Keluarga di Banyumas Putuskan Laporkan Kasus Kematian Sutrimo ke Polisi

Keluarga di Banyumas Putuskan Laporkan Kasus Kematian Sutrimo ke Polisi

Anang Firmansyah - detikJateng
Minggu, 09 Agu 2026 01:04 WIB
Keluarga Sutrimo didampingi kuasa hukum membuat laporan ke Polresta Banyumas, Sabtu (8/8/2026) malam.
Keluarga Sutrimo didampingi kuasa hukum membuat laporan ke Polresta Banyumas, Sabtu (8/8/2026) malam. Foto: Anang Firmansyah/detikJateng
Banyumas -

Keluarga almarhum Sutrimo akhirnya melaporkan kematian pria asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, ke Polresta Banyumas. Laporan itu dibuat setelah muncul berbagai pemberitaan dan isu simpang siur mengenai kematian Sutrimo.

Laporan tersebut tercatat dalam Surat Tanda Terima Laporan Polisi (STTLP) Nomor: STTLP/79/VIII/2026/SPKT/POLRESTA BANYUMAS/POLDA JAWA TENGAH.

Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan laporan dibuat bukan karena keluarga sejak awal menemukan kejanggalan pada jenazah. Keluarga justru mengaku sempat melihat kondisi jenazah dan tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prinsipnya keluarga cuma minta kepastian hukum terkait meninggalnya saudara Sutrimo. Wajar atau tidak, cuma itu saja," kata Aan seusai mendampingi keluarga membuat laporan, Sabtu (8/8/2026) malam.

ADVERTISEMENT

Aan mengatakan keluarga awalnya menerima kematian Sutrimo. Namun, belakangan muncul berbagai informasi yang dinilai simpang siur sehingga keluarga ingin mengetahui kepastian penyebab kematiannya.

"Karena berita simpang siur ke sana-ke sini, mengganggu lingkungan sekitar buat keluarga juga lingkungan masyarakat di Desa Wlahar. Jadi keluarga ingin kepastian," ujarnya.

Menurut Aan, keluarga juga menyerahkan sepenuhnya proses penyelidikan kepada penyidik. Termasuk mengenai ada atau tidaknya pihak yang nantinya dianggap bertanggung jawab atas kematian Sutrimo.

"Keluarga tidak punya siapa terlapornya dan lain-lain, semuanya diserahkan kepada penyidik," katanya.

Dia mengatakan keluarga telah melakukan pembahasan selama dua hari sebelum akhirnya memutuskan membuat laporan ke kepolisian.

"Kami tadi rapat keluarga sampai dua hari berturut-turut. Baru tadi kenapa sampai malam karena tadi mendengar semua. Jadi kalau ada perwakilan ini semata memang sudah kesepakatan keluarga. Akhirnya ya sudah laporan," ujarnya.

Aan meminta masyarakat maupun awak media tidak membuat kesimpulan sendiri mengenai penyebab kematian Sutrimo. Dia juga meminta keluarga diberi ruang karena kondisi ibu Sutrimo masih sangat terpukul.

"Saya lihat ibunya sangat syok. Jadi mohon maaf setelah ini kami mungkin tidak akan memberikan konfirmasi apa pun atau berita apa pun. Karena semuanya sudah kami serahkan kepada penyidik," kata Aan.

Dia berharap proses penyelidikan nantinya dapat memberikan jawaban mengenai penyebab kematian Sutrimo.

"Kita berdoa, semoga sebenarnya kematiannya wajar," terangnya.

Salah satu keluarga Sutrimo, Abi, mengatakan keluarga pada prinsipnya akan kooperatif apabila dalam proses penyelidikan polisi membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut terhadap jenazah Sutrimo.

Meski demikian, keluarga sebenarnya tidak menghendaki jenazah yang telah dimakamkan kembali digali.

"Kalau dari keluarga sebenarnya enggak merelakan buat digali lagi. Cuma kalau memang dari negara dibutuhkan untuk autopsi demi kepastian itu, mau tidak mau diikuti," kata Abi.

Kakak tiri Sutrimo, Tukim, menambahkan pihak keluarga sempat melihat kondisi jenazah ketika tiba di rumah. Saat itu, jenazah sudah dalam kondisi dikafani. Namun, kain kafan sempat dibuka sehingga keluarga dapat melihat kondisi tubuh Sutrimo.

"Kondisinya bersih. Sudah dikain kafan," kata Tukim

Dia mengatakan keluarga saat itu tidak menemukan tanda-tanda yang membuat mereka curiga terhadap kematian Sutrimo.

"Enggak ada. Makanya dari keluarga langsung mengikhlaskan karena ya namanya orang kampung. Keadaan jenazah bersih. Jadi enggak ada kecurigaan apa-apa," ujarnya.

Tukim menyebut keluarga baru mempertanyakan kembali kematian Sutrimo setelah muncul sejumlah pemberitaan. Karena itu, keluarga memilih membawa persoalan tersebut ke kepolisian untuk mendapatkan kepastian hukum.

Sementara itu, keluarga juga menyebut barang yang diterima saat jenazah tiba antara lain KTP, uang santunan Rp 20 juta, serta surat-surat keterangan dari rumah sakit. Ponsel milik Sutrimo disebut tidak ikut diterima keluarga.

Dilansir detikNews, aparat penegak hukum masih mendalami penyebab tewasnya pria bernama Sutrimo di depan klinik kecantikan Mordent di kawasan Jakarta Selatan (Jaksel). Penyebab kematian Sutrimo masih belum diketahui.

Polisi kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di klinik yang berlokasi di Jalan Kramat Pela RT 11 RW 11 Kelurahan Pulo, Kecamatan Kebayoran Baru, Jaksel.

Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan menyelidiki kasus ini untuk mengetahui rangkaian peristiwa tersebut sekaligus mengungkap penyebab kematian korban.

Penyelidik mengumpulkan bahan keterangan serta melakukan klarifikasi terhadap pihak keluarga, pengemudi ambulans, petugas rumah sakit, dan pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut. Polisi juga mengalami rekam medis korban, riwayat pemesanan ambulans, hingga lokasi awal ditemukannya almarhum.

Berdasarkan informasi yang beredar, korban ditemukan dalam kondisi mulut berbusa. Korban disebut-sebut merupakan kepala rumah tangga (karumga) mantan Jampidsus Kejaksaan Agung (Kejagung) Febrie Adriansyah. Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terkait sosok korban.

"Masih didalami," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto, Minggu (26/7).

Budi menuturkan pihaknya juga mempersilakan keluarga korban melapor jika merasa ada kejanggalan atas meninggalnya Sutrimo.

"Kita juga memberi ruang kepada keluarga korban yang masih dalam kondisi berduka. Dan kita juga memberikan imbauan apabila memang keluarga korban merasa ada kejanggalan terhadap meninggalnya saudara S, ini bisa membuat laporan kepada Polda Metro Jaya," tuturnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Foto-foto Unik di Depan Sakura di Rumah Adat Jepang Banyumas"
[Gambas:Video 20detik] (apu/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads