Mengungkap Arti Palyangan Pada Batu Lingga di Gumulan Klaten

Mengungkap Arti Palyangan Pada Batu Lingga di Gumulan Klaten

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Minggu, 21 Jun 2026 07:00 WIB
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026).
Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Batu lingga prasasti bertuliskan Palyangan ditemukan di gang Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten, Utara. Dari pembacaan sementara, Palyangan memiliki arti yang ada hubungannya dengan lubang.

Pamong budaya ahli pertama Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jateng, Harun Al Rasyid menjelaskan prasasti tersebut dibaca Palyangan yang berarti tempat berlubang.

"Tempat berlubang (artinya). Mungkin kaya sejenis lembah jadi disebut palyangan," ungkap Harun, Sabtu (20/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Harun lubang tersebut mungkin saja bermakna lubang mata air. Bisa jadi bermakna tempat menancapkan sesuatu, misalnya lubang menancapkan batu.

"Atau bisa dihubungkan dengan tempat manusuk sima, lubang tempat menancapkan watu sima," terangnya.

ADVERTISEMENT

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi berpendapat Palyangan tidak hanya memiliki arti lubang. Bisa saja sebagai tempat yang berlubang.

"Menurut saya pribadi merujuk catatan Dr J.L.A Brandes (1913 yang melaporkan prasasti Mudal dan Srago bertuliskan Palyangan) ditulis sebagai tempat yang berlubang, secara awam Palyangan, liang, tempat yang berlubang," ungkap pegiat sejarah Klaten, Hari.

Makna lubang, sebut Hari, tentu tidak hanya lubang besar seperti ceruk atau gua tetapi bisa juga lubang mata air atau saluran. Namun yang jelas jika berbicara konteks, di lokasinya ada sesuatu yang penting.

"Ada sesuatu yang istimewa sehingga harus dibuatkan tanda tugu sebagai peringatan. Bahwa di tempat tugu tersebut dinamakan sebagai Palyangan," jelas Hari.

Menurut Hari, jika merujuk temuan baru itu dan catatan Brandes sudah ditemukan tiga prasasti dengan isi yang sama. Biasanya prasasti lingga patok semacam itu ada empat.

"Minimal ada empat di empat penjuru mata angin, berarti kurang satu. Apakah Palyangan itu mencakup semua luas di empat sisi itu atau hanya di tiap tugu itu, ini belum ada penelitian lebih lanjut apa makna Palyangan," katanya.

"Atau bisa juga Palyangan itu sebuah tempat atau lokasi untuk menanam sesuatu yang mempunyai nilai tinggi sehingga pada masa itu perlu dibuatkan tugu sebagai penanda, mungkin juga," imbuhnya.

Banyak Mata Air

Epigraf, Goenawan A Sambodo yang pertama membaca tulisan tersebut juga berpendapat serupa. Palyangan kemungkinan bermakna lubang.

"Lubang (artinya), tapi entah bermakna apa," ungkap Goenawan saat diminta konfirmasi.

detikJateng mencoba menelusuri Dukuh Jogodayoh Lor dan menemukan menemukan dua Umbul atau mata air di timur dusun yang masih digunakan warga. Dua mata air di utara bernama sumber Kemuning dengan air jernih yang keluar dari dinding tanahnya.

Berjarak sekitar 50 meter di selatan ada mata air yang dinamakan Sumber Gayam. Airnya lebih keruh dari Kemuning dan ditumbuhi beberapa pohon gayam besar.

Di selatan dukuh, ditemukan beberapa bekas kolam ikan. Ke Utara sekitar 300 meter ditemukan Umbul aktif bernama Sendang Mbalong yang masuk wilayah Desa Gemblegan.

Di utara Dukuh Jogodayoh Lor, juga terdapat dua dukuh bernama Dukuh Sedangan dan Sendangrejo. Namun beberapa mata air di dukuh tersebut sudah hilang digunakan untuk permukiman.

Miswan (66) warga Dukuh Jogodayoh Lor menceritakan di kampungnya memang banyak sendang, umbul atau mata air. Mulai dari selatan sampai timur.

"Banyak sendang umbul di sini, itu dekat makam (selatan dukuh) di timur ada dua. Ada juga yang Gemblegan, masih pada dipakai, lainnya jadi perumahan," kata Miswan.

Warga Desa Gumulan lainnya, Dedi menguatkan cerita Miswan. Menurut cerita kakek neneknya dulu banyak mata air di Desa Gumulan dan sekitarnya.

"Ceritanya banyak sendang, umbul. Bahkan masih ada yang namanya jumbleng tempat air, ada saluran buatan Belanda katanya untuk mengairi pabrik gula," katanya.

"Air sumur juga mudah. Dulu katanya gali tiga meter saja sudah dapat air,"imbuh Dedi.

Sebelumnya diberitakan, sebuah batu lingga ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten. Batu lingga yang ditemukan di gang rumah warga itu memiliki tulisan atau beraksara kuno.

"Kita bersama teman-teman pegiat sejarah blusukan ke sini karena kemarin ada informasi di dekat masjid Al Muttaqien ada lingga. Setelah ada laporan hari ini kita tindak lanjuti," terang analis cagar budaya dan koleksi museum Dinas Kebudayaan Pemuda Olahraga dan Pariwisata Pemkab Klaten, Wiyan Ari Tanjung, kepada detikJateng di lokasi, Sabtu (13/6/2026).

Dijelaskan Wiyan, saat sampai lokasi posisi lingga terguling dan tertutup beberapa kayu. Setelah diangkat dan dibersihkan ternyata ada aksaranya.

"Setelah kita bersihkan ternyata ada aksaranya. Tahap awal kita dokumentasikan, kita ukur dimensi dan kita akan minta bantuan epigraf untuk membaca," papar Wiyan Ari Tanjung.

Untuk lingga tersebut, terang Wiyan Ari, memiliki tinggi 82 centimeter dan lebar 35 sentimeter. Bagian atas batu berbentuk silinder dan di bawah berbentuk persegi, berbahan batu andesit.

"Kisaran abad 9 Masehi kalau dari penglihatan saya berdasar bentuk aksaranya," kata epigraf Goenawan A Sambodo.

Dijelaskan Goenawan, dirinya sudah mencoba membaca lingga berhuruf Jawa kuno tersebut. Kalimat dalam prasasti itu berbunyi Palyangan.

Epigraf BPK Jateng, Yoses Tanzaq menjelaskan hasil pembacaan tulisan berbunyi Palyangan. Aksaranya Jawa kuno tapi era Mataram kuno akhir.

"Mungkin aksaranya di era Mataram kuno Medang akhir. Nanti kita coba bandingkan dengan prasasti-prasasti di era Mpu Sindok atau Airlangga," ungkap Yoses di lokasi.




(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads