Kini Jadi Restoran, Wisma Batari Solo Saksi Pertempuran Pejuang-Pasukan Jepang

Kini Jadi Restoran, Wisma Batari Solo Saksi Pertempuran Pejuang-Pasukan Jepang

Agil Trisetiawan Putra - detikJateng
Senin, 29 Jun 2026 16:14 WIB
Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto diunggah Senin (29/6/2026).
Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng
Solo -

Wisma Batari di Jalan Slamet Riyadi, Solo, selama ini dikenal sebagai gedung untuk berbagai acara, mulai dari seminar hingga pernikahan. Di lokasi ini juga terdapat restoran. Siapa sangka jika bangunan ini juga pernah menjadi markas militer Jepang. Begini kisahnya.

Staf Bidang Pembinaan Sejarah dan Pelestarian Cagar Budaya (PSPCB) Dinas Kebudayaan Solo, Bristian Agus Arianto, mengatakan bangunan di wilayah Kelurahan Kemlayan, Kecamatan Serengan, yang kini dikenal dengan nama Wisma Batari itu diperkirakan sudah mulai ditempati pada tahun 1900-an.

Hal itu dapat dilihat dari gaya bangunan tersebut yang memiliki arsitektur art deco khas era kolonial Belanda. Diduga, bangunan itu dulunya merupakan tempat tinggal orang Belanda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mungkin bangunannya sezaman dengan Museum Radya Pustaka, milik orang Belanda. Dulu Jalan Slamet Riyadi namanya Poerwosariweg, yang bisa menempati adalah orang dan bangsawan Belanda," kata Bristian kepada detikJateng, Kamis (25/6/2026).

ADVERTISEMENT

"Itu dulunya tempat tinggal, kemungkinan ditempati orang Belanda, karena dari arsiteknya bangunan dari kolonial sekitar tahun 1900-an," imbuhnya.

Bristian mengatakan, tidak banyak jejak dari era kolonial Belanda yang tertinggal di bangunan Wisma Batari. Pihaknya tidak menemukan catatan siapa yang dulunya menempati bangunan tersebut.

Bekas Markas Kempetai Jepang

Diketahui, agresi militer yang dilakukan Jepang di Indonesia pada 1942 memaksa Belanda angkat kaki dari Indonesia. Bangunan-bangunan yang dulunya dikuasai Belanda akhirnya jatuh ke tangan militer Jepang, termasuk Wisma Batari.

Dia menyebut Wisma Batari pada saat itu menyatu dengan Hotel Cakra yang menjadi markas Kempetai atau polisi militer Jepang.

"Kemudian dijadikan markas militer Kempetai Jepang, atau polisi militer angkatan darat Jepang. Kemungkinan itu menyambung dengan Hotel Cakra (masih satu kompleks)," ucapnya.

Wisma Batari kemudian menjadi saksi penyerbuan Barisan Keamanan Rakyat (BKR) ke markas Kempeitai pada 12-13 Oktober 1945, setelah perundingan penyerahan kekuasaan tidak disepakati Kempetai.

Penyerbuan itu dikenal dengan peristiwa Perebutan Kekuasaan dari Pemerintah Sipil Jepang Koti Jimu Kyoku dari Shochokan Watanabe kepada Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah Surakarta Mr BPH Soemodiningrat.

"Setelah itu kita kehilangan jejak lagi. Setelah kemerdekaan 1945, (Wisma Batari) digunakan siapa dan untuk apa kita belum tahu. Lalu tahun 1948 muncul Koperasi Batari, dan (Wisma Batari) dijadikan kantornya," ujar Bristian.

Koperasi Batari

Koperasi Batik Timur Asli Republik Indonesia (Batari) didirikan pada tanggal 1 Januari 1948. Koperasi Batari sejak awal telah berkantor di bekas markas Kempetai yang kini dikenal dengan nama Wisma Batari.

Bendahara Wisma Batari, Sri Mayasari mengatakan Koperasi Batari awalnya terdiri dari 10 koperasi primer batik yang menjadi satu. Koperasi Batari memiliki induk organisasi bernama Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI).

"Awalnya dari gabungan pengusaha batik, dari skala besar, menengah, dan kecil, kita rangkul semua. Koperasi Batari itu bisnis awalnya terkait jual beli bahan dan alat batik, seperti kain mori, malam, dan alat-alatnya. Anggota kita sekitar 220 anggota," kata Maya.

Masa kejayaan batik di Kota Solo semakin menurun setelah masuknya batik printing. Untuk menjaga eksistensinya, kini Wisma Batari tidak hanya digunakan sebagai Koperasi saja, namun juga merembet ke industri lain seperti persewaan gedung pertemuan hingga resto Solo Bistro.

Maya mengatakan, persewaan gedung itu sudah dilakukan sekira tahun 1980-an. Pada tahun 2011, Wisma Batari bekerja sama dengan Solo Bistro dengan sistem bagi hasil.

"Sekarang fokus utama di jasa persewaan gedung, lalu kerja sama dengan resto Solo Bistro, dan pengembangan bisnis model usaha kitchen hub. Koperasinya tetap, anggota tetap tidak berubah, 220," jelasnya.

Bangunan Cagar Budaya

Wisma Batari ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) melalui SK Walikota Solo nomor 646/1-R/1/2013 pada tahun 2013. Plakat BCB itu dipasang pada bangunan depan gedung pertemuan.

Meski ditetapkan BCB, sebagian besar bangunan yang ada di Wisma Batari sudah melewati renovasi total. Hanya ada satu bangunan yang masih dibiarkan utuh untuk menjaga nilai sejarah.

Kepala Bidang PSPCB Dinas Kebudayaan Solo, Sukrisno, mengatakan bangunan bersejarah itu hanya bagian depan gedung pertemuan.

Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto diunggah Senin (29/6/2026).Wisma Batari, salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi saksi perkembangan industri batik di Kota Solo. Foto diunggah Senin (29/6/2026). Foto: Agil Trisetiawan Putra/detikJateng

"Yang masih asli itu istilahnya topengannya saja. Wajah yang di belakang kanopi, ada plakat BCB. Sekitarnya sudah banyak perubahan, dan sebelahnya itu memang bangunan baru," kata Sukrisno.

Dengan status BCB ini, renovasi hingga perawatannya harus melalui komunikasi dengan Dinas Kebudayaan Solo untuk kajian sejarahnya. Selain itu, pemugarannya juga mendapatkan insentif dari Pemkot Solo.

Sukrisno mengatakan, meski berstatus BCB, Wisma Batari menjadi pusat ekonomi, seperti untuk gedung pertemuan dan ada resto. Dia menilai hal itu sah saja, yang terpenting tidak merusak bangunan BCB.

"Saya rasa itu sah ya, silakan, kan ada pengelola. Jadi ada konsep pengembangan cagar budaya, dan pemanfaatan cagar budaya. Artinya pengembangan bisa melalui pengembangan fisik, pemanfaatannya bisa melalui digunakan untuk apa. Dalam hal pemanfaatan, itu kewenangan pengelola selama tidak merusak cagar budaya," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(ahr/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads