Batu lingga prasasti temuan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, telah direlokasi ke museum. Prasasti berwujud lingga patok ditempatkan di ruang dalam Museum Klaten.
"Sampai kantor tadi langsung kita bersihkan, termasuk sisa semen yang menempel. Kita letakkan di ruang dalam, ruang koleksi," jelas pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung kepada detikJateng, Selasa (17/6/2026).
Wiyan Ari mengatakan, pemindahan dilakukan siang hari tadi bersama tim. Sebelum relokasi dilakukan, sebelumnya sudah dibuatkan berita acara serah terima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita buatkan berita acara. Diserahkan dengan disaksikan sesepuh masyarakat setempat," terang Wiyan Ari.
Menurut Wiyan Ari Tanjung, pemindahan dilakukan dengan menggunakan cara manual tetapi dengan kehati-hatian. Tidak menggunakan crane tetapi dengan diangkut troli.
"Tidak dengan crane seperti pada Yoni. Kita cukup menggunakan troli dibawa dengan mobil dinas biasa," katanya.
Dengan dibawa ke museum, sebut Wiyan Ari Tanjung, prasasti tersebut lebih terjaga dari kemungkinan rusak. Masyarakat bisa menyaksikan ke museum.
"Warga bisa melihat ke museum. Harapannya dengan dibawa ke museum bisa menjadi edukasi sejarah masyarakat lebih luas," pungkas Wiyan Ari Tanjung.
Sesepuh warga, Sarjono (78) menyatakan tidak masalah lingga itu dibawa ke Pemkab. Dulunya sebelum di gang utara masjid, lingga berada di dekat sumur masjid.
"Dulunya awal itu di dekat sumur masjid, terus dipindah ke sana (gang utara masjid). Darimana asalnya juga tidak tahu," katanya kepada detikJateng.
Sebelumnya diberitakan, sebuah batu lingga ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Batu lingga yang ditemukan di gang rumah warga itu memiliki tulisan atau beraksara.
"Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti," terang pamong budaya ahli pertama Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, kepada detikJateng di lokasi, Sabtu (13/6/2026).
Dijelaskan Wiyan, saat sampai lokasi posisi lingga terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan ternyata ada aksaranya.
"Setelah kita bersihkan ternyata ada aksaranya. Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca," papar Wiyan Ari Tanjung.
Untuk lingga tersebut, terang Wiyan Ari, memiliki tinggi 82 centimeter dan lebar 35 centimeter. Bagian atas batu berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit.
"Bagian atas berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit. Di tepi jalan depan masjid ada yang diduga Yoni posisi terpendam," lanjut Wiyan Ari.
Pamong budaya ahli pertama BPK Jateng, Harun Al Rasyid kepada detikJateng menjelaskan, dari hasil pengukuran tinggi batu lingga 82 centimeter, diameter 34 centimeter, dan alas kubus 32 x 32 centimeter. Untuk tinggi huruf 3,5 centimeter dengan panjang tulisan 34 centimeter.
"Tinggi huruf 3,5 centimeter dengan panjang tulisan 34 centimeter. Dari ejaan tulisan sama dengan yang lain yaitu Palyangan, hurufnya era Mataram kuno abad 9-10 Masehi atau akhir-akhir," terang Harun.
(alg/dil)
