Peternak Ayam Gelar Aksi Mandi Telur di Solo Imbas Harga Anjlok

Peternak Ayam Gelar Aksi Mandi Telur di Solo Imbas Harga Anjlok

Tara Wahyu NV - detikJateng
Selasa, 07 Jul 2026 11:14 WIB
Para peternak membagikan ayam, telur dam jagung ke warga dan peternak melakukan aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026)
Para peternak membagikan ayam, telur dam jagung ke warga dan peternak melakukan aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Puluhan peternak ayam petelur dan pedaging asal Solo dan sekitarnya menggelar aksi dengan membagikan ayam hidup, telur, hingga 'mandi telur' di Bundaran Gladak, Solo. Aksi tersebut dilakukan untuk memprotes terkait anjloknya harga jual ayam broiler dan telur di tingkat peternak.

Dari pantauan detikJateng, para peternak membawa ratusan ayam hidup dan dibagikan ke warga yang berada di sana. Selain membagikan ayam hidup, mereka juga membagikan telur dan jagung ke pengendara di jalan Slamet Riyadi.

Salah satu peternak bahkan juga ada memecahkan telur ke badannya sebagai bentuk protes. Hal tersebut dilakukan di atas mobil boks.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kooridinator aksi, Chris Handrika Imannuel Raharjo mengungkapkan bahwa saat ini harga ayam broiler di kandang hanya menyentuh Rp 12.500 per kilogram. Padahal, Harga Acuan Pemerintah (HAP) berada di angka Rp 19.500. Kondisi serupa terjadi pada komoditas telur.

"Harga telur hari ini bisa menyentuh Rp 16.500 di kalangan peternak, sedangkan harga acuan Rp 19.500. Bahkan kemarin ditetapkan harga acuan baru Rp 24.000, padahal sebelumnya Rp 26.500. Secara logika, kalau harga bahan baku naik, kenapa harga acuan penjualan telur justru diturunkan, kami butuh jawaban," ujar Chris saat ditemui di sela aksi di Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026).

ADVERTISEMENT

Pihaknya juga mengeluhkan harga bahan baku pakan yang melambung. Menurutnya, meskipun pemerintah menerapkan sistem impor satu pintu, harga bungkil kedelai justru naik hingga Rp 2.000 dalam setengah tahun terakhir.

"Hari-hari ini pemerintah sedang mengerjakan yang namanya impor tunggal, jadi jalur impor bahan baku itu melalui satu pintu. Kami peternak sangat berharap ketika menjadi satu pintu justru harganya murah, tapi terkaget-kagetnya kami setengah tahun ini bahan baku contoh bungkil kedelai itu naik sampai Rp 2.000," bebernya.

Di sisi lain, chris menyebut harga jagung di tingkat peternak kini mencapai Rp 6.800 hingga Rp 7.000 per kilogram, melampaui harga acuan pemerintah sebesar Rp 5.500.

"Kalau telur saja (saat mahal) dioperasi pasar, kenapa jagung (saat mahal) nggak dikerjakan, Ini ada ketimpangan dan ketidakadilan bagi kami," tuturnya.

Dirinya juga memperhitungan kerugian yang harus ditanggung peternak. Dengan Harga Pokok Produksi (HPP) mencapai Rp 26.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp 16.500, maka peternak merugi sekitar Rp 9.000 hingga Rp 10.000 untuk setiap kilogram telur yang dihasilkan.

"Kalau orang pelihara 1.000 ekor ayam menghasilkan 50 kilo telur, berarti rugi Rp 500 ribu per hari. Itu peternak kecil, bagaimana yang peternak besar, kerugian sangat dirasakan, padahal harga pendukung HPP seperti listrik, vaksin, hingga gaji pekerja terus naik," jelasnya.

Chris juga menyoroti ketimpangan kebijakan pemerintah. Menurutnya, pemerintah sangat cepat melakukan operasi pasar ketika harga telur tinggi, namun seolah "absen" ketika harga jatuh di tingkat peternak.

"Pemerintah jarang hadir saat harga murah. Tapi kalau harga tinggi, segera operasi pasar. Kami harap ada regulasi yang adil," tegas Chris.

Para peternak membagikan ayam, telur dam jagung ke warga dan peternak melakukan aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026)Para peternak membagikan ayam, telur dam jagung ke warga dan peternak melakukan aksi mandi telur di Bundaran Gladak, Selasa (7/7/2026) Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng

Terpisah, Anggota Gabungan Peternak Soloraya, Parjuni mengatakan aksi ini merupakan puncak kekesalan para peternak karena stok telur yang menumpuk tak kunjung terserap pasar.

"Kebetulan telur ini kan nggak laku, daripada dibuang sama saja, ya kita pakai mandi saja. Karena kita juga agak kesal ya, (telur) sudah numpuk di tempat teman-teman," kata Parjuni.

Parjuni menjelaskan ada dua faktor utama yang menyebabkan harga telur terjun bebas. Selain karena kelebihan pasokan (oversupply), daya beli masyarakat yang menurun drastis menjadi penyebab utama.

"Prinsip saya begini, selama masyarakat itu ada uang, berapapun harga itu nggak masalah. Cuma kalau ini sudah murah tapi tetap nggak terbeli, artinya kan masyarakat juga ekonominya kurang," tuturnya.

Dalam aksi mandi telur, Parjuni menyebut ada sekitar 5 kilogram telur yang sudah lama (stok lama) digunakan untuk aksi mandi telur. Ia menyebut daripada telur-telur tersebut membusuk dan terbuang sia-sia, para peternak memilih menjadikannya simbol protes.

"Sementara mungkin kita pakai 5 kiloan lah (untuk mandi telur), nggak terlalu banyak. Itu telur yang sudah lama," kata Parjuni.

Selain aksi mandi telur, mereka juga membagikan puluhan kilogram telur segar secara gratis kepada masyarakat di lokasi aksi.

"Kita bagi yang fresh. Ada 3 peti, sekitar 45 sampai 50 kilo yang kita bagikan," pungkasnya.




(alg/ahr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads