Mahasiswa Untag Buktikan Air Gunung Jernih Belum Tentu Aman Diminum

Mahasiswa Untag Buktikan Air Gunung Jernih Belum Tentu Aman Diminum

Chilyah Auliya - detikJatim
Rabu, 18 Feb 2026 15:45 WIB
Mahasiswa Untag bikin inovasi pengecek kelayakan air gunung untuk diminum
Mahasiswa Untag bikin inovasi pengecek kelayakan air gunung untuk diminum/Foto: Istimewa
Surabaya -

Kegelisahan saat mendaki gunung membawa Aditya Vahresi Ramadhan meraih predikat karya terbaik dalam wisuda Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Februari 2026. Mahasiswa Teknik Elektro ini menciptakan alat deteksi kualitas air instan setelah sering melihat para pendaki meminum air dari alam hanya bermodalkan asumsi visual.

"Air yang terlihat jernih itu belum tentu aman dikonsumsi. Bisa saja ada pencemaran tanah atau kotoran yang tidak kasat mata," ujar Aditya saat menjelaskan alasannya merancang alat tersebut.

Terlebih, di balik tren pendakian masa kini, minimnya riset medan membuat banyak pendaki hanya mengandalkan insting saat stamina terkuras habis. Saat kondisi dehidrasi berat, batas antara segar dan aman menjadi kabur, hingga muncul pembenaran semu bahwa air yang ditemukan di alam liar pastilah layak minum, asalkan mampu membasahi tenggorokan yang kering.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berangkat dari keresahan itulah, di bawah bimbingan Ir. Kukuh Setyajid, M.T., ia menciptakan sistem berbasis mikrokontroler ESP32 yang mengintegrasikan sensor pH dan sensor turbidity.

ADVERTISEMENT

Secara teknis, alat ini bekerja memastikan air berada pada skala pH netral 6,5 hingga 8,5 sesuai standar kesehatan. Sementara itu, sensor kekeruhan bertugas menyisir partikel polutan yang mencemari air, di mana seluruh hasilnya akan langsung terbaca secara real time pada layar LCD.

Meski sempat bergelut dengan kerumitan kalibrasi agar data yang dihasilkan benar-benar presisi, Aditya akhirnya berhasil merampungkan inovasi yang sangat layak diterjunkan ke berbagai kebutuhan di lapangan.

Potensi alat ini pun kian terbuka lebar, mengingat ekosistem inovasi air bersih kini makin berkembang dari sistem filtrasi berbasis IoT hingga penggunaan arang aktif biji kelor yang bisa dikolaborasikan dengan milik Aditya untuk menciptakan solusi air minum yang lebih sempurna.

Aditya berharap masyarakat tidak lagi hanya mengandalkan mata telanjang untuk menilai kelayakan air minum.

"Kesadaran masyarakat terhadap kualitas air tidak boleh hanya berdasar pada asumsi terlihat bersih, melainkan harus berdasarkan pengujian yang terukur demi keamanan kesehatan," tegasnya.

Ke depannya, wisudawan berprestasi ini mendorong adik tingkatnya di Teknik Elektro Untag Surabaya maupun di perguruan tinggi lainnya untuk berkontribusi menyempurnakan alat agar semakin memberikan dampak nyata bagi pelaku usaha air minum isi ulang di Indonesia.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads