Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Malang mendadak jadi sorotan setelah muncul temuan ulat atau belatung pada menu makanan yang dibagikan kepada siswa. Keluhan tersebut bahkan terjadi dua hari berturut-turut dari penyedia yang sama, memicu kegelisahan para wali murid.
Temuan ini pun langsung memicu respons dari pemerintah daerah. Satgas MBG hingga Pemkot Malang bergerak cepat melakukan pengecekan, memberikan peringatan, hingga menyiapkan evaluasi terhadap penyedia makanan yang terlibat.
Berikut fakta-fakta temuan belatung di menu MBG di Kota Malang:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Wali Murid Temukan Belatung di Menu MBG
Kasus ini pertama kali mencuat setelah seorang wali murid mendokumentasikan adanya belatung pada menu macaroni schotel yang dikemas dalam wadah thinwall, kemudian membagikannya di media sosial sehingga memicu perhatian publik.
Video dan foto yang beredar memperlihatkan makanan yang seharusnya dikonsumsi siswa diduga dihinggapi ulat, sehingga memunculkan kekhawatiran terkait kualitas makanan dalam program tersebut.
"Sudah dua kali berturut-turut ini menu ada belatungnya. Yang bersangkutan (pihak SPPG) harus bertanggungjawab," kata wali murid seperti dilihat detikJatim di media sosial, Sabtu (7/3/2026).
2. Temuan Terjadi Dua Hari Berturut-turut
Keluhan terkait kualitas menu MBG ini ternyata tidak hanya terjadi sekali, sebab sebelumnya wali murid juga melaporkan adanya belatung pada menu puding stroberi yang dibagikan kepada siswa sehari sebelumnya. Hanya berselang satu hari, laporan baru kembali muncul terkait menu macaroni schotel yang didistribusikan oleh penyedia yang sama kepada sejumlah sekolah.
"Hanya terdapat 1 temuan pada satu kemasan macaroni diantara 2.319 porsi yang disediakan," pungkas Erik.
3. Satgas MBG Langsung Turun Tangan
Menanggapi laporan tersebut, Satgas MBG Kota Malang yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Malang Erik Setyo Santoso langsung melakukan pengecekan lapangan serta meminta klarifikasi dari pihak penyedia makanan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa tetap terjamin sekaligus mencegah kejadian serupa terulang.
"Kita berkoordinasi dengan korwil dan kepala SPPG yang merupakan instrumen dari BGN untuk lebih mengintensifkan lagi aspek jaminan kualitas dari setiap produk yang dihasilkan," kata Erik saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
4. SPPG Sebut Belatung Diduga Bukan dari Makanan
Pihak penyedia makanan menjelaskan bahwa proses pembuatan macaroni schotel telah dilakukan melalui dua tahap pengukusan sebagai upaya menjaga kebersihan serta kualitas makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Selain itu, mereka juga menyebut bahwa belatung yang ditemukan diduga tidak berasal dari makanan, melainkan berada di luar kemasan.
"Temuan tidak berasal dari dalam thinwall, tetapi di luar dan pengelola sudah menggunakan cara dua kali kukus. Kesimpulannya ulat (belatung) bukan berasal dari macaroni schotel," jelasnya.
5. Pemkot Malang Siapkan Evaluasi ke Pemerintah Pusat
Pemerintah Kota Malang menyatakan akan mengeluarkan rekomendasi resmi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk melakukan evaluasi terhadap SPPG yang diduga bermasalah dalam penyediaan makanan MBG. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar aman dan sesuai standar.
"Sanksi bukan dari kita, tapi langkah kita untuk mengevaluasi. Dan tentu kita juga sudah terus sampaikan ke sekolah-sekolah untuk berani menolak kalau ada makanan-makanan yang tidak layak seperti belatung, basi, dan lain sebagainya," ujar Ali saat dikonfirmasi, Sabtu (7/3/2026).
6. Pemkot dan DPRD Buka Kanal Aduan MBG
Selain melakukan evaluasi, Pemkot Malang juga membuka berbagai kanal pengaduan agar masyarakat lebih mudah melaporkan persoalan terkait menu MBG yang diterima siswa di sekolah. Langkah ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi wali murid atau pihak sekolah untuk menyampaikan keluhan tanpa rasa khawatir.
"Pada prinsipnya kami membuka diri 24 jam untuk aduan. Kalau memang dibutuhkan, kita bisa buka kanal aduan khusus," kata Amithya.
"Ini kan makanan yang dikonsumsi, bukan sesuatu yang hanya dipakai. Tujuan program ini baik, maka esensi baiknya juga harus benar-benar dijaga," pungkasnya.
Simak Video "Video: 107 Warga Tanjungsari Bogor Diduga Keracunan Mie Ayam MBG "
[Gambas:Video 20detik]
(irb/hil)
