Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya menutup pondok pesantren di Pati usai adanya temuan kasus pemerkosaan puluhan santriwati. Para santri akan dipindahkan ke ponpes lain di Pati.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Pati, Ahmad Syaiku, mengatakan telah memberikan tiga keputusan atas kejadian dugaan pencabulan di ponpes Pati oleh oknum pengasuh ponpesnya.
"Dari Dirjen Pesantren Kementerian Agama ada tiga rekomendasi. Pertama menutup sementara artinya pada tahun pelajaran ini tidak boleh menerima santri baru, kedua opsinya pengasuh itu memang sudah harus terpisah di yayasan artinya tidak di yayasan itu. Rekomendasi ketiga kalau memang poin kesatu, kedua tidak diindahkan maka Kementerian Agama akan menutup permanen," kata Syaiku kepada wartawan ditemui di Pendopo Kabupaten Pati, Minggu (3/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syaikhu menyebut ada 252 santri di ponpes tersebut, dengan rincian 112 santriwati dan sisanya laki-laki. Adapun jenjang pendidikan terdiri dari tingkatan, RA, MI, SMP ,dan MA.
Syaiku mengatakan untuk siswa MI kelas 6 yang sedang menjalani ujian akan tetap melaksanakan tes dengan didampingi oleh para guru dan Kemenag Pati.
"Untuk teman-teman siswa masih kelas 6 MI karena besok Senin itu mulai ujian sampai 12 Mei 2025 anak kelas 6 tetap di situ dengan didampingi oleh gurunya," jelas dia.
Syaiku mengatakan akan melakukan penanganan secara optimal. "Kementerian Agama memang sudah membuat satgas anti bullying dan macam-macam itu, kami optimalkan, kami setiap bulan melakukan pembinaan kepada ponpes intinya optimal itu tidak terulang lagi," tegas Syaiku.
Ponpes Bakal Ditutup Permanen
Kesempatan yang sama Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra mengaku berterima kasih kepada Menteri Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifin Fauzi yang langsung menangani kasus ponpes ini.
"Bu Menteri menindaklanjuti ke pusat terkait dengan izin dari pondok pesantren ini supaya tidak terjadi di pondok pesantren yang lain," jelas Risma ditemui di Pendopo Kabupaten Pati.
Dia mengatakan ponpes yang ada di Tlogowungu itu telah ditutup setelah adanya oknum pengasuh ponpes diduga memperkosa puluhan santriwati.
"Sudah dilakukan penutupan dan tidak menerima siswa baru lagi dan terus untuk kelas 6 masih melaksanakan ujian akan tetap di situ atau dievakuasi di tempat lain itu menjadi kewenangan dari Kemenag Kabupaten Pati. Karena melakukan kegiatan di sana untuk melakukan mitigasi apa-apa saja yang urgensi terjadi di sana, jangan sampai anak didik kita terjadi masalah kemudian akhir semester ini," jelas dia.
"Ditutup semua tidak ada pendaftaran tahun ini, ini adalah langkah bu menteri kalau bisa dilanjutkan tutup permanen, jangan sampai hal terjadi ini terjadi di pondok-pondok pesantren lain. Ya tutup permanen," lanjut dia.
Risma mengimbau kepada warga agar tetap menjaga kondusifitas di Pati. Sebab pemerintah telah hadir untuk menangani perkara tersebut.
"Ini sudah kami tangani dan bahkan Bu Menteri juga hadir menangani perkara ini, saya kira ini akan tertangani dengan cepat dan tidak ada kegelisahan di masyarakat," jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, puluhan santriwati diduga menjadi korban pemerkosaan oleh oknum pengasuh ponpes di wilayah Kecamatan Tlogowungu Pati. Polisi pun telah menetapkan tersangka berinsial AS menjadi tersangka. Akan tetapi tersangka belum ditahan.
(ams/apu)