Beberapa waktu terakhir, ramai di media sosial (medsos) soal keluhan wisatawan jadi korban getok parkir hingga penipuan vila bodong di Kota Batu. Persoalan ini perlu mendapat perhatian lebih karena berdampak pada citra Kota Batu sebagai jujukan wisatawan.
Tourismologist dari Universitas Brawijaya Dr. A. Faidlal Rahman menilai bahwa di era digital, ulasan buruk terkait persoalan-persoalan yang dialami wisatawan perlu mendapat perhatian serius. Sebab, bakal berdampak pada kepercayaan wisatawan.
"Ulasan negatif soal getok parkir dan vila bodong itu cepat sekali membentuk persepsi risiko. Wisatawan jadi lebih waspada dan merasa tidak aman," ujar Faid sapaan akrabnya saat dihubungi detikJatim, Rabu (14/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menyampaikan bahwa dampak ulasan buruk memiliki dampak yang sangat fatal. Alih-alih menginap dengan tenang, wisatawan memilih kunjungan singkat atau bahkan langsung mencoret Kota Batu dari daftar rencana liburan mereka dan beralih ke destinasi lain.
"Isu kepercayaan dan rasa aman ini sangat mempengaruhi minat menginap. Jika tidak segera dibenahi, bukan tidak mungkin tingkat kunjungan akan terus merosot karena turis merasa kapok," ujar Faid.
Menurutnya, ulasan negatif perlu ditangani dengan cepat, tegas, dan konsisten. Faid merinci empat langkah strategis yang harus segera diambil untuk menyelamatkan reputasi pariwisata Kota Batu:
1. Penegakan Aturan yang Nyata di Lapangan
Faid menegaskan bahwa praktik nakal seperti getok parkir dan vila bodong tidak boleh dibiarkan tanpa sanksi. "Praktik ini harus ditertibkan secara nyata. Tanpa tindakan tegas, persepsi negatif ini akan terus berulang di benak wisatawan," tegasnya.
2. Penyediaan Kanal Pengaduan yang Responsif
Perlindungan terhadap wisatawan harus menjadi prioritas. Faid menyarankan adanya kanal pengaduan resmi yang mudah diakses oleh publik. "Wisatawan harus merasa dilindungi, bukan dibiarkan saat kena masalah. Mereka butuh wadah melapor yang benar-benar direspons cepat," imbuhnya.
3. Manajemen Reputasi Digital yang Aktif
Di era media sosial, pemerintah dan pelaku usaha tidak boleh bersikap defensif. Sebaliknya, mereka harus aktif merespons setiap keluhan di platform digital. "Bukan menutup diri, tapi harus solutif dan terbuka. Ini adalah bagian dari manajemen reputasi agar citra daerah tetap positif," jelas Faid.
4. Transparansi Harga dan Standarisasi
Faid juga menyoroti pentingnya kejelasan informasi biaya. Menurutnya, seluruh informasi mengenai tarif parkir, tiket masuk, hingga harga akomodasi harus terpampang jelas sejak awal. "Harus ada transparansi agar wisatawan tidak merasa terjebak saat sudah berada di lokasi," tuturnya.
Bagi Faid, kunci utama untuk mengembalikan kepercayaan publik bukan dengan menutupi isu yang ada, melainkan menunjukkan perbaikan yang konkret. Sehingga wisatawan bisa tetap merasa nyaman dan aman berlibur ke Kota Batu.
"Kuncinya bukan menutupi masalah, tetapi menyelesaikan masalah dan menunjukkan perbaikan nyata. Itu cara paling efektif meredam ulasan negatif dan memulihkan kepercayaan wisatawan ke Kota Batu," tandasnya.
(auh/hil)
