Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Demak telah memanggil panitia penyambutan tahun baru Hijriah di MTs-MA NU Mranggen Demak terkait viral penampilan penari perempuan pakai rok mini dalam acara tersebut.
Kepala Kantor Kemenag Demak, Abdur Rouf, telah memanggil pihak panitia acara itu untuk keperluan klarifikasi pada Senin (22/6) lalu. Menurutnya, pihak panitia tidak menetapkan batasan yang jelas soal cara berpakaian para penampil di acara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mereka sudah menyampaikan (kepada grup drumband yang akan mengikuti acara), yang beretika. Tapi tidak dijelaskan secara rinci seperti apa, misalkan harus pakaian sopan, menutup aurat," kata Rouf saat dihubungi detikJateng, Jumat (26/6/2026).
Rouf menyampaikan pihaknya juga telah menegur pihak panitia.
"Akhirnya dia minta maaf, ke depan tidak terulang lagi, akan dievaluasi, kemarin begitu. Pas saya panggil ya mereka menerima, nanti tahun depan tidak akan seperti itu lagi," ujar dia.
Rouf juga menyampaikan bahwa penampilan grup drumband yang viral di media sosial itu berasal dari kalangan umum, bukan siswa dari madrasah.
"Yang tampil itu ya memang yang heboh itu memang peserta dari umum, bukan dari madrasah," terang Rouf.
Berkaca dari kejadian ini, Rouf menyampaikan pihaknya akan melakukan pembinaan khusus kepada madrasah di Kabupaten Demak agar peristiwa serupa tidak terulang. Caranya mulai dari sosialisasi hingga membuat surat edaran.
"Nanti ada pembinaan khusus lah, jadi nanti pas sosialisasi di penulisan ijazah semacam itu kan kumpul semua, akan kami sampaikan semuanya. Itu menjadi bahan evaluasi, jadi madrasah betul-betul itu yang mencerminkan karakteristik madrasah," tutur Rouf.
"Nanti secara umum semua di madrasah ya tetap kami akan bikin edaran, harus madrasah itu berkarakter, mencerminkan madrasah yang, memprioritaskan akhlakul karimah. Akhlakul karimah itu mestinya yang sopan, yang menutup aurat, yang sewajarnya begitu. Tentunya harus, karena di lembaga pendidikan Islam ya harus mencerminkan akhlakul karimah," imbuhnya.
Rouf juga meminta agar penampil-penampil drumband dari kalangan masyarakat umum di Kabupaten Demak dapat menggunakan pakaian yang lebih sopan.
"Terutama berpakaian, enggak boleh pakai yang mini, terus ketat. Yang lebih sopan lah, sopan sesuai adat ketimuran. Kalau hanya gerakan-gerakan yang sewajarnya saja, yang pokoknya yang tidak mengundang hal-hal yang tidak baik lah," jelas Rouf.
Diberitakan sebelumnya, penampilan penari perempuan pakai rok mini dalam sebuah grup drumband di acara menyambut tahun baru Hijriah di halaman MTs-MA NU Mranggen, Kabupaten Demak, jadi viral di media sosial. Pihak MTs NU Mranggen buka suara soal itu.
Video yang merekam penampilan penari itu salah satunya diunggah oleh akun Instagram @beritasemaranghariini. Dalam video itu, penari itu berjoget mengenakan baju putih lengan panjang dan rok mini warna biru muda.
"Perayaan Gebyar Muharram ke-16 yang digelar salah satu sekolah di Mranggen, Demak, menuai sorotan setelah dalam rangkaian acara tersebut ditampilkan pertunjukan tarian yang dinilai tidak sejalan dengan identitas, nilai, serta karakter lembaga pendidikan," tulis takarir unggahan akun tersebut dilihat detikJateng, Selasa (23/6/2026).
Klarifikasi MTs NU Mranggen
Kepala MTs NU Mranggen, Muhamad Abdul Kodir, mengatakan aksi itu terjadi di halaman MTs-MA NU Mranggen, Kabupaten Demak, pada Selasa (16/6).
"Itu acara menyambut tahun baru Hijriah. Nggih. Itu kan itu kalau sesuai di judulnya kan itu acara yang ke-16," kata Kodir saat dihubungi detikJateng, Selasa (23/6/2026).
Kodir mengatakan, sebelumnya, acara semacam ini lebih banyak mengundang grup drumband kalangan pelajar. Namun, karena tahun ini kuota pesertanya tidak terpenuhi, pihaknya memberikan kuota lebih banyak kepada grup drumband umum dari masyarakat.
"Untuk drumband remaja itu cenderung istilahnya kayak mati suri ya, maksudnya kegiatan itu seperti biasanya kita memberikan alokasi untuk kegiatan tersebut itu ya ada porsi untuk pelajar, ada porsi untuk umum," ujar Kodir.
"Kebetulan untuk yang porsi pelajar itu tidak terpenuhi karena banyak grup drumband yang yang vakum, sehingga porsi itu ya akhirnya diberikan kepada yang umum," tambahnya.
Bukan Pelajar MTs NU
Kodir menjelaskan, ada 26 grup drumband yang tampil dalam acara tersebut dengan didominasi dari kalangan umum. Ia juga menegaskan penampilan yang viral di media sosial itu berasal dari grup drumband umum.
"(Tahun) Ini jumlahnya ada 26 grup, yang pelajar itu hanya ada tiga, satu dari MTs NU, dua dari TK, sisanya itu umum," terangnya.
"Yang viral itu bukan drumband pelajar, baik itu itu bukan pelajar dari MTs NU maupun pelajar dari luar, tapi itu notabene adalah tampilan dari drumband umum," imbuh dia.
Kodir menegaskan pihaknya sudah mengantisipasi adanya penampilan grup drumband dengan pakaian yang dinilai kurang pantas.
"Kita di awal ya sudah menyampaikan di pembukaan termasuk di technical meeting untuk bisa tampil dengan menjaga etika, untuk menjaga kondusivitas, untuk menjaga ketertiban. Nah, ternyata dalam tampilan ada yang seperti itu, kita ya istilahnya tidak menduga," ungkap Kodir.
Drumband-Mujahadah
Kodir juga menyampaikan acara Gebyar Muharram di sekolahnya itu tidak hanya diisi dengan drumband. Ada juga kegiatan lain seperti mujahadah hingga pemberian apresiasi kepada siswa berprestasi.
"Acara itu kita juga tidak hanya penampilan drumband mawon, kita juga ada mujahadah di malam harinya. Sebelumnya kita juga ada wisuda, ada pemberian hadiah kepada siswa berprestasi untuk kita beri apresiasi sepeda motor untuk yang hafal 30 juz," kata Kodir.
Kodir meminta maaf terkait video viral di media sosial tersebut. Hal itu akan dia jadikan sebagai evaluasi.
"Karena itu sudah telanjur viral dan mungkin menjadi ramai, kita mohon maaf atas kegaduhan ini dan akan menjadi introspeksi bagi kita untuk di event-event selanjutnya," ujar Kodir.
"Dengan adanya kejadian seperti ini ya kita evaluasi, terus bagaimana kita juga berpikir kalau memang tampilan itu dianggap tidak pantas ya ayo kita bersama-sama untuk memperhatikan, sehingga drumband yang ada di lingkungan Mranggen dan sekitarnya di Kabupaten Demak di Semarang itu bisa tampil lebih baik, lebih menjaga etika," pungkasnya.
