Di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, Klaten, terdapat museum unik bernama Besalen Koripan. Museum besalen atau bengkel pandai besi yang diresmikan pada 2025 ini merekam jejak para empu keris di era Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram pada 1613-1645.
Museum Besalen Koripan berada di tengah permukiman padat penduduk di sisi tenggara desa. Dari Jalan Raya Jogja-Solo, jaraknya hanya sekitar 1 kilometer melewati gapura Desa Kepanjen, Kecamatan Delanggu.
Museum sederhana ini menempati sebuah rumah joglo kuno milik keluarga R Darmo Sukarto ayah dari Mbah Lurah Sepuh (kades jaman era kolonial). Beratap genteng tanah liat, tembok tanpa semen dan gebyok kayu berukir motif sulur, bangunan era tahun 1900-an ini masih tampak kokoh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi kiri pintu masuk terdapat besalen lengkap dengan peralatannya yang masih tradisional. Di tembok timur besalen terdapat silsilah empu Soepodirjo dari jaman Majapahit sampai Pakubowono VIII, era Mataram Islam.
Di tiang kayu lokasi besalen, terpajang foto-foto jadul dokumen kolonial para pandai besi Koripan saat beraktivitas. Di bangunan joglo induk yang menyerupai ruang pajang, terdapat prototipe pakaian empu berupa kain putih dalam etalase kaca.
Ruangan itu juga menyimpan etalase berisi beberapa keris beserta warangka. Selain keris, juga dipajang berbagai alat rumah tangga dan pertanian berbahan besi produk warga Koripan.
Museum Besalen Koripan dan koleksinya di Desa Kranggan, Polanharjo, Klaten, Jumat (26/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
"Museum ini kita bekerja sama dengan tim PPK Ormawa (program peningkatan kapasitas organisasi mahasiswa) UNS untuk mengangkat budaya Desa Kranggan. Yaitu budaya pandai besi," kata Hanif, ketua Karang Taruna Desa Kranggan, saat ditemui detikJateng, Jumat (26/6/2026).
Menurut Hanif, budaya metalurgi pandai besi di desanya sudah ada sejak zaman dulu secara turun-temurun.
"Meskipun ratusan tahun sampai sekarang masih eksis. Konon awalnya membuat senjata terutama keris di era Sultan Agung (raja Mataram Islam)," tutur Hanif.
Hanif berujar, seiring waktu, tradisi pembuatan senjata seperti keris dan pedang berubah. Saat ini sudah tidak ada yang membuat keris.
"Sudah tidak ada yang membuat. Tapi kita coba untuk kita restorasi lagi untuk membuat keris lagi," lanjut Hanif.
"Terakhir itu konon di era Sultan Agung karena saat itu perang besar-besaran menyerang Batavia, termasuk di sini tempat membuat senjatanya," imbuhnya.
Museum Besalen Koripan dan koleksinya di Desa Kranggan, Polanharjo, Klaten, Jumat (26/6/2026). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng |
Kades Kranggan, Gunawan Budi Utomo menjelaskan gagasan museum Besalen Koripan itu didasari adanya potensi sejarah dan budaya.
"Budaya metalurgi di Koripan sudah lama, di era Mataram Islam. Ada empu Supo dan empu Korep yang membuat senjata untuk perang," terang Gunawan kepada detikJateng.
Sering waktu, kata Gunawan, tradisi berubah dari jaman empu yang membuat senjata menjadi produsen alat rumah tangga dan pertanian. Produk Koripan sudah terkenal secara nasional.
"Yang mana pemasaran secara nasional sudah terkenal secara nasional. Berjalannya waktu perajin berkurang, minat generasi muda juga berkurang," lanjut Gunawan.
"Agar tradisi ini tidak hilang maka kita bangun museum. Bekerjasama dengan UNS kita buat Museum Besalen Koripan untuk melestarikan," imbuhnya.
Pembantu rektor III UNS, Prof Dody Ariawan menyatakan PPK Ormawa FH UNS ikut memberikan pendampingan dalam mewujudkan Museum Besalen Koripan. Pendampingan mulai bulan Juni-November 2025.
"Pendampingan mulai bulan Juni - November 2025, menghasilkan living museum Besalen Koripan, museum metalurgi pertama yang dikelola oleh desa. Museum sudah teregister secara nasional sehingga secara legalisasi sudah tuntas," kata Dody di lokasi.
Menurut Dody, keberadaan besalen Koripan sudah sudah memberikan dampak secara ekonomis. Kunjungan tercatat sudah sampai 320 orang.
"Kunjungan tercatat sudah sampai 320 orang. Pendapatan museum dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 15 juta, termasuk penjualan pisau hasil pandai besi juga meningkat," katanya.
(dil/dil)


