Kondisi Taman Kartini Rembang kian memprihatinkan. Pantauan detikJateng pada Minggu (1/2), kawasan wisata yang berada di pusat kota itu tampak sepi pengunjung dan terkesan menyeramkan akibat banyaknya bangunan mangkrak serta minim perawatan.
Sejumlah bangunan di dalam area taman terlihat rusak dan terbengkalai. Salah satunya gedung bersejarah bekas gereja peninggalan era Belanda yang kini kondisinya memprihatinkan. Selain itu, sebuah jangkar raksasa peninggalan kapal Dampu Awang juga tampak teronggok tanpa perawatan.
Bangunan lain yang juga rusak adalah bekas bioskop tiga dimensi serta musala di sisi barat kawasan taman. Banyaknya tumbuhan liar yang tumbuh tak terurus membuat kawasan tersebut terkesan kumuh dan memicu munculnya nyamuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya bangunan, sejumlah wahana permainan dibiarkan rusak dan tidak berfungsi. Dermaga di kawasan taman juga sudah tidak layak digunakan dan berpotensi membahayakan.
Salah satu warga Rembang, Didik Kundiantoro, menyayangkan kondisi Taman Kartini yang dibiarkan mangkrak selama beberapa tahun terakhir. Ia menilai, taman tersebut merupakan destinasi wisata fenomenal sekaligus kebanggaan masyarakat Rembang.
"Sayang sekali Taman Kartini dibiarkan seperti ini bertahun-tahun. Padahal dulu ini wisata andalan dan kebanggaan warga Rembang," kata Didik kepada detikJateng, Minggu (1/2/2026).
Menurutnya, selain sebagai tempat wisata, Taman Kartini juga memiliki nilai sejarah yang cukup penting. Ia menyoroti keberadaan jangkar Dampu Awang serta bangunan bekas gereja peninggalan Belanda yang seharusnya dijaga dan dirawat.
"Di sini ada peninggalan sejarah yang penting, seperti jangkar Dampu Awang dan bangunan bekas gereja era Belanda. Kalau tidak dirawat, nilai sejarahnya bisa hilang," ujarnya.
Kondisi terkini Taman Kartini Rembang, Minggu (30/1/2026). Foto: Mukhammad Fadlil |
Sementara itu, Kepala Dinbudpar Rembang, Prapto Raharjo, menjelaskan wacana pemanfaatan aset tersebut sebenarnya sudah ada sejak kepala dinas sebelumnya. Pihaknya mengundang rapat yang dipimpin Asisten II dan dihadiri dinas terkait, bagian hukum, serta pihak ketiga yang mengajukan permohonan.
"Dalam rapat itu, pihak ketiga memaparkan rencana mereka. Namun memang ada perbedaan persepsi, apakah aset tersebut akan disewa atau dikerjasamakan. Dari pemaparan yang ada, kecenderungannya lebih ke arah kerja sama pengelolaan," ujar Prapto saat dimintai konfirmasi, hari ini.
Meski demikian, Prapto menegaskan hingga saat ini belum ada keputusan final. Menurutnya, masih banyak hal yang perlu didalami, terutama terkait skema kerja sama atau sewa yang diajukan pihak ketiga.
"Saat ini baru sebatas permohonan, belum bisa dikatakan sudah ada penyewa. Dari kami juga belum memutuskan apa pun," tegasnya.
Terkait pendapatan, Prapto menyampaikan sumbernya berasal dari kolam renang dan tiket masuk. Namun secara detail ia belum menguasai sepenuhnya karena baru menjabat sekitar lima bulan. Ia menyebut, pada tahun sebelumnya 2025 sempat ada pemasukan PAD sekitar Rp 300 juta.
"PAD kemarin sekitar (Rp) 300 juta. Itu dari kolam renang sama penyewaan ruko sepertinya. Secara detai nanyi sama Kabidnya. Saya baru menjabat. Karena belum ada pihak ketiga maka pengelolaannya masih oleh Pemkab," ucapnya.
Kondisi terkini Taman Kartini Rembang, Minggu (30/1/2026). Foto: Mukhammad Fadlil |
Bupati Rembang, Harno, pun buka suara terkait kondisi Taman Kartini. Ia mengungkapkan, sebelumnya sempat ada pihak ketiga yang berminat mengelola kawasan wisata tersebut.
"Sempat ada pihak ketiga yang bersedia mengelola. Tapi mereka hanya sanggup menyetor untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 400 juta," kata Harno.
Menurut Harno, nilai tersebut dinilai belum sesuai dengan potensi yang dimiliki Taman Kartini. Ia pun meminta kontribusi PAD sebesar Rp 1 miliar.
"Saya minta Rp 1 miliar. Karena tidak bersedia, akhirnya kerja sama itu tidak jadi," ujarnya.
Diketahui, Taman Kartini merupakan aset milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang. Namun kondisi terbengkalai tersebut telah berlangsung lebih dari lima tahun tanpa penanganan berarti.
Saat ini, satu-satunya wahana yang masih beroperasi adalah kolam renang dengan tarif masuk Rp 10 ribu. Sementara untuk masuk ke kawasan Taman Kartini secara umum tidak dipungut biaya.
Jangkar Dampu Awang
Terkait Jangkar Dampu Awang di Taman Kartini Rembang, menurut sejarawan dan pemerhati sejarah Lasem-Rembang, Exan Ali Setyonugroho, kisah tersebut merupakan narasi fiktif yang dibentuk pada masa kolonial.
Menurut Exan, Dampu Awang bukanlah tokoh personal sebagaimana diceritakan dalam legenda, melainkan nama sebuah jabatan penting pada masa lalu.
"Dampu Awang itu bukan nama orang, tetapi nama jabatan. Ia adalah panglima angkatan laut Lasem," ujar Exan.
Ia menjelaskan, sejumlah tokoh pernah menduduki jabatan Dampu Awang, di antaranya Rajasa Wardana yang dikenal sebagai suami Raja Lasem Dewi Indu, kemudian Santipuspa dan Santiyoga. Karena itu, Exan menilai tidak logis jika legenda menggambarkan adanya konflik antara Sunan Bonang dan Dampu Awang.
"Jadi legenda soal Kapal Dampu Awang ditendang Sunan Bonang itu fiktif. Secara historis, narasi itu tidak masuk akal. Sengaja dibuat belanda untuk memisahkan Jawa dan Islam," katanya.
Untuk informasi, di Rembang terdapat legenda tentang Kapal Dampu Awang yang ditendang oleh Sunan Bonang. Hingga kapal itu porak poranda dan beberapa bagian kapal berantakan hingga ke mana-mana. Salah satunya disebut jangkar kapalnya terdampar di Pantai Kartini, Rembang atau Taman Kartini.
Exan menilai legenda tersebut sengaja dibangun untuk memisahkan identitas Jawa dan Islam. Dalam cerita, Jawa kerap direpresentasikan melalui figur Dampu Awang yang dikaitkan dengan China, sementara Islam diwakili Sunan Bonang.
"Padahal Jawa dan Islam itu menyatu. Kalau bersatu, kekuatan itu terbukti mampu melawan kolonial, seperti dalam Perang Lasem," ujarnya.
Ia juga meluruskan asal-usul nama Rembang yang selama ini sering dikaitkan dengan istilah kerem kemambang. Menurut Exan, nama Rembang justru berasal dari kata ngrembang, yakni proses memangkas tebu saat panen.
Sementara itu, keberadaan jangkar yang kini menjadi ikon di Rembang disebut berasal dari masa kolonial Belanda. Exan menilai simbol tersebut digunakan untuk menguatkan narasi pemisahan antara Jawa dan Islam.
"Cerita soal Dampu Awang dan Sunan Bonang kemungkinan dibentuk pasca Perang Lasem. Itu bagian dari strategi adu domba kolonial," pungkasnya.
Simak Video "Video: Trailer-Tronton Tabrakan di Pantura Rembang, Timpa Dua Motor"
[Gambas:Video 20detik]
(apu/apu)

