Pilu Nenek Penjual Pisang di Nganjuk: Sering Kena Tipu, Kini Uang Mainan

Pilu Nenek Penjual Pisang di Nganjuk: Sering Kena Tipu, Kini Uang Mainan

Bakrie - detikJatim
Sabtu, 07 Mar 2026 22:45 WIB
Nenek penjual pisang yang ditipu uang mainan
Nenek penjual pisang yang ditipu uang mainan (Foto: Bakrie/detikJatim)
Nganjuk -

Yatemi (80), nenek penjual pisang viral yang tertipu uang mainan Rp 100 ribu, ternyata sering kena tipu. Penglihatannya yang terbatas, dimanfaatkan orang jahat.

Yatemi yang seorang diri berjualan di trotoar Jalan Ahmad Yani, Kelurahan/Kecamatan Tanjunganom, Kabupaten Nganjuk itu juga pernah didatangi seorang pembeli yang memborong pisangnya, dengan uang Malaysia pecahan 1 ringgit.

"Katanya itu uang Rp 50 ribu," ujar Mbah Yatemi ditemui detikJatim di rumahnya, Lingkungan Bleton, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom, Sabtu (7/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menunjukkan pecahan uang 1 ringgit itu yang masih disimpannya. Sekilas warnanya memang mirip dengan pecahan Rp 50 ribu. Namun belum diketahui pasti apakah uang ringgit itu asli atau palsu.

ADVERTISEMENT

Mbah Yatemi yang matanya memang tidak bisa melihat, saat itu percaya saja dan menyerahkan dagangan pisangnya.

Di waktu yang lain, Mbah Yatemi mengaku juga pernah dirampas uangnya oleh orang tak dikenal saat berjualan.

Ceritanya, uang menggenggam beberapa lembar uang yang baru diterima dari pembeli. Namun belum sempat dimasukkan dompet, tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkeram oleh pelaku dan uangnya diambil paksa.

"Saya sempat teriak-teriak tapi orangnya sudah pergi," ujarnya.

Mbah Yatemi sehari-hari berjualan sendirian. Ia membuka dagangannya mulai pagi-pagi jam 06.00 WIB sampai siang jam 12.00 WIB. Pulang perginya ia diantar jemput oleh keponakannya.

Sehari-hari, ia tinggal di rumah sederhana di sebuah gang sempit di Jalan Sumur Bur, Lingkungan Bleton, Kelurahan Warujayeng, Kecamatan Tanjunganom.

Di rumah itu Mbah Yatemi tinggal bersama dua saudaranya yang sama-sama sudah lansia. Dahulu ia pernah menikah, tapi tidak memiliki anak.

Yatemi sehari-hari dirawat oleh kerabat atau tetangga sekitar.

Sebelum berjualan di trotoar, dulu Mbah Yatemi pernah menjajakan dagangan pisang dan sayuran bahan dapur dengan berkeliling mengayuh sepeda.

"Seingat saya sudah 20 tahun lebih saya berjualan seperti ini," ungkapnya.




(auh/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads