Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Moyoketen 1, Tulungagung buka suara terkait kasus dugaan keracunan di SMK Sore. Pihak dapur akan melakukan evaluasi internal untuk lebih baik.
Kepala SPPG Moyoketen 1, Arinia, mengaku prihatin dengan dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami belasan siswa SMK Sore, Kecamatan Boyolangu. Kejadian tersebut di luar prediksi dan tidak diharapkan.
"Kami prihatin dan permohonan maaf atas insiden yang terjadi. Kesehatan dan keselamatan penerima manfaat MBG merupakan prioritas utama kami," kata Arinia, Jumat (23/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya SPPG akan mengikuti prosedur investigasi yang saat ini sedang dijalankan oleh dinas kesehatan sehingga dapat terungkap penyebab pasti dari insiden tersebut.
"Kami menghormati proses ilmiah dan hasil resmi yang akan dikeluarkan oleh pihak berwenang," ujarnya.
Arinia menambahkan selama ini pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan prosedur yang ketat guna menjamin kelayakan menu MBG yang disajikan untuk ribuan siswa tersebut.
Ke depan pihaknya akan melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap standar operasional yang dijalankan di internal dapurnya. Ia juga memperhatikan sejumlah saran dan masukan yang diberikan oleh BGN dan Dinas Kesehatan Tulungagung.
Pascainsiden dugaan keracunan itu, SPPG Moyoketen 1 langsung turun tangan ikut memperhatikan para korban yang dilarikan ke puskesmas maupun siswa yang mengalami gejala keracunan.
"Kami mengunjungi para siswa tersebut," kata Arinia.
Di sisi lain pihaknya berharap program kerja sama dengan BGN tersebut akan berlanjut, sebab operasional SPPG-nya tidak hanya persoalan penyediaan MBG. Namun, pihaknya memiliki 47 tenaga kerja yang menggantungkan hidup dari program MBG.
"Penghentian operasional juga berdampak langsung pada keberlangsungan kerja dan penghasilan para relawan yang selama ini berperan aktif dalam program sosial ini," ujarnya.
Saat ini operasional SPPG Moyoketen 1 dihentikan sementara hingga menunggu hasil investigasi yang dijalankan dinas kesehatan dan BGN. Selama beroperasi, SPPG Moyoketen 1 menyuplai kebutuhan MBG untuk SMP Ponpes MIA, Posyandu Desa Gedangsewu dan SMK Sore.
KSPPG ini meminta proses investigasi yang dijalankan dilakukan secara transparan dan akuntabel, sehingga rekomendasi yang dikeluarkan sesuai dengan fakta yang terjadi.
Arinia menyoroti beberapa hal yang dilakukan dalam proses investigasi ini, salah satunya tidak adanya sampel muntahan yang dilakukan uji laboratorium.
"Sehingga tidak dapat dilakukan pengujian laboratorium secara komprehensif terhadap cairan biologis yang secara medis merupakan salah satu bukti kunci untuk menelusuri sumber bakteri maupun kemungkinan kandungan kimia penyebab gangguan kesehatan," tegasnya.
Sebelumnya 15 siswa SMK Sore, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung diduga mengalami keracunan usai mengkonsumsi menu MBG. Para korban mengalami gejala diare, mual dan muntah.
(auh/abq)
