Jejak Keris Koripan Klaten dalam Serat Centhini dan Jurnal Kolonial

Jejak Keris Koripan Klaten dalam Serat Centhini dan Jurnal Kolonial

Achmad Husain Syauqi - detikJateng
Sabtu, 27 Jun 2026 21:07 WIB
Suasana museum Besalen Koripan di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten.
Suasana museum Besalen Koripan di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Foto: Achmad Husain Syauqi/detikJateng
Klaten -

Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten dan sekitarnya atau sering disebut daerah Koripan memiliki jejak sejarah metalurgi penghasil keris dan senjata sejak era Mataram Islam. Warisan budaya itu tidak hanya bisa dilihat di Museum Besalen Koripan tetapi juga tercatat di serat Centhini (1814) maupun catatan pemerintah kolonial Belanda.

Jejak wilayah Koripan (meliputi Desa Kranggan, Segaran, Delanggu) sebagai produsen senjata juga ditulis kolonial Belanda. Pada buku berjudul Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch Leger, tulisan G. L. Kepper tahun 1904, nama Koripan ditulis jelas.

"De dessa Koripan bij Delanggoe, in het regentschap Klaten, was eens de woonplaats van den bekenden empoe Kjai Korip, naar wien het complex desa ijzersmederijen nabij Delanggoe is genoemd. Kjai Korip had als leermeester een der beroemde empoe's Soepo uit den tijd van Modjopait. Met een geheim- zinnig waas van heiligheid is omgeven de kris, welke Kjai Korip onder per- soonlijke leiding van empoe Soepo heeft gesmeed en die bekend staat als de poesaka kris Soepo-Koripan,".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terjemahan: Desa Koripan dekat Delanggoe, di Kabupaten Klaten, dulunya merupakan kediaman Empoe Kjai Korip yang terkenal, yang namanya diabadikan sebagai nama kompleks pabrik besi desa di dekat Delanggoe. Kjai Korip memiliki guru seorang ahli tempa terkenal, Soepo, sejak zaman Modjopait. Dikelilingi oleh aura kesucian yang misterius adalah keris yang ditempa Kjai Korip di bawah bimbingan pribadi ahli tempa Soepo dan yang dikenal sebagai keris pusaka Soepo-Koripan.

Pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi menyatakan nama Koripan di Klaten ditulis jelas dalam catatan orang Belanda G. L. Kepper. Koripan memang sering disebut di data Belanda.

ADVERTISEMENT

"Koripan sering disebut di data Belanda. Secara kronologis waktu mulai dikenal sejak tahun 1800 tapi itu kan bisa mundur lagi," kata Hari kepada detikJateng, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Hari, eksistensi Koripan bisa jadi sudah ada sejak era Mataram Islam awal, era Sultan Agung atau bahkan panembahan Senopati. Sebab tidak mungkin sebuah komunitas pandai besi mendadak ada.

"Tidak mungkin komunitas pandai besi ujug-ujug ada di tempat itu. Di dalam penelitian orang Belanda juga ada foto-fotonya, artinya komunitas pandai besi Koripan sudah berlangsung lama," jelasnya.

Pada serat Centhini, bahasan keris tangguh Koripan dimuat dalam Pupuh ke 109 tembang pangkur. "Dene tangguh Koripan denwastani sikutan kemba tan semu, mung gangsing wesinira, pamor adeg". Kalimat itu menarasikan tangguh Koripan sikutannya agak kendor, besinya agak kering dan menggunakan pamor adeg.

Ketua Karang Taruna Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Hanif menyatakan tangguh Koripan memang simpel dan identifikasinya tidak mudah. Namun fungsional.

"Kerisnya sendiri prasojo kecil tapi fungsional. Koripan sendiri masih dalam penelitian apakah diambil dari nama empu Korip atau sebaliknya memang dari nama Koripan," katanya kepada detikJateng.

Museum Besalen Koripan dan koleksinya di Desa Kranggan, Polanharjo, Klaten, Jumat (26/6/2026).Museum Besalen Koripan dan koleksinya di Desa Kranggan, Polanharjo, Klaten, Jumat (26/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Besalen Koripan

Sebelumnya di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, terdapat museum unik bernama Besalen Koripan. Museum besalen atau bengkel pandai besi yang diresmikan pada 2025 ini merekam jejak para empu keris di era Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram pada 1613-1645.

Museum Besalen Koripan berada di tengah permukiman padat penduduk di sisi tenggara desa. Dari Jalan Raya Jogja-Solo, jaraknya hanya sekitar 1 kilometer melewati gapura Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu.

Museum sederhana ini menempati sebuah rumah joglo kuno milik keluarga R Darmo Sukarto ayah dari Mbah Lurah Sepuh (kades jaman era kolonial). Beratap genteng tanah liat, tembok tanpa semen dan gebyok kayu berukir motif sulur, bangunan era tahun 1900-an ini masih tampak kokoh.

"Museum ini kita bekerja sama dengan tim PPK Ormawa (program peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa) UNS untuk mengangkat budaya Desa Kranggan. Yaitu budaya pandai besi," kata Hanif, ketua Karang Taruna Desa Kranggan, saat ditemui detikJateng, Jumat (26/6/2026).

Menurut Hanif, budaya metalurgi pandai besi di desanya sudah ada sejak zaman dulu secara turun-temurun.

"Meskipun ratusan tahun sampai sekarang masih eksis. Konon awalnya membuat senjata terutama keris di era Sultan Agung (raja Mataram Islam)," tutur Hanif.

Hanif berujar, seiring waktu, tradisi pembuatan senjata seperti keris dan pedang berubah. Saat ini sudah tidak ada yang membuat keris.

"Sudah tidak ada yang membuat. Tapi kita coba untuk kita restorasi lagi untuk membuat keris lagi," lanjut Hanif.




(afn/afn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads