Bendung Tukuman di aliran sungai Dengkeng, Kecamatan Cawas, Klaten, dipugar dengan anggaran sekitar Rp 800 juta. Bendung dengan 6 pintu air itu akan diubah menjadi 3 pintu air saja. Tujuannya untuk mengurangi risiko banjir bandang seperti yang terjadi awal 2026.
Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Klaten, Darminto, mengatakan pekerjaan rehabilitasi bendung ini ditargetkan selesai dalam 160 hari atau pada November mendatang.
"(Pembongkaran) Sudah dimulai kemarin. Nantinya dari enam pintu hanya disisakan tiga pintu saja," kata Darminto saat diminta konfirmasi detikJateng, Kamis (2/7/2026).
Darminto, menerangkan, rehabilitasi bendung ini untuk memperlancar air dari hulu sehingga mengurangi risiko banjir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah jembatan Modran direhab, arus akan langsung ke bendung, termasuk sampah. Dengan direhab, air akan lancar karena pintu dikurangi," ujar dia.
"Anggaran dari APBD sekitar Rp 800 juta," imbuhnya.
Pembongkaran bendung Tukuman di aliran sungai Dengkeng, Cawas, Klaten, Kamis (2/7/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Darminto menjelaskan, perubahan bendung dari 6 pintu air menjadi 3 pintu air bakal memperlancar aliran sungai.
"Tiga pintu lebih cepat dibuka saat banjir. Yang kita antisipasi sampah, karena saat ini sampah semakin banyak. Beda dengan dulu saat bendung lama belum banyak sampah, ranting kayu masih dimanfaatkan. Tapi sekarang dibuang ke sungai, berisiko menyumbat bendung," ujar dia.
Pemugaran bendung ini diapresiasi positif oleh warga sekitar.
"Ya harapannya supaya tidak banjir lagi. Itu (bendung tengah) kan dihilangkan, tahun lalu banjir ke sana (selatan) dan kesini (Utara) parah," kata warga setempat, Denis, saat ditemui detikJateng di lokasi, Kamis (2/7/2026).
Denis menuturkan, awal tahun 2026 pernah terjadi banjir di atas bendung. Banjir itu menjebol tanggul. Banjir masuk ke desa-desa di selatan sungai.
"Awal tahun kemarin kan yang parah ke sana (selatan), sampai ada yang dua meter. Semoga tahun tidak terjadi lagi," kata Denis.
Warga lain, Dwi, mengatakan saat banjir awal 2026 dirinya menyaksikan momen jebolnya tanggul. Pohon-pohon di tepi sungai juga tumbang.
"Jadi waktu itu pohon-pohon ambruk karena tanggul jebol. Ya karena di bendung itu banyak sampah setelah Jembatan Modran direhab,'' kata Dwi.
Pantauan detikJateng, pembongkaran bendung dilakukan di pintu bendung bagian tengah. Sedangkan bendung di pinggir tidak dibongkar.
(dil/aku)

