Sebanyak 25 ribu orang menarikan Dug Dug Der Semarangan di Simpang Lima, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Penampilan masif itu dibawakan salah satunya dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI.
Pantauan detikJateng pada Minggu (9/8) pukul 07.00 WIB, ribuan orang memadati Lapangan Simpang Lima. Mereka tampak kompak mengenakan baju berwarna putih berpadu batik Semarangan.
Para perempuan tampak mengenakan selendang merah. Sementara itu, peserta laki-laki mengenakan iket Semarangan di kepala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun penampilan massal itu berlangsung sekitar pukul 08.30 WIB. Tubuh ribuan orang kompak melenggak-lenggok menampilkan tarian Dug Dug Der Semarangan sekitar tiga menit.
Usai tarian tradisional yang baru diciptakan itu, para peserta menampilkan tarian tren TikTok. Di beberapa titik tampak dua pemandu tari pria dan wanita.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menerangkan tari Dug Dug Der Semarangan yang dilakukan 25 ribu orang itu dihelat dalam rangka menyambut HUT ke-81 RI. Dia menyebut berbagai unsur pemerintahan dan masyarakat terlibat dalam penampilan itu.
"(25 ribu orang menarikan Dug Dug Der Semarangan) dalam rangka pembukaan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Kota Semarang," kata Agustina saat ditemui di Simpang Lima pagi ini.
Dia menyebut agenda itu digelar juga untuk mempertegas ikon Kota Atlas adalah budaya.
"Kota Semarang ingin ikonnya ada adalah budaya. Jadi, budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama sekian ratus tahun itu ingin kita pertahankan dengan cara mengumpulkan menjadi satu," jelasnya.
Lebih lanjut, Agustina mengatakan, penamaan Dug Dug Der diadopsi dari tradisi Dugderan. Tarian tersebut mencerminkan keragaman budaya di Semarang.
"Nama Dug Dug Der diambil dari bunyi khas tradisi Dugderan Semarang, yaitu bunyi dug dug dari tabuhan bedug dan der dari bunyi dentuman meriam bertanda bulan puasa sudah tiba. Tarian ini menggambarkan keanekaragaman budaya di Kota Semarang yang tumbuh berdampingan dan hidup rukun," bebernya.
"Di dalam Dugderan, kita menemukan wajah Semarang, budaya yang tumbuh dari perjumpaan. Semangat perjumpaan itulah yang kemudian kita terjemahkan ke dalam gerak dan irama Tari Dug Dug Der Semarangan," imbuhnya.
(afn/afn)
