Makam Kiai Jungke di Semarang dan Tradisi Telur Sambal Kecap

Makam Kiai Jungke di Semarang dan Tradisi Telur Sambal Kecap

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Kamis, 02 Jul 2026 07:47 WIB
Makam Kiai Jungke di Kelurahan Pandansari, Semarang Tengah, Rabu (1/7).
Makam Kiai Jungke di Kelurahan Pandansari, Semarang Tengah, Rabu (1/7). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Makam Kiai Jungke berada di tengah permukiman warga Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah. Sosok kiai yang bernama Sayyid Husein itu erat kaitannya dengan tradisi telur sambal kecap.

Pantauan detikJateng di lokasi pada Rabu (1/7), makam tersebut berada di tengah permukiman warga. Tidak ada petunjuk arah yang menavigasi di mana letak kuburan itu.

Bahkan, jika tidak bertanya kepada warga sekitar, makam Kiai Jungke itu sulit ditemukan lantaran 'tenggelam' di tengah padatnya permukiman.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menuju ke lokasi, detikers bisa melewati Jalan Gendingan di dekat Queen City Mall. Di jalan tersebut, terdapat sebuah lorong sempit yang hanya bisa dilewati satu unit motor.

Seorang bocah sekitar bahkan tahu di mana letak kedua makam tersebut. "Di mana makam Kiai Jungke?" tanya detikJateng. "Di sana, terus lurus, terus belok kanan," tunjuk bocah lelaki itu yang kemudian menghilang di balik gang sempit permukiman.

ADVERTISEMENT

Sekitar 10 meter dari jalan raya, tampak permukiman. Jika belok ke kanan, detikers bakal menemukan sebuah lokasi yang ditembok merah dan ditutup menggunakan dua pintu.

Di dalamnya terdapat dua makam yakni Kiai Jungke dan istrinya, Raden Ayu Noyowongso. Lahan tersebut seluas sekitar 40 meter persegi yang telah dipasang lantai keramik dan tidak beratap.

Pada Sabtu (27/6), Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminuddin, menghadiri pengajian haul sekaligus meresmikan makam Kiai Jungke.

"Kita bisa berdiri di tengah kota dengan masyarakat yang makin baik hari ini, itu semua tidak lepas dari perjuangan dakwah yang beliau lakukan pada masa lampau. Warga Pandansari harus bangga karena di wilayah ini dimakamkan seorang tokoh besar. Tugas kita bersama adalah mengikuti jejak sekaligus meneladani perjuangan beliau," kata Iswar dalam keterangan tertulisnya.

Ketua Panitia Kirab Budaya sekaligus Ketua Pengurus Makam Kiai Jungke, Nur Mahfud, mengatakan Sayyid Husein wafat pada abad ke-17 atau tahun 1600-an. Tokoh tersebut dipercaya sebagai keturunan Sunan Bonang, sementara Raden Ayu Noyowongso memiliki ikatan dengan Keraton Solo.

"Asalnya kalau yang saya tahu, dia keturunan dari Sunan Bonang. Kalau wafatnya sekitar 1600 sekian. Tapi juga ada yang ke keraton dari Raden Ayu Noyowongsonya," ungkap Mahfud saat ditemui detikJateng di makam Kiai Jungke.

"Makanya di sini kemarin pada saat kirab itu kenapa kok adatnya Solo? Nah, kita juga harus unggah-ungguhnya ke sana (Keraton Solo) dulu juga. Jadi saat kita mau menjalankan haul ini, kula nuwun (meminta izin). Akhirnya ketemu rajane, akhirnya dikasih air yang tertua di pertapaan di Keraton Solo," lanjutnya.

Mahfud mengungkap mengapa makam Kiai Jungke berada di tengah permukiman. Dia menyebut, sejak awal kuburan itu ada di lokasi tersebut, hanya saja penduduk semakin padat seiring waktu.

"Kalau dulu areanya besar. Karena mungkin dengan pertumbuhan masyarakat, akhirnya kan sesak," jelasnya.

Meski 'tersembunyi' di tengah permukiman, Mahfud menyebut, banyak masyarakat dari luar Kota Semarang yang berziarah ke makam Kiai Jungke. Sosok tersebut juga dipercaya sebagai penyebar Islam di Kota Semarang.

"Tamu-tamu kita dari Jepara juga, Pati, Kudus itu banyak yang ke sini juga," sebutnya.

Sementara itu, keturunan Kiai Jungke, Hariyani (52), tidak terlalu mengerti silsilah keluarganya. Hanya saja, pesan terakhir dari ayahnya, Hariyani diminta untuk selalu merawat makam Kiai Junge.

"Kalau saya nggak tahu (keturunan keberapa), pokok dari buyut, bapak, saya terakhir. Pesan bapak sebelum meninggal itu, setiap Jumat Kliwon disuruh bersih-bersih, pokoknya dirawat lah," terang Hariyani.

Tradisi Telur Sambal Kecap

Hariyani mengatakan, tradisi yang telah mengakar di masyarakat yang berkaitan dengan Kiai Jungke adalah telur sambal kecap. Makanan tersebut diberikan oleh warga yang tercapai hajatnya kepada para anak-anak kampung.

Bukan tanpa alasan, telur sambal kecap diberikan lantaran Kiai Jungke dipercaya senang dengan anak kecil. Biasanya menu tersebut disajikan dengan nasi liwet.

"Ya itu kalau kalau punya hajat apa gitu terus tercapai, orang-orang beri nasi liwet, telur sama sambal kecap. Itu dikasihkan anak kecil, sekarang orang tua-orang tua juga," sebutnya.

Sajian tersebut diletakkan di makam Kiai Jungke. Dan siapa saja bisa mengambilnya selagi tersedia.

"Pokoknya taruh situ terus ada yang doain toh, Terus semua pada bawa piring taruh di situ, nanti bagi rata gitu," ungkapnya.

Tradisi tersebut masih bertahan hingga kini. Sri Rejeki (45) semasa kecilnya sering mendapatkan sego telur sambal kecap dari warga yang tercapai hajatnya.

"Dulu seperempat telurnya, satu telur dipotong jadi empat. Kalau orangnya sedikit dapat setengah, kalau banyak dapat seperempat. Biasanya kalau hajatnya tersampaikan pasti bancakan (selamatan) di sini (makam Kiai Jungke)," terangnya.

Tidak ada undangan resmi saat seorang warga menggelar syukuran dengan menu nasi telur sambal kecap. Mereka langsung saja mengumumkan "bancakan" yang disambut dengan rombongan anak kecil yang membawa piring.

"Woro-woro lah, 'bancakan-bancakan'. Yang datang anak-anak kecil lari semua. Waktu saya kecil juga begitu, bawa piring," sebutnya.

Sri pun beberapa kali menggelar bancakan di makam Kiai Jungke. Syukuran itu digelar semasa Sri pertama mendapat kerja, bahkan mampu membeli motor perdananya.

"Dulu aku punya motor, pertama kali kerja, bisa hamil. Dulu kan hamilku telat, terus, 'nanti bancakan Mbah Kiai (Kiai Jungke)'. Dilalah diparingi momongan (hamil). Bancakan nggak ada waktunya bisa pagi, siang, sore, dan nggak ada harinya," kisahnya.




(iaf/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads