Warga Kampung Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, harus melewati hari-harinya dengan rasa waswas. Sebab, jalanan permukiman mereka terus digenangi rob.
Banjir rob ini menyebabkan jalan ditumbuhi lumut. Jika tidak hati-hati, mereka yang melintasinya bisa jatuh.
Salah satu warga, Jumarlia (44), menceritakan kondisi rob saat ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dulu, banjir rob datang pada waktu tertentu. Kini sejak awal tahun ini, air menggenang setiap hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu ada masanya rob. Kalau sekarang setiap hari, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi rob terus. Jadi jalan nggak ada asatnya (keringnya)," kata dia saat ditemui di lokasi, Minggu (28/6/2026).
Sehari Pernah Ada 10 Warga Jatuh
Warga lainnya, Nurlaelatul Fadyiroh (40), menyebut rob seolah datang tidak kenal waktu. Jalanan kampung nyaris tidak pernah kering karena pasti akan terendam lagi.
"Kondisinya sangat memprihatinkan karena rob datangnya bergilir. Bisa pagi, sore, atau malam. Jalannya nggak pernah kering, selalu tergenang dan banyak lumut," ungkapnya.
Akibat jalan yang licin tersebut, Nurlaelatul bercerita pernah korban berjatuhan hanya dalam sehari.
"Realitanya kami merasa tidak nyaman. Mau kegiatan apa pun selalu dihadapkan dengan air rob. Kemarin dalam satu hari ada sekitar 10 orang yang terjatuh karena jalan licin," ujarnya.
Ia menjabarkan, tinggi genangan rob saat ini rata-rata mencapai sebetis orang dewasa sehingga menyulitkan aktivitas, termasuk anak-anak yang hendak berangkat sekolah.
"Orang mau ke masjid kena rob, anak-anak mau sekolah kena rob, warga mau dagang juga kena rob. Susah pokoknya banyak yang jatuh," ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, Aminah (49). Menurutnya, rob kini terjadi setiap hari dan tidak menentu. Hal ini terjadi sudah sejak awal tahun ini.
"Rob itu tiap hari nggak berhenti-berhenti. Nggak tentu (waktunya), robnya datang sak senenge dewe (seenaknya sendiri). Surut sebentar, nanti datang lagi," kata Aminah.
Suasana banjir rob yang menggenang di Jalan Tambakrejo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang, Minggu (28/6/2026). Foto: Arina Zulfa Ul Haq/detikJateng |
Gotong-Royong 'Ngosek' Jalan
Genangan rob ini pun membuat warga pun bergotong-royong menggosok atau 'mengosek' jalan agar tak lumutan. Warga melakukannya secara rutin.
Warga RT 1 RW 16 Tambakrejo, Jarwati (52), salah satunya. Ia menggosok jalan menggunakan sikat kamar mandi.
"Setiap hari kosek terus, kapan bersihnya ya? Capek menjatuhkan orang terus rob ini," keluhnya.
Jarwati mengatakan jika tidak sering digosok, lumutnya akan makin banyak. Baik pejalan kaki maupun pengguna kendaraan seperti sepeda motor bisa jatuh saat melintasinya.
"Robnya nggak mesti kapan datang, kering sebentar nanti naik lagi. Nggak mesti, kadang pagi, siang, sore. Kalau nggak dibersihkan kasihan banyak orang jatuh," tuturnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Aminah. Dia menyebut kegiatan menggosok jalan dilakukan setidaknya dua kali dalam sepekan.
"Tadi pagi (Minggu) ada kerja bakti pengosongan jalan. Biar nggak licin. Soalnya anak kecil pada jatuh, orang tua pada jatuh, saya sendiri juga jatuh. Motor kalau bannya sudah tipis juga bisa jatuh," ujarnya.
Masruroh (46), pemilik toko kelontong, menuturkan tangannya pegal lantaran sering menggosok jalan.
"Kalau kemarin nggak ada orang mau ke musala itu jatuh, kayaknya nggak kita kosek (gosok) jalannya. Sekarang kita ngosek jalan seminggu dua kali, tangan saya juga masih kemeng (pegal)," ucap Masruroh.
"Kalau setiap hari (menggosok) ya nggak kuat. Sudah beli sikat besi, dipakai dua kali saja sudah rusak. Sampai saya belikan pasir sama semen buat nutup rembesan, tapi tetap bocor lagi," imbuhnya.
Minta Jalanan Ditinggikan
Dikatakan Nurlaelatul, masyarakat Kampung Tambakrejo sebenarnya sudah menyampaikan keluhan ke pemerintah. Bahkan, lokasinya pernah disurvei camat hingga wali kota. Namun, belum ada rencana membangun atau meninggikan jalan di sana.
"Sudah lama sekali disurvei. Katanya mau ditinggikan, mau dibangun, tapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," jelasnya.
Perempuan yang sudah 40 tahun tinggal di Tambakrejo tersebut tercatat meninggikan rumahnya sampai tiga kali agar tidak terendam. Sekali meninggikan, biaya yang dibutuhkan bisa mencapai lebih dari Rp 100 juta.
"Kalau tidak dibangun ya kami nggak bisa tidur. Sekali meninggikan rumah mungkin Rp 100 juta juga kurang, karena harus naik 1-2 meter. Kalau cuma berapa sentimeter ya mungkin nggak sampai segitu," katanya.
"Jadi kerja banting tulang, uangnya ditabung untuk meninggikan rumah, terus langsung habis sekali meninggikan itu," lanjutnya.
Warga lain, Masruroh, juga sependapat.
"Kami memohon supaya jalannya segera ditinggikan. Yang dibutuhkan warga itu akses jalan supaya aman buat kerja, sekolah, ke musala," ujarnya.
Ia mengungkapkan pemerintah telah beberapa kali meninjau lokasi dan pernah menjanjikan peninggian jalan. Namun, hingga kini belum seluruh ruas jalan diperbaiki.
"Kalau memang dibangun ya dibangun semua. Jangan hanya sebagian, karena yang licin hampir sepanjang jalan. Kemarin itu kami dengar yang mau dibangun jalannya cuma 300 meter, kenapa cuma 300 meter?" keluhnya.

