Harga Emas Bisa Turun Drastis atau Tidak? Ini 6 Faktor yang Memengaruhinya

Harga Emas Bisa Turun Drastis atau Tidak? Ini 6 Faktor yang Memengaruhinya

Ulvia Nur Azizah - detikJateng
Senin, 26 Jan 2026 13:46 WIB
Ilustrasi investasi emas
Ilustrasi emas. (Foto: Shutterstock)
Solo -

Harga emas sering dianggap selalu naik tinggi. Namun emas ternyata bisa turun sangat drastis. Fenomena ini biasanya terjadi saat puncak krisis. Kebutuhan uang tunai memaksa orang menjual emas. Pasokan melimpah membuat harga anjlok seketika.

Banyak faktor memengaruhi naik turunnya harga ini. Kurs mata uang dan gejolak politik sangat menentukan. Kondisi ekonomi global juga berperan sangat besar. Faktor psikologis masyarakat terkadang memengaruhi pasar ritel, sehingga investor harus cerdas memantau setiap perubahan tren.

Penasaran bagaimana harga emas bisa turun drastis? Mari simak penjelasan berikut ini yang membahas mengenai faktor-faktor yang berpengaruh terhadap harga emas!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Poin utamanya:

  • Harga emas berisiko anjlok tajam saat puncak krisis.
  • Nilai tukar rupiah sangat memengaruhi harga domestik.
  • Gejolak politik dunia mendorong emas menjadi aset aman.

ADVERTISEMENT

Harga Emas Bisa Turun Drastis atau Tidak?

Harga emas ternyata bisa mengalami penurunan sangat tajam. Menurut Risono dalam buku Emas Adalah Uang Sebenarnya, penurunan drastis ini terjadi saat puncak krisis melanda. Dunia biasanya mengalami masalah likuiditas yang parah. Orang butuh uang tunai untuk bertahan hidup segera.

Pada puncak krisis, masyarakat akan menjual aset berharga termasuk simpanan emas mereka. Karena pasokan emas di pasar menjadi sangat melimpah, harga emas bahkan bisa anjlok 10% sehari.

Kondisi ini berbeda jauh dengan tahap awal krisis. Awalnya, orang membeli emas sebagai pelindung aset utama. Mereka menghindari risiko uang kertas yang sangat riskan. Harga emas pun melonjak dan mencetak rekor baru.

Sementara itu, fase pascakrisis membawa situasi yang sangat dinamis kembali. Mata uang kertas akan mencari titik keseimbangan baru. Fluktuasi nilai tukar dunia menjadi sangat tidak menentu.

Harga emas dalam rupiah memiliki perhitungan yang unik. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika berpengaruh sangat besar. Jika rupiah melemah, harga emas tetap akan tinggi. Hal ini terjadi meski harga emas dunia sedang turun. Sebaliknya, penguatan rupiah bisa menekan harga emas lokal.

Apa Saja Faktor yang Berpengaruh Terhadap Naik-Turun Harga Emas?

Banyak orang merasa bingung dengan pergerakan harga emas. Fluktuasi harga logam mulia ini sebenarnya memiliki pola khusus. Beberapa faktor utama menjadi motor penggerak setiap harinya. Berikut penjelasan lengkapnya.

1. Faktor Psikologis dan Persepsi Pasar

Wacana mengenai "emas naik menjelang lebaran" masih banyak diyakini masyarakat. Namun, seperti dijelaskan dalam buku Salah Kaprah Memilih Asuransi karya Rianto Astono, kondisi tersebut lebih merupakan faktor psikologis pasar. Permintaan yang meningkat pada periode tertentu membuat toko emas menaikkan harga demi memperoleh margin lebih tinggi.

Begitu pula pasca lebaran ketika banyak orang menjual kembali perhiasan atau emas batangan, sehingga toko memotong harga beli agar dapat menjaga keuntungan. Fenomena ini bersifat sesaat dan tidak mempengaruhi harga emas internasional secara langsung. Hal seperti ini hanya terjadi pada lingkup pasar ritel domestik dan lebih tepat disebut sebagai dinamika permintaan-jangka-pendek.

2. Kurs Rupiah terhadap Dolar AS

Walaupun faktor psikologis sesekali memengaruhi transaksi harian, pergerakan harga emas dalam negeri pada dasarnya bertumpu pada nilai tukar. Nilai emas dunia dihitung dalam dolar AS. Oleh sebab itu, seperti dijelaskan Rianto Astono, satu-satunya faktor dalam negeri yang secara nyata memengaruhi harga emas adalah fluktuasi Rupiah terhadap dolar AS.

