37 Ekor Primata Langka Rekrekan Terpantau Populasinya di Merbabu

37 Ekor Primata Langka Rekrekan Terpantau Populasinya di Merbabu

Jarmaji - detikJateng
Jumat, 26 Jun 2026 16:28 WIB
Surili Jawa atau Rekrekan masih terpantau populiasinya di Gunung Merbabu.
Surili Jawa atau Rekrekan masih terpantau populiasinya di Gunung Merbabu. Foto: dok BTNGMb
Boyolali -

Populasi Surili Jawa (Presbytis fredericae) atau Rekrekan, keberadaannya semakin terbatas akibat tekanan terhadap habitat alaminya. Kabar baiknya, primata endemik Pulau Jawa itu kini masih ditemukan di Gunung Merbabu.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Anggit Haryoso, mengungkapkan hasil monitoring primata tersebut pada tahun 2025 yang mencatat keberadaan 37 individu Surili Jawa. Mereka tersebar di sejumlah habitat penting kawasan Gunung Merbabu.

"Temuan tersebut menjadi indikator positif bahwa ekosistem hutan pegunungan di Merbabu masih mampu mendukung kelangsungan hidup satwa liar endemik Jawa ini," ujar Anggit Haryoso, dalam keterangan tertulis kepada wartawan Jumat (26/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikemukakan Anggit, keberadaan Surili Jawa menjadi indikator penting kesehatan ekosistem kawasan konservasi. Satwa liar hanya dapat bertahan apabila habitatnya tetap terjaga. Masih adanya populasi satwa prioritas di kawasan ini, menunjukkan kondisi habitat yang terus membaik pascakebakaran beberapa tahun lalu.

Surili Jawa atau Rekrekan ini merupakan salah satu primata endemik Pulau Jawa yang keberadaannya semakin terbatas, akibat tekanan terhadap habitat alaminya. Spesies sangat bergantung pada kondisi hutan pegunungan yang sehat. Primata ini termasuk hewan sangat dilindungi karena populasinya yang terancam punah.

ADVERTISEMENT

Surili Jawa atau Rekrekan masih terpantau populiasinya di Gunung Merbabu.Surili Jawa atau Rekrekan masih terpantau populiasinya di Gunung Merbabu. Foto: dok BTNGMb

Di kawasan Gunung Merbabu, jelas Anggit, wilayah Resor Selo menjadi salah satu kantong habitat penting bagi spesies tersebut. Pada area pengamatan seluas 96 hektar, petugas mencatat keberadaan 16 individu Surili Jawa. Kelompok Surili Jawa terbesar yang terpantau berjumlah 13 individu.

Keberadaan individu dewasa, remaja, hingga anakan yang teramati selama monitoring. Ini menunjukkan proses reproduksi masih berlangsung secara alami di habitatnya. Kehadiran anakan tersebut menjadi tanda bahwa populasi primata di Merbabu masih berkembang dan memiliki peluang keberlanjutan yang baik di alam liar.

"Ada anakan, ini menunjukkan masih terjadi proses reproduksi pada Rek-rekan," imbuh dia.

Anggit menambahkan, pemeliharaan dan pemulihan habitat pakan sebagai faktor penting yang mendukung kelangsungan hidup spesies tersebut. Vegetasi kemlandingan gunung (Albizia lophanta) yang sempat terdampak kebakaran hutan tahun 2019, kini kembali tumbuh dan mendominasi beberapa area habitat primata di Merbabu.

Vegetasi tersebut tidak hanya menjadi sumber pakan utama Surili Jawa, tetapi juga dimanfaatkan Lutung Budeng sebagai tempat berlindung dan beraktivitas. Pemulihan vegetasi pasca kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pegunungan dan mendukung keberlangsungan satwa liar di dalamnya.

"Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pegunungan akibat perubahan lingkungan dan aktivitas manusia, keberadaan primata endemik yang masih terjaga menjadi pengingat penting bahwa perlindungan habitat merupakan kunci utama konservasi satwa liar," tegasnya.

Anggit menegaskan, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu berkomitmen untuk terus memperkuat monitoring populasi, perlindungan habitat, serta pemulihan ekosistem kawasan konservasi secara berkelanjutan. Menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga memastikan satwa liar tetap memiliki rumah yang aman untuk hidup dan berkembang.




(alg/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads