Sejumlah penyedia jasa penukaran uang baru mulai melapak di Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, jelang Lebaran. Namun, mereka mengaku sepi pembeli, dengan keuntungan yang diterima kecil karena uang itu didapatkan dari para pengepul.
Pantauan detikJateng di lokasi pada Selasa (10/3/2025) sejak pukul 10.30 WIB, setidaknya terdapat dua hingga tiga pelapak uang baru di satu blok trotoar. Mereka memasang banner bertuliskan 'JASA PENUKARAN UANG BARU'.
Tampak para penyedia jasa penukaran uang baru menunggu para pembeli di trotoar. Ada pula penyedia jasa yang memamerkan tumpukan pecahan uang Rp 2 ribu hingga Rp 10 ribu di lapaknya, berbeda dengan lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seorang penyedia jasa penukaran uang baru di Jalan Pahlawan, Yanuar (56), mengatakan dirinya mulai melapak baru tiga hari.
"Saya jualan baru tiga hari," kata Yanuar yang merupakan warga asal Kota Semarang saat ditemui detikJateng di Jalan Pemuda hari ini.
Yanuar mengaku telah menggeluti jasa penukaran uang baru selama 12 tahun. Sehari-harinya, Yanuar bekerja di proyek harian. Dirinya menjajaki lapak penukaran uang hanya saat menjelang Idul Fitri.
Uang baru yang dibawa Yanuar sekali melapak sebanyak Rp 20 juta hingga Rp 25 huta dengan pecahan uang Rp 2 ribu hingga 20 ribu.
"Kalau masalah laku, ya, tergantung penukar. Kadang, ya, sehari (bisa menjual pecahan uang hingga) Rp 1 juta, kadang Rp 2 juta. Kadang kalau bagus, ya, Rp 10 juta," ungkapnya.
"Yang ngecer (uang baru) sekarang sepi karena komisinya tinggi. Dari hari pertama (berhasil menjual) paling Rp 10 juta," lanjutnya.
Yanuar menjelaskan, komisi yang dimaksud merupakan biaya penukaran uang. Dia mengungkapkan komisi jasa tinggi lantaran dirinya membeli uang tersebut dari para pengepul.
"Uang barunya sudah (didapat). Ada bakulnya. Kita kan ngambil dari bakul sekian, jualnya sekian. Nggak banyak (untung yang didapat) pengecer, paling hasilnya Rp 2 ribu per Rp 100 ribu," bebernya.
Dia mengambil uang dari pengepul setelah berhasil menjual uang barunya. Tingginya komisi, lanjutnya, bergantung pada jumlah uang baru yang beredar.
"Kalau uang pecahan banyak, jasanya rendah. Tapi, kalau uang pecahan sedikit yang beredar, jasanya tinggi karena kita dapatnya kan susah," terangnya.
Alasan Yanuar memilih membeli uang baru kepada pengepul adalah mulai berlakunya penukaran uang melalui aplikasi. Sebab, dua tahun sebelumnya dirinya masih menukarkan uang di bank.
"Kalau 2-3 tahun yang lalu kita nuker sendiri di bank. Makanya komisinya kecil. (Kalau sekarang tidak bisa tukar uang di bank?) Nggak bisa, kecuali pakai aplikasi PINTAR BI," katanya.
Lebih lanjut, Yanuar mengatakan, pengepul uang baru bisa mendapat komisi minimal 12,5 persen. Sementara dirinya menjual uang baru dengan komisi 15 persen, dengan catatan dirinya hanya mendapat 2,5 persen.
"Yang 12,5 yang punya barang, kita dapatnya 2,5. Masa kita jualan nggak mau untung," terangnya.
Sementara itu, penyedia jasa tukar uang baru asal Kabupaten Demak di Jalan Pahlawan, Manis Tri Manto (35), mengaku sudah melapak uang baru sejak sekitar 2016. Tri menjalankan bisnis tersebut dengan modal pribadi maupun pinjaman ke keluarganya.
"Tahun ini aku modal sekitar Rp 100 juta lebih lah," kata Tri.
Tri pun mengambil uang baru untuk dilapak dari pengepul. Dia pun mendapatkan uang baru tidak hanya dari satu pengepul.
"Aku ini (uang baru) ambil ke orang. Soale sekarang kan kayak BI pakai aplikasi," sebutnya.
"(Dapat uang baru dari satu orang) Nggak tentu, soale orang-orang yang jualan kayak gini, kayak pengepul-pengepul banyak," lanjutnya.
Pada tahun ini, kata Tri, komisi yang didapat oleh pengepul uang baru bisa mencapai 12 persen.
"Kalau tahun ini mahal, tahun ini sampai 12 persen. Tahun kemarin masih murah beli ke pengepul-pengepul, awal-awal masih 7-7,5 persen," sebutnya.
Sementara Tri mengaku hanya mengambil komisi dari penjualan uang baru sekitar 3 persen. Kondisi tersebut turut berpengaruh terhadap lapaknya.
"(Sekarang sulit jualan uang baru) Wah, sulit. Tadi (menawarkan kepada pembeli dengan komisi) 15 persen langsung pergi. Mahal gitu toh, padahal kita ambil (untung) cuma sedikit," keluhnya.
Ia juga mengungkapkan tahun ini, orang-orang yang hendak menukar uang baru sepi dibandingkan Lebaran sebelumnya. "Lebih ramai tahun kemarin, jauh," jelas Tri
Seorang pembeli uang baru asal Pendulungan, Faisal (33), membeli uang baru pecahan Rp 1.000 sebanyak 100 lembar di salah satu pelapak di Jalan Pemuda. Dia menilai jasa penukaran uang untuk tahun ini pun lebih mahal dibanding tahun lalu.
"Ini cuma ambil 100 (pecahan uang Rp 1.000). Rp 125 ribu (harga pembelian uang baru). Kalau tahun kemarin itu Rp 1.000 paling 15 persen saja," terangnya.
Uang tersebut digunakan Faris untuk bersedekah kepada orang yang biasa membersihkan makam keluarganya.
"Biasanya untuk ngasih ke yang bersihkan makam," sebutnya.
Selanjutnya, penukar uang baru lainnya, Wahyu (24), mengaku menukar uang senilai Rp 700 ribu. Adapun uang pecahan yang dibelinya yakni Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu.
"Tapi total semua aku ngasih Rp 805 ribu," kata warga asal Kalipancur itu.
