BEM Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengungkap awal mula terjadinya pengepungan terhadap terduga pelaku pelecehan verbal, MFA (19), tengah malam tadi. Para mahasiswa berkumpul untuk menggeruduk pelaku yang diduga telah melecehkan mahasiswi driver anjem (antar jemput).
Presiden BEM Unnes, Septia Linasari, mengatakan pengepungan itu terjadi Rabu (17/8) tengah malam hingga Kamis (18/6) dini hari tadi. Mulanya, salah satu korban mengirim cuitan di akun menfess di media sosial X.
"Tadi malam itu ada satu korban yang speak up di menfess. Jadi kenapa ada banyak kerumunan di situ, karena publikasinya di menfess, kan banyak orang yang memang aktif di situ dan banyak orang yang live TikTok," kata Septi saat dihubungi detikJateng, Kamis (18/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awal mulanya, kata dia, korban yang merupakan driver anjem dihubungi oleh pelaku melalui pesan WhatsApp karena berada dalam satu grup anjem. Pelaku disebut berpura-pura menjadi pelanggan anjem.
"Si pelaku ini nge-chat salah satu driver cewek. Awal modusnya nanyain apakah ready anjem atau tidak, tapi lama-kelamaan chat-nya mengarah berbau seksual. Pelaku pura-pura jadi customer aja," ucap Septi.
Setelahnya, korban lantas meminta pelaku untuk bertemu dan meminta maaf kepada korban secara langsung.
"Jadi si pelaku itu memang dijebak korban atau diajak korban untuk ketemu, meminta maaf secara langsung dan melakukan video klarifikasi di BNI," ucapnya.
"Cuma karena korban sudah speak up di menfess, jadi teman-teman yang lain pun tahu bahwasanya di jam tersebut ada klarifikasi pelaku pelecehan seksual secara verbal," lanjutnya.
Beberapa mahasiswa yang melihat klarifikasi itu pun melakukan siaran langsung di media sosial, sehingga semakin banyak mahasiswa yang datang. Terduga pelaku sempat dikepung ketika dia sembunyi di pos satpam sekitar pukul 23.00 WIB.
"Kalau dari TikTok kan biasanya memunculkan live di sekitar mereka. Makanya dari situ mulai massa banyak yang ke ATM Center karena melihat live TikTok, melihat postingan di menfess juga," tuturnya.
Menurutnya, pelecehan yang dilakukan pelaku hingga saat ini teridentifikasi adalah pelecehan verbal. Malam tadi, BEM Unnes pun langsung mengondisikan massa agar tidak terjadi kekerasan fisik.
"Itu kan memang spontan, sebelumnya belum ada laporan apapun. Korban tidak pernah melaporkan ke BEM KM ataupun BEM fakultas, makanya dari kita tidak tahu sebelumnya ada kasus seperti ini," tuturnya.
"Kalau dari BEM sendiri kemarin karena masanya sudah banyak banget, kalau pelakunya keluar mungkin akan terjadi kekerasan, pemukulan, dari kita mencoba mengondisikan massa dulu," lanjutnya.
Usai massa kondusif, lanjut Septi, pelaku langsung dibawa ke Polrestabes Semarang. BEM Unnes pun terus mengawal kasus itu. Ia berharap, Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPK) Unnes bisa mengusut kasus itu secara maksimal.
"Karena di Unnes sendiri ada satgas PPK, yang berwenang untuk menginvestigasi, untuk menyelesaikan kasus tersebut. Dari teman-teman BEM KM tugasnya hanya mengedukasi terkait kekerasan," ucapnya.
Septi mengaku, pelaku sendiri disebut sehari-hari jarang berkumpul dengan teman-temannya. Ia juga sempat menjadi Duta Genre Berbakat Putra 2024 Kabupaten Jepara.
"Kalau sehari-harinya dikatakan dia memang introvert, jarang bergaul walaupun memang ada beberapa teman-teman di sekitar dia. Memang asalnya dari Jepara, terkait duta genre sepertinya memang benar. Pelaku benar inisialnya FA, dari Ilmu Keolahragaan," ucapnya.
Terpisah, kampus juga membenarkan adanya pengepungan terhadap pelaku pelecehan itu tengah malam tadi. Kasi Humas Unnes, Surahmat mengatakan, kampus menerima laporan dugaan kekerasan seksual pada Rabu (17/6) pukul 14.30 WIB melalui hotline pengaduan.
"Satgas PPK Unnes telah menangani SOP dan peraturan yang ada. Tahap awal dalam merespons laporan adalah menggali informasi dari pelapor," kata Surahmat dalam keterangan tertulis.
Setelah menerima laporan, Satgas PPK langsung memanggil pelapor pada hari yang sama pukul 16.30 WIB untuk mengumpulkan keterangan dan bukti awal.
"Dalam proses pemeriksaan tersebut, Satgas mengidentifikasi adanya tiga korban kekerasan seksual," ujarnya.
Menurut Surahmat, saat proses pendalaman berlangsung, muncul unggahan dari akun anonim di media sosial X yang menuntut terduga pelaku menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada korban.
"Terjadi eskalasi yang menyebabkan keriuhan pada Rabu malam hingga Kamis dini hari," ucapnya.
Setelah adanya eskalasi tersebut, terduga pelaku langsung diamankan oleh petugas kepolisian dari Polrestabes Kota Semarang. Unnes pun menyatakan memahami keresahan yang muncul di kalangan mahasiswa terkait kasus tersebut.
"Kapasitas Satgas PPK dalam melakukan penanganan kekerasan merujuk pada Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 dan Peraturan Rektor Nomor 115 Tahun 2024," kata Surahmat.
Saat ini, Satgas PPK masih melakukan pendalaman informasi terhadap laporan yang diterima. Kampus juga memastikan akan berkoordinasi dengan kepolisian dalam proses penanganan kasus tersebut.
"Satgas PPK UNNES akan bekerja sama dengan Polrestabes Semarang untuk menangani hal tersebut dan menciptakan suasana serta lingkungan akademik yang aman," jelasnya.
Sementara itu, Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Sriniti mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari kampus Unnes bahwa ada massa berkumpul yang mengepung pelaku, Rabu (17/6) malam. Polisi pun langsung datang untuk mengamankan pelaku.
"Terduga pelaku diamankan semalam jam 01.30 WIB. Kita cek kondisi terduga dulu ya apakah ada kekerasan atau tidak. Selanjutnya kita dalami. Ini masih ditahan saat ini. (Sampai kapan?) Kita masih dalam proses penyidikan," kata Sriniti di Mapolrestabes Semarang, Kamis (18/6).
"Pelaku inisial M. Usianya sekitar 19 tahun. Asalnya dari luar Kota Semarang," lanjutnya.
(alg/apl)
