warga, sekaligus menjadi sumber penghasilan baru bagi para pekerja tambang pasir.
Pantauan detikJateng hari ini, jumlah perahu yang beroperasi ditambah satu. Total ada dua perahu yang bergantian menyeberangkan pemotor dari Desa Kaliori, Kecamatan Kalibagor, menuju Desa Sudagaran, Kecamatan Banyumas, dan rute sebaliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik depo pasir sekaligus perahu penyeberangan darurat, Tugiman, mengaku baru mengoperasikan perahunya sejak Selasa (16/6). Karena banyak pemotor dan masyarakat yang menyeberang, dirinya berinisiatif mengoperasikan dua perahu yang dijejer jadi satu.
Angkutan perahu darurat untuk menyeberang Sungai Serayu, Banyumas, karena jembatan sedang dalam perbaikan, Rabu (17/6/2026). Foto: Anang Firmansyah/detikJateng |
"Saya baru mengoperasikan perahu kemarin atau hari kedua. Karena memang banyak sekali aktivitas masyarakat, biar antreannya tidak lama dan menumpuk," kata Tugiman saat ditemui wartawan di lokasi, Rabu (17/6/2026).
Meski begitu dirinya tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah penumpang maupun sepeda motor yang telah diangkut setiap harinya. Seluruh operasional penyeberangan diserahkan kepada para pekerja di lapangan.
"Terus terang saya tidak tahu berapa motor atau berapa kali trip dari sana ke sini. Saya percayakan sama orang yang ngurus. Saya hanya menerima hasilnya saja dari aktivitas penyeberangan pakai perahu ini," terangnya.
Menurutnya, sistem pembagian hasil juga tidak dipatok dengan sistem yang saklek. Ia lebih mengutamakan kesejahteraan para pekerja yang mengoperasikan perahu.
"Saya tidak menargetkan harus dapat berapa. Dikasih sepantasnya saja. Yang penting pekerja jangan sampai terlantar. Mereka dibagi dua sift dan yang kerja di sini jangan sampai diabaikan," ujarnya.
Tugiman mengungkapkan, perahu miliknya sehari-hari digunakan untuk aktivitas penambangan pasir di Sungai Serayu. Namun sejak jembatan ditutup, sebagian besar armada dan pekerja dialihkan untuk melayani penyeberangan warga.
"Sebenarnya saya punya lima perahu untuk pasir. Tapi kebanyakan sekarang ikut di sini. Banyak yang biasanya menggali pasir sementara tidak jalan dulu," jelasnya.
Tingginya kebutuhan warga untuk menyeberang membuat layanan perahu semakin ramai dari hari ke hari. Meski demikian, Tugiman mengaku belum berani menambah armada karena keterbatasan tenaga operator.
"Memang semakin ramai. Saya sempat kepikiran tambah perahu, tapi tenaganya terbatas. Yang nyetir perahu harus punya keahlian khusus. Kalau belum ahli, takut terjadi sesuatu," katanya.
Salah seorang pekerja perahu, Guntar, mengatakan dirinya sehari-hari bekerja di depo pasir. Namun sejak layanan penyeberangan darurat dibuka, ia memilih membantu operasional perahu untuk melayani masyarakat.
"Saya biasanya kerja di depo pasir. Tapi karena ada ini jadi sementara libur dulu. Pasir juga lagi sepi. Lagi pula kasihan masyarakat, jadi saya ikut kerja di perahu ini," kata Guntar.
Untuk tarif penyeberangan, warga dikenakan Rp 5.000 untuk satu sepeda motor dan satu orang penumpang. Sementara jika berboncengan dua orang dikenakan tarif Rp 7.000.
Menurut Guntar, hasil operasional kemudian dibagi antara pemilik dan pekerja. Ia menyebut skema pembagian yang berlaku sekitar 60:40.
"Misal kalau dapat Rp 100 ribu pembagiannya kalau tidak salah 60:40," ujarnya.
Operasional penyeberangan saat ini melibatkan sekitar 12 pekerja yang dibagi dalam dua sift dan berlangsung selama 24 jam.
"Dari kemarin saya kerja dari jam 4 pagi sampai jam 12 siang dapat Rp 100 ribu. Teman saya juga sama. Tapi ini kan baru dua hari, jadi penghasilannya belum bisa dibilang memadai," katanya.
Guntar menjelaskan, setiap perahu mampu mengangkut sekitar 20 penumpang dan 10 hingga 12 sepeda motor dalam sekali perjalanan. Dengan kapasitas tersebut, muatan perahu diperkirakan tidak sampai empat ton.
"Kalau menyeberang sebenarnya tidak sampai 10 menit. Yang lama itu masuk-masukin motor ke perahu dan antreannya," ujarnya.
Ia menambahkan, keberadaan perahu darurat sangat membantu warga karena jalur alternatif yang tersedia cukup jauh.
"Kalau harus mutar bisa sampai sekitar satu jam. Lewat Mandirancan jalannya sempit dan susah buat menyalip," kata Guntar.
Selama penutupan Jembatan Serayu, perahu-perahu darurat tersebut diperkirakan masih akan menjadi tumpuan utama mobilitas warga yang hendak menyeberangi Sungai Serayu tanpa harus memutar jauh melalui jalur alternatif.
(dil/alg)

