Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) di kancah internasional. Tim lintas disiplin dari Unair berhasil meraih Gold Medal sekaligus The Outstanding Invention & Innovation Prize dalam ajang International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) 2026 yang digelar di Thailand.
Tim ini terdiri dari tujuh mahasiswa lintas program studi, yakni Sandrina Indah Paraswati (S1 Keperawatan) sebagai ketua tim, Fatimah Nur Fadillah (Magister Kesehatan Masyarakat), Denaswa Hanindya Orcidaniar, Nawang Ayu Mukti Laksono, dan Amira Hasna Salsabila (S1 Gizi), Rohimatuq Salvia Qusna (S1 Keperawatan), serta Mochamad Hilmi Hibatulloh (S1 Farmasi).
Salah satu anggota tim, Denaswa Hanindya Orcidaniar mengaku tidak menyangka inovasi yang mereka kembangkan mendapat dua penghargaan bergengsi sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya kami hanya berharap bisa menyelesaikan presentasi dengan baik dan membawa pulang pengalaman berharga. Ketika akhirnya tidak hanya meraih Gold Medal, tetapi juga The Outstanding Invention & Innovation Prize, rasanya benar-benar tidak menyangka," ujar Denaswa kepada detikJatim, Sabtu (24/1/2026).
IPITEx merupakan ajang inovasi internasional yang diikuti peserta dari berbagai negara dengan latar belakang inovasi yang beragam. Menurut Denaswa, bisa tampil di forum tersebut saja sudah menjadi kehormatan tersendiri, terlebih inovasi tim Unair dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik.
"Inovasi kami tidak hanya mendapat Gold Medal, tetapi juga dinilai sebagai inovasi unggulan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berkesan sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab untuk terus mengembangkan inovasi ini," tambahnya.
Inovasi yang dikembangkan tim Unair diberi nama SPYRAGO (Spirulina Platensis and Synbiotics for Advanced Growth). Produk ini merupakan pangan fungsional yang dirancang untuk pencegahan stunting dan peningkatan kesehatan saluran cerna, dengan sasaran utama periode krusial 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
SPYRAGO hadir dalam dua bentuk, yakni protein bar untuk ibu dan makanan bayi 2-in-1 siap konsumsi. Inovasi ini berangkat dari pengalaman tim sebagai mahasiswa kesehatan yang aktif melakukan edukasi gizi dan pengabdian masyarakat.
"Di lapangan kami melihat edukasi saja belum cukup. Pemenuhan gizi masih terkendala akses pangan dan kondisi ekonomi. Padahal, intervensi paling optimal justru berada pada periode 1.000 HPK," jelas Denaswa.
Keunggulan SPYRAGO terletak pada pendekatan yang terintegrasi. Produk ini memanfaatkan spirulina sebagai mikroalga dengan kepadatan nutrisi tinggi, dikombinasikan dengan sinbiotik untuk mendukung kesehatan saluran cerna. Tim juga mengembangkan teknologi formulasi yang membuat sinbiotik tetap stabil tanpa ketergantungan cold chain, sehingga lebih praktis dan mudah didistribusikan.
Tak hanya produk, tim juga melengkapi inovasi ini dengan platform berbasis website yang berfungsi sebagai media edukasi, pendampingan intervensi gizi, serta sarana menjaga hubungan dengan pengguna.
"Tantangan terbesar kami ada di proses formulasi. Kami berkali-kali gagal dari segi kandungan gizi maupun aspek sensorik seperti rasa, warna, aroma, dan tekstur. Tapi dari situlah kami belajar dan terus memperbaiki," ungkap Denaswa.
Meski dihadapkan pada keterbatasan waktu di tengah aktivitas akademik dan tantangan teknis di laboratorium, kerja sama tim dan dukungan lingkungan kampus menjadi faktor penting keberhasilan mereka.
Ke depan, tim Unair menargetkan komersialisasi SPYRAGO. Produk ini disebut telah siap dari sisi formulasi, ketersediaan bahan baku, strategi pengembangan, serta telah memiliki perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).
"Kami berharap inovasi ini tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat. Kami juga membuka peluang kerja sama dengan investor agar jangkauan produk ini semakin luas," katanya.
Sebagai pesan penutup, Denaswa mendorong mahasiswa lain untuk berani memulai dari permasalahan di sekitar.
"Prestasi seperti ini bukan hasil instan, tetapi akumulasi dari proses panjang, konsistensi, dan kemauan belajar dari kegagalan," tuturnya.
Tim juga berharap institusi pendidikan terus memberikan dukungan berkelanjutan bagi mahasiswa untuk berinovasi, baik melalui fasilitas, pendampingan, maupun kesempatan mengikuti ajang internasional.
(irb/hil)