Wisata petik melon di Rumah Tahanan (Rutan) kelas IIB Boyolali mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Sebanyak 124 buah melon terjual habis hanya dalam waktu sekitar 3 jam.
Para pengunjung juga mendapatkan pengalaman unik, membeli melon langsung dari lokasi pertaniannya di dalam rutan dengan dikawal petugas.
Ternyata di dalam rutan ada satu petak pertanian modern. Ada buah melon jenis sweet lavender yang dibudidayakan di dalam green house dan digarap oleh warga binaan di sana. Hari ini, buah melon itu memasuki masa panen. Pihak Rutan Boyolali pun membuat program wisata petik melon yang dibuka untuk umum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengunjung pun mulai berdatangan. Diantaranya rombongan ibu-ibu dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Boyolali. Juga ada pengunjung dari Sragen dan Kartasura, Sukoharjo. Setelah menyerahkan identitas, mereka diantar petugas rutan ke green house yang ada di dalam kompleks rutan.
Pengunjung ditemani petugas rutan dan dua orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang mengelola green house itu dan sejumlah sipir. Mereka tampak sibuk berkeliling memilih melon yang akan dipetik.
"Saya kebetulan baru pertama kali ini datang ke rutan, awalnya tadi agak takut-takut gimana gitu. Setelah sampai di dalam, penyambutannya baik dan ramah," kata Dwi Setyowati, warga Simo, Boyolali yang juga ketua IBI Boyolali kepada wartawan di Rutan Boyolali, Senin (11/5/2026).
Pengunjung juga mendapat penjelasan tentang jenis tanaman melon tersebut. Dwi Setyowati mengaku tak menyangka ada aktivitas pertanian modern di dalam rutan. Baru sekali ini ia menjumpai wisata petik melon di dalam rutan.
Dwi dan rombongannya juga memuji rasa dan tekstur melonnya. "Tekstur buahnya renyah, rasanya manis. Enak," ujar dia.
Dia berharap program ini dapat terus dikembangkan, sehingga panen melon yang dihasilkan juga lebih banyak.
Sementara itu Kepala Rutan Kelas IIB Boyolali, Ervans Bahrudhin Mulyanto, mengatakan budidaya melon hidroponik ini merupakan salah satu bentuk pembinaan kemandirian dan pemberdayaan warga binaan di Rutan Boyolali.
"Jadi ini adalah salah satu bentuk pembinaan kemandirian bagi warga binaan kami. Di mana kita memanfaatkan lahan yang ada untuk budidaya melon dengan sistem hidroponik," ujar Ervans.
Warga binaan diajari dari penyemaian, perawatan harian, pemberian nutrisi, hingga panen dan pasca-panen. Dijelaskan, pembekalan ini agar nanti ketika warga binaan sudah selesai menjalani masa pidananya, mereka memiliki skill atau keahlian yang bisa digunakan untuk berwirausaha, atau bekerja di bidang pertanian modern.
Wisata petik melon mendapat respons yang bagus dari masyarakat. Dari dijadwalkan berlangsung hingga Sabtu (16/5) mendatang, namun di hari pertama pembukaan ini, sudah terjual habis.
Menurut dia, dari jumlah 124 pohon menghasilkan 124 buah dengan bobot 192 kilogram atau hampir 2 kuintal. Pendapatan yang dihasilkan mencapai Rp 5.760.000.
"Masyarakat ternyata sangat antusias, tadi ada yang datang ada dari Kartasura juga. Nantinya sebagian hasil penjualan melon akan diberikan untuk warga binaan pemasyarakatan sebagai premi atau upah," kata dia.
"Harapan kami, program ini terus berkelanjutan dan bisa menjadi contoh bagi unit lain dalam hal pemberdayaan warga binaan," imbuhnya.
(dil/aku)