Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengapresiasi langkah Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, dalam mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) melalui pendidikan kesetaraan Paket C. Faiz juga mengintegrasikan program tersebut dengan penyerapan tenaga kerja di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batang.
Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, I Gusti Made Ardana, menilai cara Pemkab Batang itu layak menjadi percontohan nasional untuk mendongkrak kualitas SDM.
"Apa yang dilakukan oleh Bupati Batang bisa menjadi contoh untuk kabupaten lain dan inspirasi bagi kami dengan anggaran terbatas tapi bisa meningkatkan SDM," kata Ardana dalam acara Jumpa Apresiasi Warga Pendidikan Kesetaraan (JAWARA) Jawa Tengah di Batang, seperti dalam keterangan tertulis yang diterima detikJateng, Sabtu (27/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Acara Jumpa Apresiasi Warga Pendidikan Kesetaraan (JAWARA) Jawa Tengah di Kabupaten Batang. Foto: Dok. Pemkab Batang |
Sementara itu, Faiz menegaskan bahwa capaian tersebut adalah sebuah kehormatan dan tantangan besar bagi pemerintahannya.
Faiz berkomitmen program tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. Dia mengatakan, ketika pertama kali dilantik, IPM Batang berada di peringkat ke-31 se-Jateng.
Ekonomi Batang juga tumbuh mencapai hampir 8 persen dengan adanya KEK Batang. Namun, industri besar dari Korea hingga Cina kesulitan menyerap tenaga kerja lokal sebab standar pendidikan di mana mayoritas hanya lulusan SD dan SMP.
"Satu-satunya cara yang bisa mendongkrak cepat ya pendidikan kesetaraan. Pertama saya perintah Dinas Pendidikan, semua kepala desa mapping jumlah anak-anak putus sekolah tapi yang sudah usia tidak sekolah. Kita anggarkan dari Pemda, setiap tahun minimal 2.000 anak kita kasih beasiswa pendidikan kesetaraan," kata Faiz.
Acara Jumpa Apresiasi Warga Pendidikan Kesetaraan (JAWARA) Jawa Tengah di Kabupaten Batang. Foto: Dok. Pemkab Batang |
Pemkab Batang turut mengintegrasikan program tersebut dengan pelatihan kerja yang disebut Dapat Kerja (Daker). Warga pun dapat dapat mengakses pendidikan formal sekaligus mendapat pelatihan kompetensi sesuai kebutuhan industri.
"Pendidikan kesetaraannya ini kemudian saya paketin dengan program rekrutmen tenaga kerja tadi. Saya punya program namanya program Daker (Dapat Kerja). Orang daftar ke pabrik, ada gap kompetensi, kita melatih kompetensinya. Tahun lalu kita latih 2.000 orang, alhamdulillah 1.870 sekian sudah masuk ke dunia kerja," imbuh Faiz.
Faiz berharap skema tersebut dapat diusulkan kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah agar didukung secara anggaran oleh pemerintah pusat. Sebab, beban IPM terbesar ada pada kelompok warga yang melewati usia sekolah formal.
(dil/dil)