Ketika rupiah melemah, harga emas dalam negeri otomatis naik meskipun harga emas dunia sedang stabil. Sebaliknya, ketika Rupiah menguat, harga emas bisa terlihat turun tanpa adanya penurunan di pasar global. Mekanisme ini membuat investor perlu mencermati dua indikator sekaligus: harga emas internasional dan nilai tukar domestik.

3. Situasi Politik Global

Harga emas sangat sensitif terhadap gejolak geopolitik. Emas dianggap sebagai safe haven, sehingga setiap ketidakpastian politik akan mendorong investor mengalihkan dana mereka dari aset berisiko ke emas. Buku Gaji Masih Kecil? Bukan Penghalang Jadi Kaya karya Moeljadi menunjukkan contoh konkret dari fenomena ini. Kenaikan harga emas pada akhir 2002 hingga awal 2003 merupakan dampak serangan Amerika Serikat ke Irak.

Ketika konflik global meningkat, pasar uang dan pasar saham biasanya tertekan. Sebaliknya, emas mengalami lonjakan permintaan sehingga harganya terdorong naik. Pola ini berulang dalam berbagai situasi, termasuk ketika terjadi perang, ketegangan antarnegara, atau krisis diplomatik.

4. Supply dan Demand Global

Faktor pasokan dan permintaan menjadi pilar penting dalam mekanisme harga emas. Menurut penjelasan Moeljadi dalam buku yang sama, lonjakan harga emas pada pertengahan 1980-an kerap dihubungkan dengan penjualan forward oleh perusahaan tambang. Meski disalahartikan oleh sebagian pihak, strategi tersebut sesungguhnya adalah langkah bisnis yang logis untuk mengunci harga tinggi ketika pasar sedang menguat.

Di sisi lain, permintaan emas untuk industri perhiasan menyumbang sekitar 80% dari konsumsi global. Ketika daya beli masyarakat meningkat, permintaan melonjak dan harga ikut terangkat. Sebaliknya, ketika ekonomi lesu dan konsumsi menurun, penurunan permintaan dapat menahan harga emas.

5. Kondisi Ekonomi Global dan Sentimen Investor

Dalam buku Investasi Emas: Menggali Kekayaan melalui Logam Mulia terbitan Quafa Manajemen, dijelaskan bahwa emas menjadi tujuan utama investor saat ekonomi dunia memasuki fase ketidakpastian. Ketika risiko pasar meningkat, banyak investor memindahkan aset dari saham atau obligasi ke emas sebagai upaya melindungi nilai kekayaan.

Tingkat suku bunga juga berperan penting. Ketika suku bunga naik, emas menjadi relatif kurang menarik karena tidak menghasilkan imbal hasil. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, emas kembali diminati sebagai aset penyimpan nilai. Penurunan nilai mata uang negara tertentu terhadap dolar AS juga dapat memicu lonjakan harga emas, terutama di negara-negara dengan volatilitas ekonomi tinggi.

6. Dinamika Permintaan Perhiasan dan Produksi Tambang

Produksi tambang yang stagnan atau berkurang dapat memicu kelangkaan pasokan. Sementara itu, perkembangan industri perhiasan global, terutama di India, China, dan Timur Tengah, berpengaruh signifikan terhadap permintaan. Ketika tren perhiasan sedang meningkat atau permintaan musiman seperti musim pernikahan berlangsung, harga emas bisa terdorong naik dalam rentang waktu tertentu.

Namun, meskipun faktor-faktor tersebut memiliki pengaruh, naik-turunnya harga emas tetap lebih ditentukan oleh sentimen global dan pergerakan ekonomi internasional. Demikian penjelasan mengenai harga emas yang bisa turun drastis serta faktor-faktor yang berpengaruh. Semoga bermanfaat!

FAQ

1. Apakah ada kemungkinan harga emas akan turun?

Harga emas sangat mungkin mengalami penurunan tajam. Penurunan ini biasanya terjadi saat puncak krisis melanda. Kondisi tersebut dipicu oleh masalah likuiditas global. Emas tidak selalu bergerak naik setiap waktu. Penguatan nilai tukar Rupiah juga bisa menekan harga.

2. Apa yang membuat harga emas turun drastis?

Kebutuhan uang tunai yang mendesak menjadi penyebabnya. Masyarakat menjual emas demi mendapatkan likuiditas segera. Pasokan emas di pasar pun menjadi sangat melimpah. Hal ini membuat harga anjlok hingga sepuluh persen. Kenaikan suku bunga juga bisa mengurangi daya tarik emas.

3. Harga emas turun biasanya pada bulan apa?

Harga emas sering turun setelah Lebaran. Banyak orang melakukan aksi jual pada momen tersebut. Toko emas biasanya memotong harga beli cukup besar. Fenomena ini merupakan faktor psikologis dan bersifat musiman. Hal ini hanya terjadi pada lingkup pasar domestik.




(sto/apu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads