Cita rasa es krim Karimata yang bertempat di Jalan Karimata nomor 44, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, masih terjaga selama 4,5 dekade sejak 1981. Bisnis es krim tersebut kini diwariskan ke generasi ketiga dan terus dikembangkan sembari menjaga rasa yang autentik.
detikJateng berkesempatan mengunjungi toko es krim tersebut pada Sabtu (11/4/2026) kala sinar matahari panas menyengat. Di depan gerbang rumah sekaligus menjadi toko itu, terdapat dua bel. Jika pelapak tak dapat mendengar bel terompet, detikers dapat menekan tombol bel yang lebih modern.
Tiba di depan pintu rumah yang tertutup, tombol bel lain menunggu untuk ditekan. "Tet...tot...tet...tot," demikian bunyi bel yang terpasang di pintu rumah itu. Di depan rumah tersebut terpajang berbagai varian es krim Karimata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, seorang wanita membukakan pintu. Dari beranda rumah, tampak empat unit lemari pendingin yang berisi ratusan es krim Karimata.
"Mau pesan apa, Kak?" tanya wanita sebagai kasir itu.
detikJateng pun memilih tiga varian es krim; vanila, stroberi, coklat; durian; dan kopi. Es krim varian vanila, stroberi, coklat berbentuk balok dengan tiga warna yang tidak begitu mencolok, kuning, pink, dan coklat.
Penampakan es krim Karimata di Jalan Karimata nomor 44, Kelurahan Karangtempel, Kecamatan Semarang Timur, Kota Semarang, Sabtu (11/4/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng |
Es krim berukuran telapak tangan pria dewasa tersebut dibungkus menggunakan sebuah plastik. Berbeda dengan es krim varian durian dan kopi yang berbungkus kap plastik.
Ketiga varian es krim tersebut memiliki tekstur sama, tidak selembut es krim pada umumnya, namun mulai enak dimakan setelah sekitar semenit didiamkan. Varian es krim pertama bisa langsung dinikmati dengan digigit, sementara dua varian lainnya yang dibungkus kap plastik dapat disantap dengan menggunakan sendok kayu kecil.
Pada gigitan pertama bagian es krim coklat, coklat balok begitu terasa di pangkal lidah, sedikit pahit dan lemak santan. Di bagian es krim stroberi terasa kecutnya buah fragaria vesca berpadu nikmatnya susu.
Lidah mulai kedinginan, tetapi tak bisa berhenti menyantap satu bagian es krim balok itu. Begitu menggigit varian vanila, rasa vanila pun memenuhi rongga mulut. Ada pengalaman menyantap cokelat, vanila, dan stroberi sekaligus ketika ketiga bagian es krim tersebut dinikmati bersama. Semua rasa terikat kuat dengan susu.
Beralih ke varian es krim durian, aroma khas buah tropis tersebut langsung menguar di rongga mulut pada santapan pertama. Rasa durian pun masih bertahan di lidah hingga akhir kecapan.
Pahit kahwa berpadu dengan susu dan gula terasa nikmat saat menyantap es krim varian kopi. Pengalamannya seakan menikmati kopi santan varian es krim.
Tak cukup hanya menikmati es krim Karimata tanpa kerupuk simping. Perpaduan kerupuk yang memiliki rasa hambar cocok dinikmati dengan es krim. Renyah kerupuk dan lembutnya es krim menjadi pengalaman menikmati es krim yang unik.
Menjaga Rasa hingga Tiga Generasi
Adalah Herlina Tanjung yang membuat es krim Karimata pertama kalinya pada 1981. Sebelum itu Herlina yang menjadi ibu rumah tangga melapak es batu di rumahnya di lapaknya.
"Pertama kali, Emak (Herlina) saya itu membuat es batu gitu. Jual es batu, lalu perlahan es lilin, dan kemudian jadilah tahun '81-an itu es krim ini," jelas Mailani Carolina Wirawan yang merupakan istri dari cucu Herila sekaligus generasi ketiga pelapak es krim Karimata, Reinaldo Hartanto.
Kala itu Herlina berperan sebagai produsen es krim Karimata. Sementara suaminya, Hadinoto Sudarso, keliling melapak es krim mereka.
Adapun es krim Karimata dibuat dari buah-buahan asli, susu, gula, dan santan. Resep tersebut pun telah diwariskan turun-menurun hingga sekarang.
"Ini full susu. Ada yang santan kalau misal alergi susu. Jadi, ada pasangannya yang durian coklat, terus kelapa muda coklat, nangka pandan sama kopi coklat itu kita full santan. Kita enggak ada tambahan air, full perasan santan sama susu full," jelas Carolina.
"Kita pakai 100% buah asli. Jadi kayak, misal, durian, kita juga pakai durian asli," lanjutnya.
"Terus dari segi gula pun kita pakainya gula pasir. Jadi bukan pakai gula pengawet manis yang buatan gitu, enggak," katanya.
Manis getirnya berbisnis es krim pun dirasakan pasangan kekasih itu. Sedari awal, mereka berjualan es krim Karimata di rumah.
"Nggak banyak orang membuka (berjualan es krim) di dalam rumah, kan. Apalagi ini kan harus pencet bel dulu," kisah Carolina.
Orang-orang sekitar pasutri itu pesimistis terhadap bisnis es krim jika dijual di rumah dan tidak akan laku. Meski begitu, keduanya pun optimistis usaha mereka akan berhasil.
"Diinfoin Engkong (Hadinoto) kalau dulu itu pernah kayak dibilang 'nggak mungkin laku'. Tapi kan Emak sama Engkong itu tetap optimis, tetap jualan, tetap promosiin keluar, kayak gitu," tutur Carolina.
Usaha Hadinoto dan Herlina pun tak lekang oleh waktu hingga kini. Carolina mengatakan, para pelanggannya seakan merasa pulang ke 'rumah nenek' jika membeli es krim di Jalan Karimata itu. Namun pengunjung sudah tidak bisa bertemu Hadinoto dan Herlina karena telah berpulang pada tahun ini.
"Akhirnya orang-orang sampai sekarang kalau datang (membeli es krim Karimata) berarti anaknya ke rumah nenek kayak gitu," ungkapnya.
Bisnis yang dirintis kedua pasang kekasih itu kini diteruskan oleh anak cucu mereka. Adapun generasi kedua yakni orang tua Reinaldo.
"(Generasi) Kedua itu di Bandung, namanya (es krim) Natural. Dari mamanya Pak Reinal juga gitu (resep tetap sama). Terus generasi ketiganya diturunin ke Reinal sama adiknya, Tania. Yang Tania itu di daerah Tangerang," kata Carolina.
Hingga kini, terdapat 27 varian es krim Karimata. Adapun harganya bervariasi mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. Carolina mengatakan, pihaknya juga menyediakan tart es krim Karimata seharga Rp 255 ribu-Rp 300 ribu.
"Dulu cuma beberapa, mungkin 10 (varian es krim Karimata) nggak sampai. Kalau sekarang 27 (varian) terus dikembangin," sebutnya.
Simak Video "Video Viral Begal Sadis di Depan Rumah Korban di Semarang"
[Gambas:Video 20detik]
(alg/alg)
