Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suara bedug menjadi salah satu penanda khas datangnya malam takbiran. Di balik dentuman bedug yang menggema di masjid dan musala, ada sosok perajin yang memastikan alat tabuh tradisional itu tetap nyaring saat dipukul.
Salah satunya adalah Mbah Pamujo (78), warga Kelurahan Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Pria kelahiran 1948 itu dikenal sebagai tukang servis bedug masjid yang setiap Ramadan selalu kebanjiran pesanan perbaikan.
Rumah sederhana miliknya hampir tak pernah sepi dari bedug yang datang untuk diperbaiki. Pesanan datang dari berbagai masjid dan musala yang ingin bedugnya kembali nyaring saat malam takbiran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau bulan puasa seperti ini pasti ada saja yang servis. Kebanyakan bedug masjid, tapi kendang atau bedug gajah-gajahan juga pernah," kata Pamujo saat ditemui di rumahnya, Minggu (8/3/2026).
Servis bedug di Ponorogo Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim |
Profesi sebagai tukang servis bedug sudah ia jalani sejak tahun 2008. Sebelumnya, ia bekerja sebagai tukang kayu. Namun, karena pesanan semakin sepi, ia mencoba memperbaiki bedug milik masjid di sekitar rumahnya. Tak disangka, keahliannya justru semakin dikenal.
Menurutnya, kerusakan bedug paling sering terjadi pada bagian kulit. Kulit yang terlalu tipis atau sudah lama digunakan biasanya mudah robek, apalagi jika bedug dipukul terlalu keras.
"Biasanya kalau kulitnya sudah tipis atau robek sedikit langsung minta diganti. Kebanyakan rusaknya karena dipukul terlalu kencang, jadi gampang sobek," ujarnya.
Untuk biaya perbaikan, Mbah Pamujo mematok tarif berbeda tergantung kerusakan. Jika hanya memperbaiki satu sisi bedug, biaya jasanya sekitar Rp 300 ribu. Namun, jika harus mengganti kulit bedug, biayanya bisa mencapai Rp 900 ribu termasuk pemasangan.
"Kalau servis satu sisi jasanya Rp 300 ribu. Kalau ganti kulit sekitar Rp 600 ribu, jadi totalnya sekitar Rp 900 ribu dengan pemasangan," jelasnya.
Biaya bisa lebih mahal jika bagian pantek atau pengikat kulit bedug juga harus diganti. Pantek merupakan pengikat utama yang jumlahnya bisa puluhan buah dan biasanya harus diganti seluruhnya agar kekuatannya merata.
"Kalau panteknya diganti, satu pantek sekitar Rp 4.500," tambahnya.
Selama hampir dua dekade menekuni pekerjaan tersebut, Mbah Pamujo mengaku sudah memperbaiki ratusan bedug milik masjid maupun musala dari berbagai daerah.
"Sejak 2008 sudah ada ratusan bedug yang saya servis," tuturnya.
Kini, di usia yang tak lagi muda, ia tidak bekerja sendirian. Dalam proses pemasangan kulit sapi sebagai bahan utama bedug, ia kerap dibantu anaknya karena membutuhkan tenaga besar untuk menarik kulit agar kencang.
Meski begitu, Mbah Pamujo tetap menikmati pekerjaannya. Baginya, memperbaiki bedug bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi cara ikut meramaikan syiar Ramadan dan malam takbiran.
(irb/hil)

