Kota Surabaya tak pernah benar-benar sepi dari karya seni. Namun, di balik riuhnya pameran hingga dinding-dinding galeri yang terisi, ada tantangan tersendiri yang masih dihadapi.
Sejumlah agenda pameran terus bergulir, sayangnya, pasar tak selalu ramai dan kolektor kian selektif. Namun, produktivitas seniman tak terhenti.
Seperti tercermin dalam perhelatan seni yang mulai dikenal sebagai agenda tahunan di Kota Pahlawan, ARTSUBS. Gelaran ini jadi salah satu panggung besar yang mempertemukan seniman, kurator, kolektor, dan publik di Surabaya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya di Surabaya, seniman bahkan merambah ke pameran di berbagai daerah untuk mengenalkan karyanya. Belum lama ini misalnya, galeri seni asal Surabaya, HaDiArtPlatform menjadi satu-satunya galeri asal Kota Pahlawan yang berpartisipasi dalam Art Jakarta Papers 2026.
Gelaran itu menampilkan karya berbasis kertas, mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi di City Hall Pondok Indah Mall 3, Jakarta, pada 5-8 Februari 2026.
Di tengah geliat tersebut, Seniman dan penggiat wacana seni asal Sidoarjo, Ali Aspandi, melihat bahwa lanskap seni rupa Jawa Timur, khususnya Surabaya dan sekitarnya saat ini tengah berada di fase konsolidasi sekaligus akselerasi.
"Aktivitas pameran tetap hidup, bahkan muncul perhelatan besar seperti ARTSUBS yang mempertemukan seniman, kurator, kolektor, dan publik dalam ekosistem yang semakin terhubung," ujar Ali kepada detikJatim, Sabtu (21/2/2026).
Akan tetapi, ia menyebut bahwa pasar seni di wilayah ini masih memiliki karakter transisi. Potensi besar belum disambut dengan infrastruktur yang mendukung.
"Di satu sisi, ekosistem kreatif berkembang dan berpotensi mendorong ekonomi kreatif serta kolaborasi lintas sektor. Di sisi lain, kebutuhan akan institusi permanen seperti museum seni rupa representatif, sistem arsip, dan dukungan kolektor jangka panjang masih jauh dari memadai," jelasnya.
Terkait kolektor yang disebut lesu, Ali menilai kini ada perubahan cara pandang. Ketidakpastian ekonomi yang tengah terjadi membuat kolektor lebih menajamkan hitung-hitungan.
"Pembelian karya seni tidak lagi sekadar dorongan apresiasi emosional, melainkan dipertimbangkan sebagai keputusan investasi yang matang," katanya.
Pertimbangan seriusnya kian banyak. Mulai dari reputasi seniman, rekam jejak pasar, hingga kekuatan konseptual karya. Tak hanya itu, perilaku pasar, menjadi lebih rasional dan reflektif.
"Kolektor cenderung menunggu momentum yang tepat dan menghindari spekulasi. Akibatnya pasar seni di Surabaya terasa melambat, padahal sebenarnya sedang menata ulang standar nilai dan kepercayaan jangka panjang terhadap karya seni," bebernya.
Namun, di tengah situasi yang tak pasti ini, Ali menegaskan seniman tak serta-merta berhenti.
"Bagi banyak seniman, kondisi pasar, ramai atau sepi bukan faktor utama dalam berkarya. Berkarya adalah panggilan, sehingga praktik artistik tetap berjalan dengan idealisme masing-masing," ucapnya.
Ia mengatakan, setiap seniman memiliki strategi berbeda untuk bertahan. Soal keberlangsungan hidup, Ali tak menampik banyak seniman yang juga memiliki pekerjaan lain di luar praktik artistiknya.
Lebih jauh, Ali juga menyoroti peran pemerintah dalam mendorong ekosistem seni di Surabaya dan sekitarnya. Menurutnya, kemajuan kota tak hanya dibangun melalui sektor ekonomi dan perdagangan, tetapi juga seni dan budaya.
"Banyak kota di dunia berkembang justru karena investasi serius pada kebudayaan. Selain untuk meningkatkan sektor ekonomi juga branding kota lebih humanis, sejuk dan harmoni," tuturnya.
Ia pun menekankan pentingnya kebijakan nyata, seperti pembangunan galeri atau museum publik serta infrastruktur pendukung lain yang kini masih sangat minim di Surabaya. Bahkan, hubungan harmonis antara pemerintah dan pelaku seni juga dinilai penting untuk menumbuhkan kepercayaan dalam ekosistem.
"Surabaya memiliki potensi besar menjadi kota maju di bidang seni," tegasnya.
Di sisi lain, COO HaDiArtPlatform, galeri seni asal Surabaya, Paulus Sugito, melihat persoalan ini dari urgensi regenerasi kolektor.
"Tantangannya adalah kolektornya. Jadi, jujur ya kolektornya sudah banyak yang usia menengah ke atas. Yang ke atas, senior juga mungkin sudah mengurangi kegiatan beli karena sadar umur," ujarnya.
Menurut Paulus, perlu upaya serius untuk menggali dan melahirkan kolektor baru. Apalagi, mengoleksi karya seni pada dasarnya juga bentuk investasi. Sementara itu, ia menilai para seniman di Surabaya tetap produktif meski pasar sedang selektif.
"Seniman, setahu saya mereka produksi saja, optimis enggak optimis mereka kan pasti bikin (karya). Di Surabaya kan banyak penulis yang produktif," katanya.
Bukan hanya itu, ia turut mengungkapkan kondisi Surabaya yang menurutnya masih perlu lebih serius dalam membangun ekosistem seni.
"Kita harus sadar Surabaya ini kota dagang. Tapi satu-satunya kota dagang yang art-nya bisa dibilang terlalu sedikit, bahkan kurang," katanya.
Dibandingkan dengan New York maupun Jakarta yang menurutnya sama-sama kota dagang, Surabaya ketinggalan. Hal itu sebab kota lain memiliki banyak galeri dan museum.
"Harapannya ruang untuk seni itu banyak. Bukan sekadar ruang pameran, tapi ruang interaksi dan lain sebagainya," harapnya.
Di tengah kondisi ini, para seniman Surabaya tak kehilangan nafas. Ekosistem mungkin belum sepenuhnya mapan, kolektor mungkin belum bertambah signifikan. Tapi satu hal yang tak berubah, produksi karya terus berjalan.
(irb/hil)
