Perbaikan Jembatan Serayu di Kabupaten Banyumas ternyata rampung lebih cepat dari perkiraan. Lantas, bagaimana nasib jasa penyeberangan yang sempat 'booming' saat awal perbaikan?
Salah satu pekerja perahu penyeberangan, Ponco, mengungkap perahu akan kembali difungsikan untuk mengangkut pasir.
"Mulai hari ini perahu dibongkar lagi, diperbaiki yang bocor atau lapuk. Besok (Rabu) sudah mulai angkut pasir lagi," ucap Ponco, Selasa (7/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ponco menerangkan, ketika awal Jembatan Serayu ditutup untuk diperbaiki, fokus utama mereka adalah membantu mobilitas masyarakat yang terdampak penutupan.
"Daripada perahu nganggur tidak mengangkut pasir, akhirnya kami inisiatif membantu masyarakat untuk penyeberangan. Kami tidak memikirkan untung-rugi, yang penting masyarakat terbantu," kata Ponco saat ditemui.
Meski begitu, penyedia layanan penyeberangan tetap menggelontorkan modal yang tidak sedikit. Para pemilik perahu harus membuat rakit, jalur akses, hingga mengganti kayu baru demi menjamin keselamatan penumpang.
"Modal tiap perahu beda-beda. Ada yang Rp 2 juta, Rp 3 juta sampai Rp 5 juta tergantung ukuran perahu. Yang penting konstruksinya kuat karena sekali jalan bisa mengangkut sampai 15 sepeda motor beserta penumpangnya," jelasnya.
Ia mengungkapkan selama momen perbaikan jembatan, ada tiga perahu yang beroperasi dari dermaga di kawasan Pasar Banyumas. Pendapatan kotor setiap harinya mencapai Rp 5 juta. Nominal tersebut harus dipotong biaya operasional seperti bahan bakar, konsumsi, hingga upah pekerja.
"Ada nakhoda, tukang tarik tambang, kernet. Pekerja rata-rata dapat Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu per hari. Kalau pemilik perahu ya istilahnya cuma balik modal, untungnya tipis," katanya.
Pemilik Ngaku Belum Balik Modal
Salah satu penyedia jasa penyeberangan dari kawasan Klenteng Banyumas, Kuat, mengaku dirinya bahkan belum sempat balik modal lantaran usahanya baru berjalan sekitar dua pekan.
Ia bersama rekan-rekannya menyewa dua perahu nelayan dari Cilacap untuk melayani warga yang hendak menyeberang daripada harus memutar via jalur Mandirancan-Papringan. Selain biaya sewa perahu harian, mereka juga menggelontorkan dana lebih dari Rp10 juta untuk membangun dek dan jalur turun kendaraan.
"Perahunya sewa nelayan dari Cilacap, bayarnya harian. Untuk bikin dek sama jalur turun habis sekitar Rp 10 jutaan lebih. Perahunya ada dua," ujar Kuat.
Ia menuturkan awalnya memprediksi penutupan Jembatan Serayu bakal berlangsung sesuai jadwal yang ditetapkan kontraktor. Namun, pengerjaan ternyata selesai lebih awal, sehingga operasional penyeberangan berakhir lebih dini.
"Baru jalan dua minggu. Tahunya penutupan sampai akhir Juli, ternyata jembatan dibuka lebih cepat. Nggak balik modal," jelasnya.
Awal Dijadwalkan Buka 30 Juli
Diketahui, Jembatan Serayu Banyumas ditutup pada 15 Juni lalu untuk perbaikan, dengan estimasi pembukaan pada 30 Juli nanti. Namun, jembatan yang menghubungkan Kecamatan Banyumas dan Kecamatan Kalibagor itu mulai dibuka pada Senin (6/7) per pukul 08.00 WIB.
Semula, renovasi jembatan ditargetkan berlangsung selama 45 hari kalender sejak 15 Juni 2026. Namun pekerjaan berhasil dirampungkan lebih awal karena dilakukan tanpa henti selama 24 jam.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Jawa Tengah, Nandang Sungkono, mengatakan percepatan proyek dilakukan dengan sistem kerja penuh selama sehari semalam.
"Selesai lebih cepat karena kita kerjakan 24 jam," kata Nandang saat dihubungi wartawan, Minggu (5/7).
(apu/ams)
